Wednesday, November 11, 2009

Melihat Jeihan Melukis



Ayunan pertama melahirkan garis wajah Anne. Dan semua suara seolah surut. Yang bergerak hanya Jeihan mencipta garis-garisnya yang tegas. Detail-detail lalu muncul tak terduga: mata bolong (ciri khas lukisan Jeihan itu), hidung, garis kerudung, pakaian, kemudian bibir mungil berwarna merah. Pulasan warna-warna lalu menyusul. “Siapa namamu?” tanya Jeihan. “Anne,” jawab si model tersenyum. Jeihan, “Dobel ‘n’?” Anne, “Ya.” Dengan cat biru Jeihan merangkai nama itu. Juga, agak di kiri atas, di atas sapuan warna-warna, Jeihan menulis frasa ‘VIVA UNPAD’. Lalu, terakhir Jeihan menorehkan tandatangan dan tanggal hari itu di kanan bawah bidang kanvas.***

Thursday, October 22, 2009

Pendidikan Literasi di Ruangan 203



Oleh Wildan Nugraha

FREEDOM Writers, sebuah film populer remaja, cukup bagus dan praktis memerikan hal-hal seputar dunia literasi. Membincangkannya saya kira baik buat melihat perilaku membaca dan menulis yang teralami dengan serius tapi menyenangkan. Diangkat dari kisah nyata, Freedom Writers menceritakan pengalaman Erin Gruwell (diperankan Hilary Swank) dan murid-muridnya di SMA Woodrow Wilson, kota Long Beach, California, Amerika Serikat, pada 1990-an. Waktu itu di sana sedang terjadi kekerasan geng dan ketegangan rasial. Mudah menyulut keributan dengan isu perbedaan warna kulit.

Erin Gruwell seorang guru baru mata pelajaran bahasa dan sastra. Di Wilson itu kali pertamanya dia mengajar. Wajah menggelora dan sumringahnya di hari awal masuk kelas sontak berubah. Anak-anak didiknya ternyata bengal dan hampir pemberang semua, membandel dan melawan. Berkelompok sesuai warna kulitnya, si kulit hitam tidak mau akur dengan si kulit kuning atau dengan murid kulit hitam lainnya yang berbeda kelompok (geng), apalagi dengan siswa kulit putih tulen.

Kehidupan keras mereka di luar terbawa ke sekolah. Banyak yang hampir hanya mengerti bahasa dan perangai kasar: kata-kata makian, pelecehan dan kekerasan seksual, obat-obat terlarang, bergabung dengan kelompok geng tertentu dengan inisiasi pukul-pukulan sampai berdarah-darah, hingga letusan pistol dalam menyelesaikan masalah.

Semangat pendidikan literasi dalam film arahan sutradara Richard Lagravenese ini menjelas tatkala Erin Gruwell mengarahkan anak-anak didiknya menggauli teks dengan intensif tapi mesra, menyenangkan. Meski sulit dan berbusa-busa bagi Gruwell, teks lantas perlahan-lahan menjadi sesuatu yang terlibat dalam hidup mereka: anak-anak itu membaca dan kemudian menulis dengan sungguh-sungguh.

Diarahkan oleh lbu Gruwell untuk penasaran dengan holocaust dan sebuah geng bernama Nazi yang ternyata fasis dan amat sangat tidak humanis, mereka pun membaca Catatan Harian Anne Frank. Si ibu memang cerdik; terjadilah proses identifikasi. Mereka yang sudah jinak-jinak merpati itu pun lantas merasa sama dengan Anne Frank tengah menghadapi sebuah dunia yang menghimpit, mengancam, meneror dengan gilanya. Tapi seperti Anne, mereka jadi percaya diri untuk bisa terus hidup menatap masa depan yang cerah gara-gara membaca dan menulis.

Tentu saja tidak sesederhana itu. Yang menonton film keluaran 2006 ini mungkin bisa mengerti bagaimana segerombolan murid bengal jadi keranjingan menulis catatan harian. Kepada diary-nya masing-masing, mereka mengisahkan diri sendiri apa adanya. Tentang masa kecil yang kebanyakan penuh teror, keluarga yang berantakan kayak tembikar pecah, harapan yang seakan terus saja menjauh seperti batas cakrawala bila dikejar. Dan, pelan-pelan mereka lebih mengenali dan kemudian membentuk identitas diri sebagai manusia berkat, salah satunya, persentuhan dengan dunia literasi. Pelan-pelan, ada yang sadar untuk pulang ke rumah dan kembali tersenyum kepada ibunya setelah lama memilih tinggal di jalanan karena amarah; semacam polah rekonsiliasi. Ada yang diam-diam membuang pistolnya ke selokan. Ada yang tidak lagi mengagung-agungkan gengnya sendiri meski jadi dimusuhi. Dan di room 203 (nomor ruangan kelas mereka di Wilson), mereka menjadi sebuah “keluarga”. Di antara mereka tak ada yang tidak saling kenal satu dengan Iainnya.

Tertarik lebih jauh oleh wacana holocaust, mereka bersama-sama mengunjungi Museum Toleransi Simon Wiesenthal di New Port Beach. Di sana, mereka mendapatkan cerita sejarah yang mengenyangkan tentang bencana rasialisme. Tidak berhenti sampai di sana, lebih jauh Ibu Gruwell memfasilitasi murid-muridnya bertemu dengan orang-orang yang selamat dari kekejaman Nazi. Mereka yang sudah pada sepuh itu duduk-duduk di sebuah restoran mewah, membagikan pengalaman pahit di kamp-kamp konsentrasi yang sudah lalu dengan menawan kepada generasi yang lebih muda, yang diam-diam haus hal-hal mencerahkan.

Kemudian, diceritakan Ibu Gruwell menukar tugas mengulas buku Anne Frank dengan menulis surat ke Miep Gies--perempuan yang menolong keluarga Anne bersembunyi dari kejaran Nazi--yang masih hidup di Eropa. Lalu saking semangatnya, murid-murid room 203 pun keukeuh ingin mengundang Miep Gies berkunjung ke Wilson buat mengisi sebuah acara bincang santai. Didukung koran lokal yang menyebar kabar, mereka menggelar pelbagai acara untuk pengadaan dana: hari kuliner, bazar barang-barang, konser musik amal. Hal yang sangat luar biasa bila melihat mereka beberapa bulan sebelumnya antara satu dengan lainnya sangat saling sinis.

