Tuesday, July 16, 2013

Sore di kota bergerak memelan

Foto oleh @alitystation

Sore di kota bergerak memelan. Matahari meredup jatuh di atap-atap rumah. Di sungai-sungai yang terjepit terjegal dinding-dinding warna debu. Menata jeda pada langkah-langkah kemarin dan esok yang tak berkesudah. Yang tak berkesudah.

Tuesday, November 20, 2012

PARA PENCARI


Oleh Wildan Nugraha

Randy, Hasan, dan Cikal. Tiga pemuda dengan latar belakang berlainan. Randy seorang aktivis dakwah kampus yang militan. Hasan seorang sosialis yang gelisah dalam pencarian. Dan Cikal, seorang selebritas, vokalis sebuah band yang sedang tersohor, namun menemukan titik kehampaan dalam pencapaiannya itu. Dalam jalinan kisah, ketiganya bertemu. Sebuah nama dalam sejarah pergerakan Islam menautkan mereka dengan caranya masing-masing. Nama itu Hasan Al-Banna.

Randy sangat mengagumi Hasan Al-Banna. Bahkan Randy lebih ingin menyebut namanya sendiri sebagai Randy Al-Banna ketimbang Randy Danujaya, nama pemberian orangtuanya. Dia suka membayangkan dirinya, seperti kerap dilakukan Hasan Al-Banna di Mesir semasa hidupnya, berdakwah di jalanan dari cafe ke cafe, menyeru umat agar lebih taat menjalankan Islam, menegakkan salat, dan senantiasa mengesakan-Nya.

Buku-buku yang merekam jejak pemikiran dan aktivisme Hasan Al-Banna telah dibacanya, baik yang ditulis sendiri oleh Hasan Al-Banna maupun yang ditulis oleh tokoh lain mengenainya. Tentang kehidupan pribadi tokoh perubahan itu. Tentang pendirian dan ketaatannya kepada Allah. Tentang kecendekiaannya. Tentang kegiatannya di Ikhwanul Muslimin, lembaga dakwah yang didirikan Hasan Al-Banna, yang pemikirannya kemudian merembet menyebar ke banyak negara di dunia.

Sementara Hasan, si sosialis yang gelisah, digambarkan sebagai tokoh yang sedang merekonstruksi sejarah hidupnya di masa lalu. Dia menemukan fakta tentang kematian ayahnya, seorang ulama muda di daerah pinggiran pantai, yakni akibat intrik bisnis orang-orang tamak; pun Hasan akhirnya tahu alasan mengapa sang ayah memberinya nama Hasan—lengkapnya Hasan Al-Banna—persis dengan nama seorang aktivis dakwah yang sangat berpengaruh di Mesir.

Dengan nama samaran “seseorang itu”, Hasan berbincang-bincang melalui chat room di Internet dengan Randy Al-Banna tentang Hasan Al-Banna. “Ana senang ada orang seperti antum yang mau mengenal lebih jauh tentang Hasan Al-Banna,” kata Randy (hlm. 283). Randy saat itu belum tahu nama asli dari seseorang itu. Dalam hal ini, tentu saja, tanpa mereka masing-masing sadari sepenuhnya, kalimat Randy punya banyak makna: Hasan Al-Banna yang dimaksud, selain merujuk pada ulama Mesir itu juga tidak lain ialah kepada namanya (kepada diri Hasan si gelisah itu) sendiri.

Tentang identitas

Salah satu hal yang dapat kita baca dari novel Sang Pemusar Gelombang karya M Irfan Hidayatullah (Salamadani, 2012) ini ialah pencarian (kembali) identitas atau fitrah manusia. Dalam Islam, disebutkan bahwa fitrah manusia ialah untuk beribadah kepada-Nya (QS 51: 56). Dengan perkataan lain, pada dasarnya semua manusia ialah cenderung kepada kebaikan, condong kepada Islam, berorientasi kepada Allah.

Namun demikian, pada saat bersamaan manusia memiliki sifat negatif, yakni kikir dan berkeluh kesah. Hal ini dapat kita baca pada QS 70:19-21. Tapi pada ayat-ayat berikutnya dalam surat Al-Ma’arij itu, Allah menyebutkan beberapa pengecualiannya, yakni antara lain mereka yang mengerjakan shalat dengan sungguh-sungguh, bersedekah, takut kepada Tuhannya, dan menjaga kemaluannya. Dalam surat lain di Al-Quran, Allah pun menegaskan bahwa manusia memang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati agar mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran (QS 103: 2-3).

Hal tersebut bisa kita maknai dalam penokohan yang dilakukan Irfan Hidayatullah atas tokoh-tokohnya: Randy, Hasan, dan Cikal. Mereka adalah para pencari—dan pencarian mereka (atas fitrah manusia) itu bukan tanpa rintangan. Keluarga Randy cenderung menganggap agama tidak terlalu penting meski mereka bukan keluarga sekular. Ini membuat Randy menjadi unik kalau bukan terasing di keluarga besarnya. Pada acara halal bihalal keluarga misalnya, kontras itu tergambar: berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain yang menjadikan ajang tahunan itu buat sarana pamer kesuksesan dlsb, Randy tampil sederhana saja, lebih banyak diam, saat bersalaman dengan para sepupunya yang perempuan tidak bersentuhan tangan.