Sebuah kesadaran kolektif yang positif kita lihat telah terbangun dengan mantap. Di titik itu, peran mengonsumsi dan memproduksi teks sangat besar: (teks yang ternyata bukan hanya tulisan) lingkungan adalah teks, perang antargeng adalah teks, diri sendiri adalah teks, Anne Frank dan Miep Gies adalah teks; masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah teks yang senantiasa menunggu untuk dihidupkan, ditarungi, diwarna-warnikan. Dan dengan sebuah kesadaran baru, sekelompok pemuda sukses keluar dari lingkaran kekerasan yang banal dan rawan.***

(Esai ini versi yang sedikit berbeda dari yang termuat di Pikiran Rakyat, Kamis, 22 Oktober 2009)

Thursday, September 03, 2009

Perpustakaan di Belakang Gedung Merdeka



Oleh Wildan Nugraha

BARANGKALI di antara pembaca yang tinggal di Bandung masih ingat dengan sebuah perpustakaan di belakang Gedung Merdeka. Saya dulu waktu SMA cukup setia mengunjunginya. Tidak peduli berjalan kaki kalau uang bekal sudah habis. Dari Gardujati, sekitar dua puluh menit, saya berjalan ke arah timur melewati Alun-alun Bandung, lalu menyeberangi Sungai Cikapundung.

Perpustakaan itu merupakan Perpustakaan Daerah Jawa Barat. Satu perpustakaan umum yang dioperasikan dan didanai oleh pemerintah. Semula, Perpustakaan Daerah Jabar dibuka di Jln. Diponegoro, berdekatan dengan Kantor Gubernur. Sejak 1980, perpustakaan dipindahkan ke Jln. Cikapundung Timur 1, tepat di belakang Gedung Merdeka. Pada 1990, Pemprov Jabar membuka Badan Perpustakaan Daerah (Bapusda) Jabar di Jln. Soekarno-Hatta 629, agak ke pinggir kota sebelah timur.

Saya ingat, di perpustakaan Jln. Cikapundung Timur itu, saya membaca cerpen "Sepotong Senja untuk Pacarku" Seno Gumira Ajidarma. Dalam keheningan perpustakaan itu, saya menemukan keriuhan. Diceritakan, menyusul tokoh aku membolongi langit senja dengan pisau lipatnya, maka terdengar sirine polisi meraung-raung. Saat itulah seakan ruangan perpustakaan mendadak ramai. Kejar-kejaran mobil ala film Hollywood pun dimulai. Semua memburu tokoh aku yang mengantongi langit senja seukuran kartu pos, untuk dikirimkan kepada kekasihnya Alina. Ternyata, di dalam keheningan saya bisa menemukan juga banyak kegaduhan.

Ya, di perpustakaan itu saya asyik membaca buku, membangun imajinasi lewat bacaan. Mungkin saya mulai termakan ungkapan buku adalah jendela dunia. Lewat buku saya bisa melongok banyak tempat yang tidak secara langsung kukunjungi. Belakangan saya mengumpulkan buku-buku memoar perjalanan. Salah satunya dua jilid buku Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan (Insist, 2005 & 2008). Esai pengantar Puthut E.A. pada jilid I mengutip percakapan Ghoose dan Ashoke dalam novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri. Kata Ghoose, "Selagi muda melangkahlah ke mana pun sesuka hati. Sebelum terlambat. Jangan terlalu banyak berpikir terlebih dahulu, segeralah kemas bantal dan selimut, lalu lihatlah dunia seluas mungkin yang dapat kau capai. Engkau takkan menyesal. Suatu hari itu akan terlambat." Lantas Ashoke menjawab, "Kakekku selalu mengatakan bahwa hal itulah fungsi sebuah buku. Untuk berpergian tanpa beranjak sedikit pun."

Akan tetapi, berbicara soal "berpergian", di perpustakaan itu saya ingat pernah tercengang-cengang membaca cerpen Putu Wijaya. Judulnya "Tempe" dalam buku Yel (Putaka Firdaus, 1995) yang tebal itu. Ceritanya, seorang penjual tempe ingin berhenti berjualan tempe dan ingin berjalan-jalan keliling Indonesia, tapi pelanggannya protes semua. Sampai-sampai didatangkan dua profesor dari luar negeri. Mereka memuji tempe sebagai makanan sehat dan murah. Lalu tukang tempe itu diangkat sebagai pahlawan. Dielu-elukan demikian tukang tempe menjadi sewot. Dia kemudian kabur ke tempat baru tanpa jejak. Di sana dia kembali berjualan tempe.

Saya ragu apakah harus ngakak atau bengong saja membaca ending cerita itu. Tapi, rasanya sayang bila membaca cerpen itu hanya buat tertawa atau tercenung. Dia bukan semata soal seorang tukang tempe atau soal tempenya. Bukan sekadar tentang seseorang yang mungkin merasa terjajah dan ingin merdeka lalu berlibur. Bila ternyata soal mental tempe yang dibicarakan Putu Wijaya, saya kebingungan siapakah sebenarnya yang bermental tempe. Bila bukan sedang di ruang publik, mungkin saya akan menaruh kaki di atas meja, merayakan rasa girang yang aneh dengan cara yang aneh pula. Berteriak takzim di sebuah perpustakaan, "Saya akan berhenti membaca buku!"

Tidak semua buku saya baca. Saya bukan pembaca yang rajin sebenarnya. Saya pun jarang membaca tamat sebuah buku dengan cepat. Di perpustakaan itu, saya melihat Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Minatku surut saat membaca tulisan di cover bukunya, Novel Sejarah. Dulu kupikir, apa hubungannya cerita fiksi yang rekaan dengan kisah sejarah yang faktual.

Saya jadi ingat sebuah paragraf pada pengantar buku-buku sastra terbitan Yayasan Obor Indonesia awal tahun 1990-an. "Sastra yang baik," kata paragraf itu, "selalu merupakan cermin sebuah masyarakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah. Akan tetapi, sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan masyarakatnya."

Saat kemudian saya membaca Pramoedya, hubungan antarbanyak hal yang mungkin ditawarkan para pengarang macam dia berangsur terang di benakku. Salah satu novel dapat membantu orang memahami lebih utuh realitas sejarah dan itu bukan hanya atau untuk saat tertentu saja.

Bila suntuk dengan buku-buku sastra, saya suka meraih buku-buku komik. Seperti mungkin banyak remaja seumuranku, dulu saya gandrung dengan Asterix, Tintin, Lucky Luck, atau komik-komik Jepang: Dragon Ball, Kungfu Boy, termasuk Doraemon karya Fujiko F. Fujio. Saya menertawakan Nobita Nobi dalam hati. Ini anak cengeng mimpinya suka aneh-aneh. Lalu Suneo Honekawa, si anak orang kaya, perangainya sombong. Takeshi Goda atau Giant galak dan brutal. Dia punya hobi terpendam, menyanyi. Dia akan memaksa kawan-kawannya mendengarkan dan telinga mereka menjadi sakit. Lalu, Shizuka Minamoto. Kalau sudah besar, pasti menikah dengan Nobita. Tapi toh mereka tidak pernah beranjak besar. Tetap anak-anak SD di Jepang yang suka dipinjami baling-baling bambu, senter pengecil, pintu ke mana saja, dan alat-alat ajaib lainnya oleh Doraemon, si robot kucing gendut yang punya kantung ajaib. Fujiko F. Fujio piawai sekali menggabungkan dunia imajinasi anak dengan dunia nyata.

Bosan membumbungkan benak dengan fiksi, kadang saya melangkah ke depan rak buku-buku keagamaan. Dari koleksi buku-buku agama, saya suka membaca seri kisah hikmah yang diterbitkan Mizan atau Rosda. Satu yang membekas dalam ingatan saya adalah tentang seseorang di Mekah yang sering meludahi Nabi Muhammad bila Nabi berangkat ke masjid. Tatkala si peludah itu sakit, Nabi Muhammadlah yang pertama menjenguknya. Orang itu terkaget-kaget dan berkata bahwa bahkan sebelum orang yang menyuruhnya meludahi Nabi Muhammad menjenguk, justru Nabilah yang datang.

**

PERPUSTAKAAN tutup pukul empat sore. Mendengar bunyi bel tanda waktu berkunjung sudah habis, kadang saya jengkel juga. Entahlah, membaca di tempat itu memang berbeda. Ada sesuatu yang tidak tergantikan. Aroma khas yang meruap dari buku-buku itu. Derit kursi yang digeser. Ruangan Referensi yang lebih hening dari ruangan lain. Ibu-ibu petugas perpustakaan yang kadang suka mengobrol dengan berbisik-bisik, lalu tertawa tiba-tiba. Beberapa kenalan baru yang ajaibnya hanya bertemu di tempat itu. Juga, kebiasaanku melihat-lihat taman di belakang Gedung Merdeka dari jendela lantai dua. Dari ruangan yang penuh buku, taman yang hanya kelihatan sepotong itu rasanya begitu indah. Kadang suka ada siswa-siswi SMA yang melintas. Entah datang dari mana dan sedang apa mereka. Mungkin latihan menyanyi atau menari sebab sayup-sayup terdengar bunyi-bunyian merdu.

Pada awal 2005 saya seperti kehilangan barang berharga tatkala perpustakaan itu ditutup. Saat menyusun tulisan ini, saya terkenang juga kepada cerpen Putu Wijaya yang kusebut di atas. Seolah memang ada hubungannya—meski begitu samar dan tak tegas—antara perasaan kehilanganku atas perpustakaan itu dengan cerpen tersebut. Seolah saya hendak menganggap perpustakaan itu tidak lain sebagai sang penjual tempe, dan posisiku ada pada para pelanggannya. Lagi-lagi, saya berpikir siapakah sebenarnya yang bermental tempe.

Waktu itu pada April 2005, berlangsung peringatan lima puluh tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung. Mungkin saking besar dan pentingnya acara itu, perpustakaan di belakang Gedung Merdeka pun dialihfungsikan. Di depannya dipasang papan baru bertuliskan: "Sekretariat Panitia Persiapan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika." Lepas April 2005, perpustakaan itu tidak pernah buka lagi, dan hingga kini tulisan di depannya menjadi: "Sekretariat Pengelola Gedung Merdeka."

Kabarnya, seluruh inventaris dan koleksi buku diangkut ke Bapusda Jln. Soekarno-Hatta 629. Gedungnya memang lebih besar, seperti kubilang di awal, tapi suasananya gersang. Sedikit pohon rindang tumbuh di sana, lain dengan perpustakaan di belakang Gedung Merdeka. Selain terletak di kawasan yang banyak pohon besarnya, mukanya menghadap langsung ke Sungai Cikapundung. Kalau dulu sebelum pulang saya duduk makan bakso di halaman dan kebetulan jalan di depannya sedang lengang, terdengarlah suara sungai. Sekarang, kalau melewati gedung itu, saya suka berlama-lama.***

Wildan Nugraha
Bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung

(Esai ini dimuat Pikiran Rakyat, 8 Juni 2009)

Thursday, August 27, 2009

Facebook dalam Cerpen



Oleh Wildan Nugraha

KEBERADAAN situs-situs jejaring pertemanan, seperti Friendster, Facebook, dan Twitter, kini semakin populer saja. Banyak penulis cerita mulai menanggapi fenomena kontemporer ini. Salah satunya Sofie Dewayani lewat cerpen berjudul “Bangku Belakang”, yang beberapa waktu lalu dimuat sebuah harian terbitan ibu kota.

Dikisahkan, tokoh Sam belakangan betah duduk di bangku warnet. Dia menemukan kembali kawan-kawan SMA-nya lewat situs Facebook: Harno kini bekerja di perusahaan penerbangan, Bambi sudah menjadi bos, Kardiman sekarang tinggal di Jerman. Semua memajang foto-foto bagus mereka, mengirimkan kabar-kabar bahagia. Mendapati kawan-kawannya yang tampak bernasib lebih bagus, Sam hanya menyeletuk sekadarnya dan lebih banyak menyaksikan saja. Sofie membangun tokoh Sam cenderung pendiam, yang dulu di SMA-nya pun jarang terlihat. Bangku duduknya di kelas adalah bangku paling belakang.