Bapaknya tidak tahan tidak berkomentar, “Randy, kamu tahu pasti bahwa kali ini ada keanehan di keluarga besar Danujaya. Sebelumnya tak pernah ada yang amat aneh. Kita dilahirkan dari keluarga yang beragama dengan moderat. Kita beragama sesuai dengan keumuman masyarakat.” (hlm. 8).

Demikian pula dengan tokoh Cikal. Dia memilih berkonflik dengan kawan-kawan bandnya demi mencari jawaban atas kepenatannya, kegelisahannya, kehampaannya. Kawan-kawannya tidak bisa memahami alur pikiran sang bintang itu belakangan ini. Cikal berubah. Keberlimpahan materi, popularitas, sanjungan para fans tidak lagi memuaskannya. Malah semua itu berbalik menjadi tanda tanya yang menyiksa: inikah yang sesungguhnya kukejar selama ini?

Dan Cikal selalu merasa diikuti oleh bayangan Najwa dengan pesan-pesan spiritualitasnya. Cikal tergeragap dengan semua itu. Najwa: sosok yang dikaguminya di kampusnya dulu, sebelum Cikal memilih hengkang dari kuliah. Najwa: sosok muslimah yang taat, yang membuat Cikal merasa berjarak tapi sekaligus dekat dengannya. Najwa: kepadanya kemudian, di dalam kisah, Cikal jatuh hati.

Cikal menulis di catatan hariannya, “Kau kembali memperingatkanku. Aku hampir saja sadar saat itu. Ya, akulah si pemburu dunia dan sudah kudapatkan dunia itu, tapi pada saat yang bersamaan, dunia pun mendapatkanku. Aku digenggamnya. Aku tak bisa bernapas. Aku jadi tahanan. Suaraku adalah gaung yang tak berarti. Kau pun tak jua menjadi pendengar suara jiwa terkerangkeng ini. Tapi tidak hanya itu, aku ingin mencari orang yang mendengarku dengan jiwa, buka dengan telinga. Adakah kau ‘kan kutemukan lagi? Atau makhluk semacammu? Sungguh, aku tak temukan selainmu atau aku belum dipertemukan-Nya. Aku pesimis. Sungguh karena aku betul-betul tak bisa keluar dari penjara diriku dan duniaku.” (hlm. 112).

Dalam perkembangan kisah, tatkala Randy dan kawan-kawannya menggelar aksi Zaitun, aksi damai solidaritas untuk Palestina, Cikal akhirnya turut masuk ke dalam pusaran gelombang pergerakan itu. Cikal menyumbangkan kebolehannya menyanyi di atas panggung. Perlahan Cikal menemukan titik fitrahnya di hadapan Tuhannya.

Cahaya perubahan atau hidayah memang bagaimanapun harus diupayakan. Meski ia merupakan suatu misteri yang sepenuhnya bergantung kepada kehendak Allah. Perubahan yang hakiki ialah perubahan yang dimulai dari diri sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka,” demikian firman-Nya dalam QS 13: 11.

Saat cahaya Allah dilimpahkan kepada seseorang, tidak ada siapa pun dapat menampiknya. Sesuatu yang terang itu bahkan justru mencuri perhatian. Seperti misalnya dalam kisah seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang dalam kisah ini membuat kagum Hasan si sosialis. Yakni, tentang Hafidz, pemuda tukang kayu yang suatu saat mereparasi perabotan rumah Monsieur Salaunt, seorang pejabat Prancis di Mesir. Pada mulanya ia menolak bekerja karena ditawar harga terlalu rendah. Si monsieur marah-marah, tapi kemudian tahu bahwa harga yang ditawarkannya memang di bawah dari harga biasa. Salaunt pun kemudian menaikkan tawarannya, tapi Hafidz tidak segera menerimanya. Dia meminta syarat: orang Prancis itu harus meminta maaf dulu kepadanya.

Merasa berhadapan dengan orang kecil tak tahu diri, Salaunt marah-marah lagi. Tapi dia kemudian sadar sedang berhadapan dengan bukan orang sembarangan. Jika Salaunt tidak minta maaf, tukang kayu itu akan menulis surat ke kedutaan dan konsul Prancis, mengadukannya kepada atasan Salaunt; jika tidak ada tanggapan, si tukang kayu akan menghinanya di jalanan Mesir sehingga orang-orang akan tahu siapa sebenarnya Salaunt itu.

Orang Prancis itu pun akhirnya meminta maaf sepenuh hati kepada Hafidz. Setelah pekerjaan selesai, Salaunt memberikan upah. Uang lebih tidak diterima oleh Hafidz, dikembalikannya. “Saya tidak akan mengambil lebih dari yang menjadi hakku, agar saya tidak menjadi orang haram,” sahutnya.

Salaunt tertegun lagi. “Sungguh aneh, mengapa tidak semua putra Arab sepertimu? Apakah engkau keluarga Muhammad?” “Monsieur, seluruh kaum Muslim adalah saudara Muhammad. Hanya saja banyak dari mereka yang bergaul dengan monsieur-monsieur dan mengikuti perilaku mereka, hingga akhlaknya rusak.” Saulant lantas mengulurkan tangan, mengajak berslaman. “Terima kasih. Semoga engkau baik-baik selalu,” sahutnya.