Tokoh sentral lain dalam “Bangku Belakang” adalah Tino, sang ketua kelas sewaktu SMA, kawan karib Sam. Tino keras kepala dan keras hati. Lulus SMA, Tino gagal masuk universitas idaman, lalu berpindah dari kota ke kota. Sejak tiga tahun belakangan, di kota mereka itu (secara tersirat: Jakarta), Sam dan Tino bertemu kembali. Tino membuka bengkel sepeda kecil-kecilan, sementara Sam membuka kios majalah di dekatnya. Berbeda dengan Sam, Tino menganggap berselancar di dunia maya, berkontak dengan kawan-kawan lama lewat Facebook, hanya menghabiskan waktu.

Pekerjaan wiraswasta kecil-kecilan Sam dan Tino memang sangat signifikan dalam “Bangku Belakang”. Hal ini menggambarkan kelas sosial Sam dan Tino, yang kemudian dikontraskan Sofie dengan kelas sosial kawan-kawan lama mereka yang muncul di Facebook. Perkara kontras kelas sosial ini di benak Sam dan Tino sebenarnya lebih menjadi masalah psikologis pada umumnya, seperti soal inferioritas. Akan tetapi, perkara problematis ini menjadi khas karena realitas virtual (yang diwakili Facebook) menjadi faktor yang determinan.

Muncullah kemudian rencana reuni bertempat di sebuah restoran mewah. Perasaan minder Sam terhadap kawan-kawannya, diam-diam telah berubah. Acara reuni bagi Sam menjadi kesempatan berharga agar bisa “terlihat”, meski mungkin buat sekali itu saja. Maka, agar mulus tentu bagusnya Tino tidak turut. Lagi pula, Sam ragu Tino tertarik. Dalam benaknya: “... Tino yang teguh pendirian, juga makin keras kepala ... Aku urung memberitahunya tentang rencana reuni SMA minggu depan. Tak mungkin dia mau datang. Kurahasiakan keputusan yang barusan kuniatkan: aku akan datang. Aku bosan tak terlihat. Aku bosan duduk di bangku belakang.”

Karena ingin “terlihat” itu, Sam meminjam mobil Kijang pamannya. Bahkan, sepatu kulit pamannya yang ukurannya kekecilan buat Sam dipakai juga. Dan, di hadapan kawan-kawannya, sambil mematut-matut lidah mencecap rasa asing pad thai dan tom yam, Sam membual bahwa istrinya (seorang penjahit rumahan yang sesekali menerima orderan dari tetangga) tidak ikut sebab sedang dinas ke Singapura. Sebelum pulang, Sam sempat menawarkan membayar semua tagihan di restoran. Tentu saja itu basa-basi semata, setelah Sam memperhitungkan bahwa kawannya Bian—yang sedang jadi kandidat pilkada—tentu akan memenangkan perdebatan soal pembayaran tagihan.

Hipermodernisme

Dalam sebuah esainya yang memerikan “petaka” hipermodernisme, Haryatmoko (2009) menulis bahwa istilah hipermodern tidak bisa lepas dari pengertian modern, tetapi tekanan lebih pada eksesnya, dan kata depan “hiper” mengacu ke makna “berlebihan” atau “terlalu”. Tentu saja definisi itu tidak mencukupi. Untuk memahami konsep hipermodern perlu menempatkannya di dalam konteks sejarah kelanjutan pemikiran modern dan sekaligus dalam kerangka membedakan dari istilah postmodern.

Saya menggarisbawahi beberapa hal, di antaranya dari tulisan Haryatmoko, yang lebih kurang membantu pembacaan atas “Bangku Belakang” Sofie Dewayani. Misalnya, tulis Haryatmoko, pribadi hipermodern sangat individualistik, masuk dalam putaran globalisasi ekonomi, semakin didominasi oleh hukum pasar dan dikondisikan oleh waktu yang semakin cepat dan padat. Maka kecenderungannya adalah mencari kepuasan langsung dan menyingkirkan pembatas-pembatas, entah norma kolektif atau tujuan bersama. Makna disekat menjadi makna sekarang dan di sini (hic et nunc). Acuan bersama tidak ditemukan lagi, kecuali risiko yang harus ditanggung bersama. Perubahan itu akhirnya mempengaruhi psikologi kolektif bawah sadar.

Revolusi teknologi informasi dan soal modernisme dengan segala janjinya tentang kemajuan, rasionalitas, dan kebahagiaan, di dalam “Bangku Belakang” mengarah kepada dehumanisasi yang kompleks. Sebab, modernisme sudah teradikalisasi dan menjadi “hiper”: Sam seolah tersihir oleh segala citra yang nyaris tanpa cela di layar komputer (realitas virtual). Dia lalu iri dengan segala “kenyataan” itu dan ingin menjadi bagiannya, meski harus menipu diri sendiri.

Kompleksitas cerpen ini menemukan daya pikatnya tatkala reuni berlangsung. Perjumpaan demi perjumpaan secara virtual lewat Facebook kini menjadi lengkap (baur) oleh perjumpaan yang riil di restoran mewah itu. Dan memang menarik bahwa di situlah justru Sam menanggalkan kesejatian dirinya karena bosan tidak terlihat: dia membual bukan di dunia virtual, tapi di pertemuan nyata. Saya sebagai pembaca mendapati Sam berpolah dingin, lugu, getir, yang haruslah tidak mengenakkan, tapi secara bersamaan Sam ternyata bisa menikmatinya seolah tanpa resah dan rikuh.

Sam pun menjadi tokoh yang termarjinalisasi dan teralienasi. Dia dikepung oleh sebuah realitas yang tidak pernah tetap dan selalu asing berkat kebaruan demi kebaruannya. Di sana, objek-objek tanpa ampun berhamburan tidak berhenti dari layar komputer. Pelbagai pajangan tanda, kode, simbol, imaji, dan banyak lagi yang dijejalkan manusia dari banyak tempat setiap detiknya itu, bisa saja kering akan sensitivitas kemanusiaan, sebenarnya. Semua itu demi citra yang hendak dibentuk.

Logika mode

Menurut Haryatmoko, zaman ini manusia sangat terobsesi oleh kehendak untuk mengungkapkan identitas khasnya. Ini merupakan suatu bentuk perayaan budaya bagi identitas diri. Meminjam pemikiran Sebastien Charles (2004), Haryatmoko melihat dua nilai logika mode: pertama, mode memungkinkan untuk mendiskualifikasi yang lalu dan memberi penghargaan terhadap yang baru. Yang baru itu indah. Ekstase karena selalu baru menggantikan harapan akan masa depan. Kedua, mode memungkinkan untuk afirmasi individu berhadapan dengan kolektivitas karena selera merupakan ungkapan khas seseorang dan tempat merajanya semua hal yang lewat-sekejap.

Obsesi manusia hipermodern dengan logika mode—yang kemudian dikaitkan Haryatmoko dengan merajanya budaya hedonis—memang mudah ditumpahkan salah satunya kepada situs-situs semacam Facebook dan sebangsanya (dan entah kelak apa lagi) di dunia maya.

Bandung, 25 Juli 2009

(Esai ini dimuat Sabili, Agustus 2009)

Tuesday, August 11, 2009

Selamat Jalan, Bunga Rumput: Tentang Cerpen Seorang Kawan



Oleh Wildan Nugraha

Maka rasanya ada yang kian menggumpal setiap saya menghadapi cerpen itu. Cerita pendek yang sungguh jadi amat panjang buat dibaca. Ia berbicara tentang sebuah keniscayaan yang bakal tiba pada setiap yang bernyawa. Ia berbicara tentang sebuah kepastian yang takkan bisa diperlama atau dipercepat kehadirannya. Ia berbicara tentang maut dengan cara yang indah. Ia, sang bunga rumput, setelah lepas dari keterbelengguan, lepas dari kuntumnya oleh sang angin, merasa begitu bebas dan merdeka, berputar, meliuk bersama angin yang membawanya menari.

Itu setelah lewat sebuah kurun ketika hadir teriakan tiba-tiba itu: “Ajari aku! Ajari aku untuk hidup. Walau setelah kematianku.” Meski dalam isak dan pilu, sebuah semangat sontak melesat menukar keraguan. Sang bunga rumput tahu waktu berangkat tiba tak lama lagi. Dan ternyata hanya sedikit yang ia ketahui tentang tempat tujuannya nanti. Ia, bersemangatkan kerinduan yang menjadi, seiring surut sedih dan sangsinya, mulai lebih lekat mengakrabi sang angin.

Ia, sang bunga rumput, barangkali merujuk saya, manusia. Makhluk yang konon diciptakan memang dalam lena, mengira mudah letih atau banyak lagi. Seperti sang bunga rumput, saya merasa kerasan dengan yang sementara: jasad dan materi, kesenangan atau selainnya. Meski itu semua lantas membuat saya banyak berhitung, berbelenggu. Sebab bayangan keabadian itu ternyata fana membentur sang maut. Ya, maka sang bunga rumput sudah iri sedari awal terhadap sang angin yang bebas: “Kau tentu sudah mengunjungi banyak tempat. Pasti sangat menyenangkan menjadi dirimu yang bisa bergerak bebas ke sana kemari. Kadang aku iri dan ingin merasakan kebebasan itu. Aku tumbuh di tempat yang luas dan seluruh keperluanku tercukupi. Tapi rasanya aku pun ingin mengunjungi tempat-tempat jauh yang kau ceritakan.”

Itulah. Kerinduan itu pun dengan wajarnya dibayangi keengganan. Tarik-menarik yang agaknya menjadi khas saya. Tarik-menarik antara optimisme dan pesimisme. Tarik menarik yang alot antara melepas dan menangkap, untuk mempertahankan bahkan yang telah rapuh dan meluruh. Dan bagi sang bunga rumput, dalam tarik-menarik itu ada yang dibuat menunggu.

“Dan kini kau berdiri tanpa kelopak yang dulu kau banggakan karena mereka begitu cantik. Sekarang kuntummu dipenuhi benang-benang sari yang rapuh. Kapan pun kau katakan siap, kau bisa terbang bersamaku keliling dunia kini. Hanya saja kau harus menyadari satu hal. Kau takkan bisa kembali ke tempat ini. Tubuhmu akan tercerai-berai karena kau menjadi sekumpulan benang sari. Dan kelak mereka akan memiliki jiwanya masing-masing. Setiap jiwa itu akan mencari takdirnya sendiri-sendiri. [...] Mungkin di suatu tempat di dalam hutan. Mungkin di sebuah oasis di tengah gurun pasir yang terik menyengat. Atau di tepi sebuah sungai yang menghanyutkan. Sekarang kau akan benar-benar terbang bersamaku. Apa kau bersedia?”

Cerpen itu berbicara tentang psikologi kematian. Mengenai tarik-menarik dalam ketakutan laten khas saya yang pada waktunya disandarkan kepada terma keabadian tentang “kampung (akhirat) yang sebenar-benarnya, sebaik-baiknya tempat para muttaqin” (Q.S. 16: 30). Maka, sang narator mematangkan sebuah sugesti saat mengalurkan ceritanya: optimisme dalam bingkai religiositas, menanggalkan pesimisme yang egoistik dan nihilistik. Bahwa kehidupan di kampung akhirat yang di luar nalar pandak itu telah menunggu. Sebuah tempat yang mungkin tanpa pagar, yang memang hanya sedikit diketahui. Seperti sebuah misteri keabadian. Seperti sebuah narasi asketik di balik fenomena kematian yang sebenarnya dekat dalam keseharian saya, manusia.

Begitulah. Ahad, 3 Mei 2009, cerpen “Angin dan Bunga Rumput” muncul di sebuah harian di kota kami. Sebuah cerita pendek yang sungguh buat saya jadi amat panjang dibaca. Rinrin Migristine, penulisnya, seorang kawan, justru tidak sempat membacanya. Rinrin, yang bertahun-tahun sudah aktif mengelola buletin Bina Ginjal, sebuah media komunikasi bagi, sebagaimana juga dia, para pasien gagal ginjal di kota-kota di Indonesia, pada dini hari Ahad itu, meninggal dunia.***

Catatan:

“Angin dan Bunga Rumput” Rinrin Migristine dimuat Tribun Jabar, Ahad, 3 Mei 2009.