Kisah yang direkam Imam Hasan Al-Banna di buku memoarnya itu benar-benar membuat Hasan penasaran. Dia merasa menemukan relevansi di kisah agama itu dengan pergerakan sosialisme yang selama ini dianutnya. Dari sana dia berpikir bahwa ternyata perubahan Islam sangat mungkin menyentuh segala ranah, dari soal kehidupan dasar manusia sampai soal-soal kemasyarakatan, bukan melulu berkutat pada soal keagamaan.

Dan semakin kuat gelombang itu berpusar di pikiran Hasan: tentang Islam—tentang agama—yang selama ini dicitrakan buruk dan kaku dalam bacaan-bacaan dan diskusi-diskusi yang dilahapnya. Bahwa Islam sesungguhnya tidak pernah menyalahi ketentuan-Nya sebagai rahmatan lilalamin, sebagai kebaikan untuk semua.

Tentang cinta

Ada (benih) cinta segitiga dalam novel ini. Pada peluncuran Sang Pemusar Gelombang di Jakarta (Selasa, 7/8/12), seorang hadirin bertanya: haruskah novel dakwah yang berpusar pada perikehidupan Syaikh Hasan Al-Banna ini dibumbui oleh kisah cinta? Yang dimaksud ialah kisah cinta antara tokoh Randy, Maryam, dan Cikal. (Najwa, sosok yang belakangan menghantui benak Cikal, tidak lain ialah Maryam, sesama aktivis dakwah di kelompok Tarbiyah, tempat Randy berkegiatan.)

Menanggapinya, Irfan Hidayatullah mengisyaratkan bahwa bagaimana pun novel ini memang dengan sadar dimaksudkan sebagai karya populer. Alhasil, konstruksi yang dipilih ialah konstruksi populer pula, yang antara lain ialah pengembangan kisah asmara dengan khas tertentu di antara para tokohnya. Mengenai konstruksi populer dalam novelnya ini, Irfan sekilas menjelaskannya di bagian pengantar novel melalui sebuah esai, “Menulis Novel; Petak Umpet antara Ideologi, Metafora, dan Pasar”.

Jauh-jauh hari Irfan Hidayatullah yang juga merupakan dosen sastra ini pernah mewacanakan konstruksi populer dalam karya-karya dakwah, yakni dengan menyebut karya-karya (remaja islami) tersebut sebagai Ispolit atau Islamic popular literature. Poin paling penting dari Ispolit ialah terdapatnya pelbagai negosiasi: negosiasi terhadap pasar, nilai-nilai Islam, juga terhadap sang penulis atau terhadap sastra itu sendiri. Menurutnya, “Justru jika negosiasi itu semakin tersembunyi dan susah dilacak, bukan lagi Ispolit. Adapun mengenai bagus tidaknya sebuah negosiasi dikemas itu adalah hal lain. Jadi, selama negosiasi ini masih ada, selama itu pula istilah Ispolit masih bisa dipertahankan. Oleh karena itu, para penulis Ispolit yang masih konsisten mereka bukan menurunkan isi negosiasinya, tetapi meningkatkan atau mendewasakan cara bernegosiasi.”

Hasan Al-Banna dalam novel

Sebagai pembaca saya pun mencari sosok yang sangat penting di novel ini. Dia Imam Hasan Al-Banna itu. Seseorang yang lahir di Mahmudiyah, Buhairah, Mesir, pada 14 Oktober 1906 dan meninggal pada 12 Februari 1949 di Kairo di tangan penembak misterius. Dia yang pada usia 12 tahun telah hafal Al-Quran. Dia yang mendirikan Ikhwanul Muslimin. Dia yang mencintai ilmu. Dia yang selama hidupnya tidak pernah lelah mendakwahkan Islam kepada semua kalangan, menyeru umat Muslim di mana pun agar dalam setiap segi kehidupannya kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadis.

Dan sosok Hasan Al-Banna itu, di dalam novel ini, hadir secara tidak langsung. Dia hadir melalui Randy, Hasan, dan Cikal: percik-percik pemikirannya, sekelumit kehidupannya, semangatnya yang tidak pernah surut dalam menyebarkan syiar Islam. Sebuah upaya yang saya kira sangat baik dalam mengenalkan sosok seorang Hasan Al-Banna untuk kalangan pembaca yang lebih luas di Indonesia.***

Friday, August 24, 2012

Buku Baru untuk Lebaran

Selamat Idul Fitri 1433 H. Taqabalallahu minna waminkum. Mohon maaf lahir dan batin. Dan selamat membaca buku baru... :) Berikut ini "Buku Baru untuk Lebaran", artikel Nurul Maria Sisilia, FLP Bandung, di harian Pikiran Rakyat.


Sunday, June 24, 2012

“Cincin”, Kisah Sufi, dan Dongeng Modern



Oleh Wildan Nugraha

Elka edisi 5 Th XVI, 18 September 2008, memuat cerpen Iggoy el Fitra berjudul “Cincin”. Cerpen tersebut tampak menarik untuk dibincangkan. “Cincin”, saya pikir, sudah cukup selesai dengan tuntutan kebernasan sebuah cerpen pada umumnya, yakni padat dalam keringkasannya, namun tanpa kehilangan daya jangkaunya yang luas dalam menjelajah soal-soal kehidupan.

Diceritakan, suatu hari seorang lelaki gelandangan bernama Subir yang hidup sebatang kara mendapatkan sebuah cincin dari reruntuhan rumah yang habis terbakar. Semenjak itu, seseorang berjubah hitam bertopi koboi mengikuti Subir ke mana pun dia pergi. Keberadaan sosok misterius itu hanya dapat dilihat oleh Subir.

Sosok berjubah hitam bertopi koboi itu mengaku kepada Subir sebagai malaikat dari cincin yang kini dipakai Subir. Dia menjelaskan bahwa dia diutus untuk memperbaiki nasib Subir. Satu syaratnya, kata sosok itu kepada Subir, yakni Subir harus berusaha sendiri. Sosok itu hanya akan memberi saran dan nasihat saja. Mereka sepakat. Saran pertama segera muncul: Subir dipersilakan mencuri sepotong celana jins di jemuran orang. Besoknya, Subir mengutil di toko. Dia pulang dengan membawa banyak barang dalam gerobaknya.

Akan tetapi, ternyata orang-orang sekitar mencurigai Subir. Mereka memergoki Subir dengan barang-barang curian di gubuknya. Subir meminta bantuan sosok misterius yang mengaku malaikat itu sambil mengancam menanggalkan cincinnya. Digertak demikian, akhirnya sosok itu bertindak: Subir bisa menghilang dari tempat itu, lolos dari sergapan orang-orang. Mereka berdua sekejap tiba di pinggir jalan.

Di pinggir jalan itu, mereka berdebat. Sosok berjubah meminta Subir jangan pernah sekali pun melepas cincin itu, jika tidak ingin celaka. Kesadaran Subir mulai muncul. Dia merasa tergantung kepada sosok itu. Akhirnya sosok itu mempersilakan Subir mencopot cincinnya. Sebagai gantinya, sosok itu memberikan sebuah kunci. Dia lalu menunjuk sebuah sepeda motor. Kini Subir merasa tertantang. Dia ingin membuktikan bahwa tanpa bantuan cincinnya, dia bisa aman-aman saja melarikan sepeda motor itu. Tapi malang buat Subir, dia ngebut lalu tabrakan.

Seorang pemuda baik hati kemudian menghampirinya, membantunya. Tidak ada orang lain di situ. Dia lalu menggendong Subir yang terluka parah, hendak membawanya ke rumah sakit. Tetapi, pemuda itu menghentikan langkahnya. Diletakkannya sebentar tubuh Subir. Ada cincin yang berkilat di dekatnya. Pemuda itu kemudian memungutnya dan memasang cincin itu di jari manisnya. Serentak, perangai baik si pemuda berubah. Dia merogoh saku celana Subir. Kesal tidak menemukan apa-apa, diambilnya sebuah batu besar dan dihantamlah kepala Subir. Iggoy pun kemudian pendek saja memungkas ceritanya dengan kalimat: Seseorang berjubah tertawa di sampingnya.

Membaca “Cincin”, saya teringat sebuah cerpen Ahmad Tohari, “Pengemis dan Shalawat Badar”, dalam kumpulan Senyum Karyamin (Gramedia, 1989). Cerpen tersebut menceritakan pengalaman aneh tokoh aku saat hendak bepergian ke Jakarta menumpang bus. Di terminal Cirebon, bus berhenti sebentar. Di situlah seorang pengemis naik. Dia mengamen dengan ber-Shalawat Badar. Saat bus melaju kembali, pengemis itu ikut terbawa. Dia sempat adu mulut dengan kondektur. Di tengah jalan, tokoh aku tertidur dan bermimpi. Sebelum lelap, di telinga tokoh aku masih terdengar si pengemis terus menggumamkan Shalawat Badar.

Dalam mimpinya, tokoh aku melihat pengemis itu banyak sekali dengan rupa yang sama. Mereka berjumlah ribuan dan berbarengan membaca shalawat. Dalam mimpinya itu, terulang pikiran tokoh aku sebelum tidur tadi, bahwa mereka bisa menghapal teks shalawat itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-cemarah tentang kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat. Dan dari ceramah-ceramah seperti itu, mereka hanya memperoleh hapalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan tangan.

Kemudian, mimpi itu berbelok mengerikan. Guntur meledak dahsyat. Mayat-mayat berterbangan dan jatuh di sekeliling tokoh aku. Tokoh aku kemudian merasa takut dan berlari, namun sebuah batu tersandung dan tokoh aku terjatuh. Dia mendadak terbangun dan mendapati mulutnya berdarah. Rupanya bus yang ditumpangi mengalami kecelakaan, bertabrakan hebat dengan sebuah truk tangki. Tokoh aku terpelanting cukup jauh. Samar-samar tokoh aku kemudian menangkap sosok pengemis tadi keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikit pun. Dia lantas berjalan tenang ke arah timur sambil kembali melantunkan Shalawat Badar.

Dalam kata penutup kumpulan itu, Sapardi Djoko Damono mengomentari cerpen Tohari tersebut sebagai sebuah dongeng modern yang temanya universal namun tokoh dan latarnya memiliki akar dalam masyarakat kita. Keuniversalan tema itulah yang menyebabkan kita mungkin berpikir bahwa ada kemiripan antara cerita ini dengan kisah-kisah sufi, namun jika kita menghadapi tema yang universal sulit untuk berbicara mengenai keaslian. Dalam cerita ini, lanjut Sapardi, Tohari berhasil membatasi keinginannya untuk berkomentar—mengajar dan menilai; ia lebih banyak mendongeng dan pembaca dibiarkannya mengusut sendiri perlambang dalam dongengnya yang relatif sederhana itu.