(Esai ini dimuat majalah Sabili, Juni 2009)

Saturday, June 27, 2009

“Cincin”, Kisah Sufi, dan Dongeng Modern



Oleh Wildan Nugraha

Elka edisi 5 Th XVI, 18 September 2008, memuat cerpen Iggoy el Fitra berjudul “Cincin”. Cerpen tersebut tampak menarik untuk dibincangkan. “Cincin”, saya pikir, sudah cukup selesai dengan tuntutan kebernasan sebuah cerpen pada umumnya, yakni padat dalam keringkasannya, namun tanpa kehilangan daya jangkaunya yang luas dalam menjelajah soal-soal kehidupan.

Diceritakan, suatu hari seorang lelaki gelandangan bernama Subir yang hidup sebatang kara mendapatkan sebuah cincin dari reruntuhan rumah yang habis terbakar. Semenjak itu, seseorang berjubah hitam bertopi koboi mengikuti Subir ke mana pun dia pergi. Keberadaan sosok misterius itu hanya dapat dilihat oleh Subir.

Sosok berjubah hitam bertopi koboi itu mengaku kepada Subir sebagai malaikat dari cincin yang kini dipakai Subir. Dia menjelaskan bahwa dia diutus untuk memperbaiki nasib Subir. Satu syaratnya, kata sosok itu kepada Subir, yakni Subir harus berusaha sendiri. Sosok itu hanya akan memberi saran dan nasihat saja. Mereka sepakat. Saran pertama segera muncul: Subir dipersilakan mencuri sepotong celana jins di jemuran orang. Besoknya, Subir mengutil di toko. Dia pulang dengan membawa banyak barang dalam gerobaknya.

Akan tetapi, ternyata orang-orang sekitar mencurigai Subir. Mereka memergoki Subir dengan barang-barang curian di gubuknya. Subir meminta bantuan sosok misterius yang mengaku malaikat itu sambil mengancam menanggalkan cincinnya. Digertak demikian, akhirnya sosok itu bertindak: Subir bisa menghilang dari tempat itu, lolos dari sergapan orang-orang. Mereka berdua sekejap tiba di pinggir jalan.

Di pinggir jalan itu, mereka berdebat. Sosok berjubah meminta Subir jangan pernah sekali pun melepas cincin itu, jika tidak ingin celaka. Kesadaran Subir mulai muncul. Dia merasa tergantung kepada sosok itu. Akhirnya sosok itu mempersilakan Subir mencopot cincinnya. Sebagai gantinya, sosok itu memberikan sebuah kunci. Dia lalu menunjuk sebuah sepeda motor. Kini Subir merasa tertantang. Dia ingin membuktikan bahwa tanpa bantuan cincinnya, dia bisa aman-aman saja melarikan sepeda motor itu. Tapi malang buat Subir, dia ngebut lalu tabrakan.

Seorang pemuda baik hati kemudian menghampirinya, membantunya. Tidak ada orang lain di situ. Dia lalu menggendong Subir yang terluka parah, hendak membawanya ke rumah sakit. Tetapi, pemuda itu menghentikan langkahnya. Diletakkannya sebentar tubuh Subir. Ada cincin yang berkilat di dekatnya. Pemuda itu kemudian memungutnya dan memasang cincin itu di jari manisnya. Serentak, perangai baik si pemuda berubah. Dia merogoh saku celana Subir. Kesal tidak menemukan apa-apa, diambilnya sebuah batu besar dan dihantamlah kepala Subir. Iggoy pun kemudian pendek saja memungkas ceritanya dengan kalimat: Seseorang berjubah tertawa di sampingnya.

Membaca “Cincin”, saya teringat sebuah cerpen Ahmad Tohari, “Pengemis dan Shalawat Badar”, dalam kumpulan Senyum Karyamin (Gramedia, 1989). Cerpen tersebut menceritakan pengalaman aneh tokoh aku saat hendak bepergian ke Jakarta menumpang bus. Di terminal Cirebon, bus berhenti sebentar. Di situlah seorang pengemis naik. Dia mengamen dengan ber-Shalawat Badar. Saat bus melaju kembali, pengemis itu ikut terbawa. Dia sempat adu mulut dengan kondektur. Di tengah jalan, tokoh aku tertidur dan bermimpi. Sebelum lelap, di telinga tokoh aku masih terdengar si pengemis terus menggumamkan Shalawat Badar.

Dalam mimpinya, tokoh aku melihat pengemis itu banyak sekali dengan rupa yang sama. Mereka berjumlah ribuan dan berbarengan membaca shalawat. Dalam mimpinya itu, terulang pikiran tokoh aku sebelum tidur tadi, bahwa mereka bisa menghapal teks shalawat itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-cemarah tentang kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat. Dan dari ceramah-ceramah seperti itu, mereka hanya memperoleh hapalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan tangan.

Kemudian, mimpi itu berbelok mengerikan. Guntur meledak dahsyat. Mayat-mayat berterbangan dan jatuh di sekeliling tokoh aku. Tokoh aku kemudian merasa takut dan berlari, namun sebuah batu tersandung dan tokoh aku terjatuh. Dia mendadak terbangun dan mendapati mulutnya berdarah. Rupanya bus yang ditumpangi mengalami kecelakaan, bertabrakan hebat dengan sebuah truk tangki. Tokoh aku terpelanting cukup jauh. Samar-samar tokoh aku kemudian menangkap sosok pengemis tadi keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikit pun. Dia lantas berjalan tenang ke arah timur sambil kembali melantunkan Shalawat Badar.

Dalam kata penutup kumpulan itu, Sapardi Djoko Damono mengomentari cerpen Tohari tersebut sebagai sebuah dongeng modern yang temanya universal namun tokoh dan latarnya memiliki akar dalam masyarakat kita. Keuniversalan tema itulah yang menyebabkan kita mungkin berpikir bahwa ada kemiripan antara cerita ini dengan kisah-kisah sufi, namun jika kita menghadapi tema yang universal sulit untuk berbicara mengenai keaslian. Dalam cerita ini, lanjut Sapardi, Tohari berhasil membatasi keinginannya untuk berkomentar—mengajar dan menilai; ia lebih banyak mendongeng dan pembaca dibiarkannya mengusut sendiri perlambang dalam dongengnya yang relatif sederhana itu.

Mengenai “Cincin”, saya rasa tidak jauh berbeda dengan cerpen Tohari tadi. Iggoy dan Tohari sama-sama mendongeng. Kesimpulan Sapardi mengenai cerpen Tohari tersebut adalah merupakan perlambangan kerinduan manusia akan penegasan hubungannya dengan Yang Mahakuasa, kerinduan kita akan perlindungan-Nya. Sementara dalam “Cincin” tampak muncul perkara kepolosan, kebodohan, dan ketergesa-gesaan manusia yang dilambangkan oleh Subir; juga tentang kelemahan hati dan jiwa manusia yang dilambangkan pemuda yang muncul terakhir. Semua itu bermuara pada sosok penggoda dan penipu yang dinisbatkan kepada benda duniawi berupa cincin.

Dongeng dalam artian tradisional adalah bentuk cerita dalam sastra lama yang digunakan sebagai sarana didaktis untuk menyampaikan berbagai nilai moral dan nilai kehidupan, khususnya kepada anak-anak. Dalam dongeng tidak dipersoalkan apakah suatu cerita realistis atau tidak, dan semua saja dalam alam dilibatkan dalam usaha untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut: seekor buaya, seekor kancil, seorang raja, atau seorang budak (Kleden, 2004).

Tidak ada buaya atau kancil dalam cerita Iggoy dan Tohari di atas. Tapi, kita dapat menamakannya juga semacam dongeng sebab cerita tampak harus berjalan saja, tanpa peduli apakah itu realistis atau tidak, logis atau tidak. Saat mendongeng, para pengarang dapat merekam masalah sosial dan kemanusiaan yang abadi seolah tanpa beban. Mereka pun pada gilirannya mampu menelorkan pelbagai cerita yang mengandung sesuatu untuk ditafsirkan lebih lanjut; baik itu berupa nilai moral atau nilai kehidupan yang bersifat didaktis, atau bahkan yang bersifat antididaktis, yang justru mempertanyakan, menguncang-guncang, meremehkan, atau menjungkirbalikkan nilai-nilai tersebut.

Bila dongeng lama pada umumnya memperlakukan pendengarnya sebagai anak kecil yang harus diantar tidur dengan cerita yang membuatnya lelap, dongeng baru (modern) bisa jadi justru sebaliknya: memperlakukan pembacanya sebagai orang dewasa yang harus senantiasa terjaga dan tidak terlena.

Bandung, 4 Maret 2009
(Sabili No. 21 Th. XVI 7 Mei 2009/12 Jumadil Awal 1430)

Membaca Optimisme dalam Ronggeng Dukuh Paruk



Oleh Wildan Nugraha

Salah satu buku yang paling berkesan buat saya adalah Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) karya Ahmad Tohari. Buku yang saya maksud adalah gabungan Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala dalam satu buku dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk (Gramedia, 2003).

Membaca novel ini, meski tema umumnya adalah tragedi kemanusiaan, saya justru membaca tentang optimisme di dalamnya. Terutama lewat tokoh Rasus di RDP, optimisme yang saya baca adalah optimisme hidup dengan memuliakan nilai-nilai esensial kemanusiaan.

Ahmad Tohari, sastrawan kelahiran Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948, menggambarkan Dukuh Paruk sebagai desa kecil berlatar waktu sekitar tahun 1965, di sebuah tempat di Jawa Tengah. Sebuah dukuh yang masih terisolasi, terbelakang, miskin, dan berkutat dengan tradisinya sendiri.

Srintil dan Rasus adalah tokoh utama dalam novel ini. Mereka diceritakan saling tertarik sejak remaja, tapi tidak sampai bersatu sebab terhalang oleh tradisi. Srintil yang berbakat menari dijadikan ronggeng di Dukuh Paruk dan ia pun menjadi milik masyarakat, sedangkan Rasus kemudian menjadi prajurit dan meninggalkan Dukuh Paruk.

Ahmad Tohari menampilkan tokoh Srintil sedikit demi sedikit, sehingga tampak perubahan dan perkembangan dirinya. Demikian pula Rasus tampil sebagai tokoh yang pemikirannya tumbuh dan berkembang sejalan dengan perjalanan hidup dan pengalamannya.

Kisah kasih tak sampai yang berliku dan berlaku atas kedua tokoh itu dari awal hingga akhirnya, saya kira banyak membuat pembacanya ikut nelangsa dan kemudian mengendapkan berbagai hal yang hendak disampaikan Ahmad Tohari, yakni tentang makna demokrasi, hak asasi manusia, kasih sayang, dan nilai-nilai luhur kehidupan.

Seorang Srintil yang kemudian dituduh komunis, sebab dimanfaatkan kebodohan dan keluguannya oleh orang-orang yang berkepentingan picik, tidak pernah mengetahui sepenuhnya tentang apa yang tengah berlaku pada zaman yang sedang bergejolak itu. Sampai di akhir kisah pun, ia masih harus menerima malapetaka, menjadi gila setelah dibentak kasar oleh Bajus, seorang lelaki penipu yang mengiming-imingi Srintil dengan harapan perbaikan hidup.

Perlakuan dan perkataan kasar itu menyinggung pengalaman traumatisnya saat harus mendekam di rumah tahanan sebagai korban kemelut politik. Dalam dua alinea agak ke penghujung novel itu, Ahmad Tohari menggambarkan detik-detik dimana Srintil kehilangan kesadaran jiwanya. Sebuah penggambaran yang sangat dramatis, tidak terlupakan, getir sekaligus menyentuh, mengundang simpati kemanusiaan.

Kemudian, pada novel ini Ahmad Tohari menggambarkan simbol kebodohan manusia pada tokoh Nyai Kartareja, perempuan yang mengasuh Srintil sejak kecil untuk dijadikan ronggeng. Kebodohan tersebut, seperti pernah diulas Yudiono KS (2003), adalah kebodohan dalam memahami kehidupan batin individu dalam konteks perubahan dan dinamika sosial yang telah menjungkirbalikkan nilai-nilai kemanusiaan. Nyai Kartareja hanya mampu memandang orang secara lahiriah, bahkan hanya sebatas kepentingan ekonominya sendiri berdasarkan tradisi keperempuanan ronggeng yang sisi gelapnya nyaris tidak berbeda dengan pelacur.