Mengenai “Cincin”, saya rasa tidak jauh berbeda dengan cerpen Tohari tadi. Iggoy dan Tohari sama-sama mendongeng. Kesimpulan Sapardi mengenai cerpen Tohari tersebut adalah merupakan perlambangan kerinduan manusia akan penegasan hubungannya dengan Yang Mahakuasa, kerinduan kita akan perlindungan-Nya. Sementara dalam “Cincin” tampak muncul perkara kepolosan, kebodohan, dan ketergesa-gesaan manusia yang dilambangkan oleh Subir; juga tentang kelemahan hati dan jiwa manusia yang dilambangkan pemuda yang muncul terakhir. Semua itu bermuara pada sosok penggoda dan penipu yang dinisbatkan kepada benda duniawi berupa cincin.

Dongeng dalam artian tradisional adalah bentuk cerita dalam sastra lama yang digunakan sebagai sarana didaktis untuk menyampaikan berbagai nilai moral dan nilai kehidupan, khususnya kepada anak-anak. Dalam dongeng tidak dipersoalkan apakah suatu cerita realistis atau tidak, dan semua saja dalam alam dilibatkan dalam usaha untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut: seekor buaya, seekor kancil, seorang raja, atau seorang budak (Kleden, 2004).

Tidak ada buaya atau kancil dalam cerita Iggoy dan Tohari di atas. Tapi, kita dapat menamakannya juga semacam dongeng sebab cerita tampak harus berjalan saja, tanpa peduli apakah itu realistis atau tidak, logis atau tidak. Saat mendongeng, para pengarang dapat merekam masalah sosial dan kemanusiaan yang abadi seolah tanpa beban. Mereka pun pada gilirannya mampu menelorkan pelbagai cerita yang mengandung sesuatu untuk ditafsirkan lebih lanjut; baik itu berupa nilai moral atau nilai kehidupan yang bersifat didaktis, atau bahkan yang bersifat antididaktis, yang justru mempertanyakan, menguncang-guncang, meremehkan, atau menjungkirbalikkan nilai-nilai tersebut.

Bila dongeng lama pada umumnya memperlakukan pendengarnya sebagai anak kecil yang harus diantar tidur dengan cerita yang membuatnya lelap, dongeng baru (modern) bisa jadi justru sebaliknya: memperlakukan pembacanya sebagai orang dewasa yang harus senantiasa terjaga dan tidak terlena.

Bandung, 4 Maret 2009
(Sabili No. 21 Th. XVI 7 Mei 2009/12 Jumadil Awal 1430)

Monday, June 11, 2012

Susu Kambing



Tadi malam akhirnya saya minum susu kambing. Di warung tenda pinggir jalan dekat masjid besar. Bukan karena benar-benar ingin sebenanya, tapi karena susu sapi sudah habis. Itulah mengapa waktu si pedagang menawarkan susu kambing buat gantinya, saya pun serasa diingatkan: sudah lama saya penasaran ingin nyicip susu kambing.

Kepada si pedagang saya bertanya apakah susu kambing enak. Dia tidak menjawab, hanya bilang, sambil tersenyum, susu kambing banyak khasiatnya. Mau yang manis?

Maka saya pun menghadapi segelas susu kambing. Tawar tanpa gula. Saya ingin rasa original, tidak dimanis-maniskan. Agak lama saya tatap saja gelas itu. Bukan kenapa-kenapa, saya tidak ingin lidah terbakar. Susu itu masih panas.

Tapi situasi memang mendadak mewah. Ini bakal jadi pengalaman pertama saya minum susu kambing. Dan pengalaman pertama, dalam banyak soal, memang mendebarkan. Ada sesuatu yang berdenyar dan bergetar asing di saat yang belum biasa dialami sebelumnya.

Bagaimakah rasa susu kambing? Seberapa bedakah dengan susu sapi? Akankah rada kecut, atau mungkin sedikit pahit?

Di gerobak susu itu ada gambar sapi kartun; gambar kambing tidak ada. Hanya memang tertera tulisan: sedia susu sapi dan susu kambing. Saya pun menyusun sendiri citra kambing di kepala.

Apakah terdapat hubungan antara rasa susu dengan bentuk serta ukuran hewannya? Sapi dibikin Tuhan berbadan besar, sementara kambing tidak ada yang sebesar sapi setahu saya. Sapi kadang lucu, kadang biasa-biasa saja, sementara kambing jarang terkesan lucu buatku. Tapi kambing lebih lincah. Itulah, saya kira rasa susu hewan yang lebih sering berlari dengan susu hewan yang lebih banyak diam dan kalem pasti berbeda.

Dulu saya pernah tidak suka minum susu, apalagi susu putih. Kalau susu coklat, saya bisa minum. Susu tawar bikin saya mual. Ini barangkali karena saya mengalami kebosanan pada susu. Waktu kecil, saya dapat ASI selama hanya dua bulan. Ibuku waktu itu keburu pergi tugas mengajar ke daerah jauh dan saya tidak mungkin dibawa serta. Sebagai ganti ASI aku pun diberi susu sapi oleh nenek dan bibi-bibiku. Saya segut sekali minum susu waktu itu, kata mereka. Sebotol sebelum tidur, saya kadang minta tambah. Itulah mengapa saya disebut anak sapi oleh bibi-bibiku.

Tapi itu semua sebenarnya tidak menjawab kenapa setelah rada besar saya jadi eneg sama susu putih.

Kembali ke susu kambing. Saya jadi ingat pernah berkunjung ke Jonggol Farm, pesantren wirausaha dan agribisnis milik pengusaha Muhaimin Iqbal di Jonggol, Bogor. Di sana mereka mengembangkan peternakan kambing susu dengan pakan khusus rumput alfafa. Kata orang dari Jakarta yang hadir di sana waktu itu, susu kambing susu yang diminum Nabi. Jadi baguslah kalau kita orang Islam minum juga. Orang itu lantas bicara khasiatnya yang konon lebih baik dari susu sapi yang lebih umum kita minum.

Menanggapi bicara orang Jakarta itu, kawanku bilang: betul memang susu kambing berkhasiat super. Kawan kami di kampus dulu pernah penelitian soal susu kambing saat skripsi. Dibantu susu kambing penderita diabetes bisa lebih lekas sembuh. Demikianlah, obrolan jadi seru dan menarik. Merembet ke mana-mana. Kami pun saling tukar alamat dan nomor telepon. Orang dari Jakarta itu bilang, di sana mereka payah cari susu kambing. Kalaupun ada, harganya mahal.

Di warung tenda itu, tadi malam, saya pun menghadapi segelas susu kambing. Di kertas pengumuman yang dibuat sedemikian rupa oleh si pedagang, harga susu kambing Rp 9 ribu, lebih mahal Rp 5 ribu dari susu sapi. Nah, susu sudah tidak terlalu panas. Saya angkat gelas pelan-pelan. Sebentar saya hirup aromanya, juga dengan perlahan. Sambil mengingat-ingat bau susu sapi buat membedakannya. Sambil bola mata saya bergulir ke samping. Sapi kartun yang nempel di badan gerobak terlihat sumringah.

Saya teringat ibu.

Maka malam itu si anak sapi minum susu kambing. Segelas penuh. Pelan-pelan dengan penghayatan. Perutnya jadi hangat. Dan di kepalanya terhampar padang rumput luas. Di sana kambing-kambing itu berlari-lari ringan cari makan di bawah matahari yang mulai naik sepenggalah.***

Monday, May 28, 2012

KE CIANJUR, 19 MEI


Dan Sabtu, 19 Mei, pagi jam 8, saya sampai di Cianjur. Kapan terakhir saya ke Cianjur? Rasanya sudah lama. Kota kecil yang hangat. Di sini waktu seperti merambat pelan. Pegal dua jam perjalanan sepeda motor, dengan sisa flu yang masih nempel, dibayar dengan suasana kota yang apik dan terang pagi itu.

Toko-toko dengan bangunan model lama di kiri kanan jalan. Orang-orang Sabtu pagi berjalan-jalan di trotoar. Tukang becak saya sapa; saya yakin dia tahu jalan terpendek menuju masjid agung. Dia tersenyum. Kacamata hitam model lama, besar, menyembunyikan matanya. (Saya bisa bercermin di kacamata itu.) Dua stopan ke depan, belok kanan, katanya.

Tiba-tiba itu pagi pada Cianjur saya jatuh hati. Diterangi matahari pagi, masjid agung terasa megah dan cerah. Di dekatnya alun-alun Cianjur. Air mancur di sebelah tengahnya. Di seberang jalan ada kantor pos. Saya suka warna oranye kantor pos. Dan pohon-pohon besar, ribuan-jutaan jumlah daun hijaunya, bergoyang-goyang bermain angin semilir. Dari arah sekolah SMA tak jauh dari sana, ada bebunyian drum band.

Tidak banyak teman-teman FLP Cianjur yang berkumpul pagi itu. Ada Deva, Resti, Annisa, Hade, dan beberapa kawan lain yang datang kemudian. Siju, ketua FLP Cianjur, sedang sakit. Dua bulan sebelumnya dia mengabari saya: Kang, Siju sakit. Semoga lekas sembuh, Siju, kubilang. Siju sakit typus, kata kawan-kawan FLP Cianjur. Sempat merasa sembuh, tapi kemudian kembali kambuh. Barangkali kecapaian.

Tanggal 19 Mei itu, Kang Yadi, pengurus FLP Jabar, tidak bisa hadir di masjid agung. Dia bilang sedang ada acara dari pagi hingga siang. Menjelang matahari meninggi, setelah kumpul dengan FLP Cianjur selesai, Yadi mengontak, bertanya apakah saya masih di Cianjur. Saya sedang makan mie ayam bareng Hade, tidak terlalu jauh dari masjid agung. Kubilang, oke, Kang Yadi, aku ingin mampir ke tepatmu. Hade mau turut.

Kang Yadi tinggal dekat bendungan Saguling. Kalau dari arah Bandung, kita belok kiri sebelum Jembatan Rajamandala. Tempat Kang Yadi secara administratif masuk Kabupaten Bandung Barat, tapi kami orang Cianjur, gitu kata Kang Yadi. Terasa rada jauh jarak dari jalan raya ke tempat Kang Yadi di Saguling. Jalan naik turun, tapi aspalnya sudah bagus. Kanan kiri kebun cokelat dan kopi. Kalau malam tentu saja sepi.

Lalu kami sampai di depan sungai besar, Citarum. Arusnya deras. Jembatan gantung warna merah melintang panjang ke seberang sana, hampir seratus meter. Kawat-kawatnya besar, alas jembatannya bilah-bilah kayu.