Lantas tentang Rasus; berkat pengalamannya sebagai tentara yang sempat melangkah jauh ke luar wilayah Dukuh Paruk, emosi dan kesadarannya pun pada akhirnya tergugah untuk mengentaskan keterpurukan masyarakat dukuhnya sendiri. Ketokohan Rasus sepertinya dijadikan Ahmad Tohari sebagai model kesadaran bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu tidak dapat diharapkan berkembang dengan baik di tengah masyarakat yang miskin dan bodoh. Dengan kata lain, pemahaman terhadap hak asasi manusia boleh diharapkan berkembang baik di tengah masyarakat yang berpendidikan.

Secara psikologis, sebuah karya sastra pada dasarnya menawarkan atau mengarahkan kepada pembacanya sebuah proses identifikasi. Proses ini boleh jadi berlangsung sangat personal dan subjektif. Untuk itu saya setuju bahwa sebuah buku dapat memengaruhi hidup seseorang. Meski mungkin hal itu berlaku tidak langsung dan dengan serta merta. Dalam RDP, bagi saya pengidentifikasian dan pengaruh itu mengarah kepada optimisme hidup dengan memuliakan nilai-nilai esensial kemanusiaan.***

(Sabili No. 17 Th. XVI 12 Maret 2009/15 Rabiul Awal 1430)

Sunday, June 14, 2009

Sesuatu yang Mengusik Indahnya Ukhuwah Kita

>>>Iwan Septiantoro Khaeron

"... Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali." (Huud: 88)

Astaghfirullahal 'adzim....
Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa yang telah diperbuat.

Sengaja saya kutip sebuah ayat dari Kalam Rabb Yang Masasuci, semoga menjadi awal yang baik dalam memperbaiki atau pun meng-upgrade ukhuwah di antara kita. Dan semoga Allah tetap menjaga qalbu ini agar tidak terjerumus pada lembah kehinaan, agar tidak terjerembab dalam lembah kemunafikan.

Beberapa tahun berjuang bersama dalam satu organisasi, tentu, sedikit atau banyak, dari masing-masing kita telah mengetahui karakter dari yang lainnya. Ada tangisan yang menetes dalam jalinan ukhuwah kita, ada canda tawa yang selalu menambah keakraban kita, dan ada emosi yang terlanjur mengusik indahnya persaudaraan sesama muslim di antara kita. Dari semua yang terjadi, antum tentu bisa mengetahui sifat masing-masing dari diri kita.

Beberapa tahun sudah.... Hm, tidak terasa, bukan? Mungkin karena begitu indahnya jalinan ukhuwah kita. Sehingga kita mengalami depersonalisasi waktu. Seolah-olah begitu sebentar. Sepertinya baru kemarin kita bertemu dan masih sama-sama canggung untuk memulai obrolan. Tapi, sebuah obrolan ringan dan penuh basa-basi itu kemudian menjalar dan mulai bertransformasi menjadi candaan atau gurauan yang mencairkan suasana. Kita pun akhirnya menjadi nyaman untuk mulai membicarakan semua hal: keluarga, sahabat, pelajaran, planning kegiatan, bahkan satu hal yang begitu hangat: cinta. Ya, cinta. Obrolan tentang cinta yang dibalut dalam untaian kata-kata curhat, sepertinya begitu efektif untuk lebih mengakrabkan kita. Betul, kan? Tak usah menyangkal!

Sudah sekian tahun, Kawan. Kita sekarang seolah saling memiliki. Ada sesuatu yang ganjil, jika salah satu di antara kita menghilang. "Kemana si fulan(ah)? Sakitkah dirinya?" Atau jika ada sesuatu yang aneh dalam perubahan sikap diri kita, kemudian ada yang bertanya, "Ada apa dengan dirinya? Apa sedang dalam masalah? " Hm, ternyata kita sudah saling mengkhawatirkan, ya? Mulai memikirkan satu sama lainnya. Kita pun kemudian bersama-sama menjenguk si sakit. Kita pun juga akhirnya mulai mencari solusi atas masalah yang terjadi. Begitu indahnya ukhuwah kita, bukan?

"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam tahun-tahun yang telah kita lewati bersama, tentu ada percikan api yang menyala, dan membakar hati kita. Percikan itu yang akhirnya merenggangkan tali ukhuwah kita. Bahkan, saat percikan api emosi itu telah padam, hati-hati yang telah terbakar, tetap meninggalkan bekas hitam. Itu yang membuat kita kembali canggung.

"Aku belajar sesuatu. Kita akan tahu sifat seseorang bila kita sudah pernah bertengkar dengannya. Pada saat itulah kita bisa menilai sifat asli seseorang." (Dari Catatan Harian Anne Frank, 28 September 1994).

Kawan, "... Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Jika memang diri ini terlanjur membuat salah, entah yang disengaja atau pun tidak disengaja, entah yang nampak ataupun yang tersembunyi, maafkanlah saudaramu ini. Meski paku yang telah tertancap itu akan meninggalkan lubang pada kayu. Tapi, demi ukhuwah kita, maafkanlah kesalahan diri ini.

Kamar berdetak, 11 Juni 2009
Untuk semua orang yang merasa pernah terzalimi oleh diri ini
IWAN SEPTIANTORO KHAERON

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
http://www.facebook.com/reqs.php#/note.php?note_id=115134560990

forum kamisan & bengkel menulis flp bandung juni 2009




>>KAMISAN FLP BANDUNG JUNI 2009

4 Juni: Bincang Buku Seeking Truth Finding Islam (karya Anwar Holid) bersama Jaka Arya Pradana
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

11 Juni: Bincang Novel Max Havelaar (karya Multatuli) bersama Sugeng Praptono
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

18 Juni: Bincang Novel Di Bawah Lindungan Kaabah & Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (karya Buya Hamka) bersama Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

25 Juni: Apa Itu Hermeneutika bersama Topik Mulyana
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

>>BENGKEL MENULIS FLP BANDUNG JUNI 2009

7 Juni: Menulis puisi bersama Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

14 Juni: Menulis esai bersama Sri Al Hidayati
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

28 Juni: Menulis cerpen bersama Elan Suherlan
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

>>Informasi:
Dedi 08982292287
Ade 08996943194
Wildan 02292464249

------------------------------------
klik laman dekranasda jabar
http://www.dekranasjabar.com/