Kang Yadi tinggal di seberang sana. Desa Cihea, Kampung Bantar Caringin, Kecamatan Haurwangi, Cianjur. Ada seratusan lebih rumah. Penduduknya sekitar seribuan jiwa. Macam-macam pepohonan menyembul di antara rumah-rumah itu. Latarnya bukit dan hutan menghijau. Saya takjub. Saya selalu senang dengan suasana desa.

Dan tibalah kami di rumah itu. Ada seorang kakaknya. Orang tua Kang Yadi sedang di kebun; mereka petani, mengolah hasil bumi, sayur-mayur, umbi-umbian, yang mereka jual ke pasar. Dan, hey, ada harta karun di desa kecil seberang sungai ini. Di tembok depan rumah, dipasang spanduk Saung Baca KaYeDe. Di ruangan depan rumah itu, dua lemari penuh buku. Ada banyak novel, buku agama, filsafat, buku-buku kajian ilmu, dan beragam bacaan remaja. Beberapa buku yang ditulis Kang Yadi nyelip di sana. Jam buka Saung Baca KaYeDe: saban sore hari Senin, Rabu, dan Jumat. Anak-anak sekitar sini pengunjungnya. Mereka banyak baca novel-novel dan buku remaja.

Saya buka lemari buku yang berpintu kaca. Di antara buku yang ditata rapi itu, ternyata ada buku yang sudah lama ingin saya baca. Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial karangan Peter L Berger. Dan ada buku yang belum jadi juga kubeli kalau saya mampir ke pasar buku: Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Kang Yadi ngajak kami makan di pinggir Citarum. Nasi liwet dalam kastrol. Lauknya seadanya, tapi nikmat luar biasa. Ikan asin, ikan teri, goreng tahu, sambal, dan kerupuk yang dia ambil dari warung kakaknya di sebelah rumahnya. Alas makan: daun pisang dua lembar. Perut saya minta nambah terus. Saat kami makan, ada perahu karet lewat. Di sini sering ada orang berolahraga arung jeram.

Di kejauhan, dari atas batu tinggi, terlihat anak kecil meloncat nyebur ke sungai. Pasti bocah itu sudah kenal lika-liku sungai: letak batu-batu besar yang sembunyi di bawah air, arus air yang berbahaya kapan saja datangnya. Di air jernih rasanya ingin juga saya berenang, tapi mungkin tidak sekarang.

Hari beranjak sore. Sebelum balik ke Bandung, saya ambil buku dari rak Kang Yadi. Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.***

PS: Sekarang Siju dirawat di RS Cianjur; kondisinya kritis. Semoga Siju sehat kembali.

Friday, May 11, 2012

MAIN-MAIN YANG SERIUS


"Great things are done by a series of small things brought together."
(Vincent van Gogh)

Penyair Belanda, Hagar Peeters, menulis sebuah puisi bejudul “Janji”. Ia sederhana saja sebenarnya dan bahkan terkesan bermain-main, tetapi sebuah puisi yang berhasil selalu meninggalkan gaung di relung hati pembaca. Dan “Janji”, menurut saya, ialah puisi yang demikian.


The Café Terrace on the Place du Forum,
Arles, at Night
(Vincent van Gogh, 1888)
Aku lirik dalam “Janji” tengah menanti kekasihnya di sebuah restoran di sebuah kota. (Ia bisa Amsterdam atau Jakarta, Cairo atau Canbera; Hagar Peeters tidak menggiringnya secara spesifik, melainkan secara universal: puisi ini berbicara tentang manusia urban.) Tapi sang kekasih tidak kunjung datang padahal mereka telah saling berjanji. Lantas pikiran sang aku lirik pun mengalir ke mana-mana.

Barangkali sakit atau tertabrak trem, pikirnya. Itu logis, sangat mungin terjadi, di lingkungan keseharian mereka—meski dugaan tersebut ekstrem: apakah kini kekasihnya telah meninggal sehingga tidak bisa memenuhi janji? Atau telah terjadi hal-hal lain yang lebih “ringan”: karena ada orang menyapa di tengah jalan sehingga ia tertambat, atau lampu stopan tidak beranjak dari warna merah, atau ia bertengkar dengan bosnya di kantor lalu dipecat dan ingin menyepi sendirian saja, atau ia keasyikan menonton televisi, atau ia menunggu di tempat yang salah dan tidak ada telepon di dekatnya, atau....

Hagar piawai menyusun narasi imajinatif dalam puisinya. Ia mengeksplorasi segala kemungkinan yang dapat menimpa sosok kekasih yang dinanti itu. Lalu dengan jeli Hagar menjadikan tiga bait terakhir puisinya sebagai klimaks dan merupakan bagian sangat penting dalam “Janji”. Barangkali—kemungkinan terakhir/ yang tak terpahami dan tak terduga—/ dia tak lagi mencintaiku. Ya, penyair muda Belanda ini, Hagar Peeters, mengemas kuat gagasan cinta dalam “Janji”.

Kita mungkin bisa sepakat: berbeda dengan banyak perkara lain yang materialistik, cinta ialah energi hidup yang sulit dirasionalisasikan. Dalam “Janji”, Hagar menggambarkan hal itu. Umat manusia boleh melangkah jauh ke depan di dunia maju. Berpikir dan bertindak tanduk modern. Semua diandaikan dapat dihitung, dikalkulasi, dan diprediksi sedemikian rupa demi meraih kehidupan yang lebih baik. Tetapi, cinta agaknya selalu berhasil luput dari urusan matematis: ia bukan buat dihitung-hitung dan diduga-duga, melainkan lebih untuk dihayati dan dijaga. Ia hadir menyapa setiap orang kapan dan di mana saja berada, kemudian menawarkan sesuatu kepada mereka: keutuhan sebagai manusia.

Oleh karenanya, menurut saya, meski bernuansa humor dan bermain-main, “Janji” menjanjikan sesuatu yang serius: nilai transendensi dan spiritualitas manusia urban kontemporer. “Janji” yang melampaui ego zaman. “Janji” yang merindukan kekuatan-kekuatan di luar kuasa nalar. Saya teringat perkataan Vincent van Gogh, pelukis post-impresionis tersohor dari Negeri Tulip itu: But I always think that the best way to know God is to love many things.

Kita tidak pernah tahu apakah pasangan kekasih dalam “Janji” pada akhirnya berjumpa atau tidak di tempat yang telah mereka sepakati itu. Tapi memang bukan itu agaknya yang menjadi titik tekan “Janji” pada akhirnya. “Janji” Hagar mungkin memang meminjam hal-hal kecil keseharian manusia urban dengan ringannya, tapi larik-larik terakhir itu mengantarkan kita pada hal besar dan penting. Saya pun lagi-lagi teringat Vincent van Gogh: Great things are done by a series of small things brought together.

Wildan Nugraha

Janji - Hagar Peeters


Dia tak muncul.
Barangkali sakit atau tertabrak
trem, barangkali orang lain
menyapanya. Barangkali dia lupa jam tangannya
atau jam tangan lupa menunjukkan waktu.
Barangkali mobilnya tak mau menyala
atau rusak di tengah jalan.
Barangkali ada yang meneleponnya
tepat sebelum berangkat,
dengan kabar dia harus ke kremasi
atau bahwa ibunya meninggal.
Barangkali dia bertemu kenalan lama.
Barangkali dia sedang bertengkar di tempatnya kerja
kemudian dipecat dan menyembunyikan kepala
di bawah bantal. Barangkali jembatan membuka,
juga yang berikutnya.
Barangkali lampu lalu-lintas tetap merah.
Barangkali kartu banknya ditelan mesin uang
atau di tengah jalan dia lupa dompetnya.
Barangkali dia kehilangan kaca mata
tak bisa berhenti membaca
ada acara di TV yang ingin dia tonton sampai tamat
pintu rumahnya tidak bisa dikunci
dia kehilangan gepokan kunci,
dan tiba tiba anjingnya mulai muntah.
Barangkali tak ada telepon di sekitarnya,
alamat restorannya tak bisa dia temukan
atau dengan tak sengaja dia menunggu
di tempat berbeda.
Barangkali—kemungkinan terakhir
yang tak terpahami dan tak terduga—
dia tak lagi mencintaiku.

(Terjemahan Linde Voûte dan Agus R. Sarjono)


AFSPRAAK

Hij is niet op komen dagen.
Misschien werd hij ziek of liep hij
onder de tram, misschien sprak een ander
hem aan. Misschien vergat hij zijn horloge
of vergat het horloge hem de juiste tijd te geven.
Misschien wilde zijn auto niet starten
of begaf die het halverwege.
Misschien belde iemand hem juist voor hij vertrok,
met het bericht dat hij naar een crematie moest
of dat zijn moeder is overleden.
Misschien kwam hij een kennis van vroeger tegen.
Misschien had hij ruzie op zijn werk,
is hij ontslagen en heeft hij
zijn hoofd onder een kussen begraven.
Misschien stond de brug open, en ook de volgende.
Misschien bleef het stoplicht op rood staan.
Misschien heeft de pinautomaat zijn pasje ingeslikt
of bleek hij onderweg zijn portemonnee vergeten.
Misschien was hij zijn bril kwijt
kon hij niet stoppen met lezen
was er een programma op tv dat hij af wilde zien
kreeg hij zijn huisdeur niet op slot
kon hij nergens zijn sleutelbos vinden,
en begon plotseling zijn hond over te geven.
Misschien was er geen telefoon in de buurt,
kon hij het restaurant niet vinden
of zit hij per vergissing elders te wachten.
Misschien—de laatste onbegrepen
en onvoorziene mogelijkheid—
houdt hij niet langer van mij.


Tentang Penyair

Hagar Peeters lahir di Amsterdam, Belanda, 1972. Dia menempuh studi Sejarah Kebudayaan, Universitas Utrecht dan memenangkan the National Thesis Award 2001 untuk tesis terbaik yang ditulis di Belanda. Topik tesisnya adalah “Humanisasi Pengadilan Kriminal Belanda Sejak 1945”. Pada Mei 2002, sejarah biografis yang berdasar pada tesisnya akan diterbitkan. Pada 1999 terbit kumpulan puisinya yang pertama, Genoeg Gedicht over de Liefde Vandaag (‘Cukup sekian Puisi tentang Cinta Hari Ini’). Pada 2000, dia masuk nominasi dalam NPS Culture Award. Hagar Peeters banyak menampilkan sajak-sajaknya di Belanda. Pada Mei 2000, dia tampil membacakan sajak-sajaknya di Kepulauan Antilla (Dutch Antilles).