Friday, October 02, 2015

Kesadaran Ego

AWALNYA SABTU ITU saya mau lihat pembukaan pameran lukisan Jeihan. Tapi tidak jadi. Seharian saya dan istri di rumah saja. Gantinya dari rak buku saya mengambil Jeihan: Ambang Waras dan Gila karangan Jakob Sumardjo. Saya lap-lap debu-debunya. Saya pun mulai membaca.

Dikatakan oleh buku itu, Jeihan itu gila. Tidak waras. Tidak umum. Hanya saja kegilaan Jeihan harus dipahami bukan dari sisi yang umum pula. Jakob Sumardjo di sini melamurkan makna waras dan gila menjadi suguhan filosofis yang menarik, kaya, dan kerap mengejutkan.

Bagi Jeihan, hidup waras hanya manipulasi orang-orang gila. Hidup penuh kebohongan. Hidup penuh kepura-puraan. Semakin cerdas seseorang, semakin gila manipulasinya. Dengan demikian, apa yang disebut kewarasan sebenarnya hidup penuh pura-pura itu. Hidup yang mengikuti cara berpikir umum tentang apa yang disebut waras. Apa yang disebut waras hanyalah kesepakatan budaya suatu masyarakat. Dan semua anggota masyarakat tersebut berpura-pura hidup waras, dan menyembunyikan kegilaan yang sebenarnya jati dirinya. Maka, kewarasan yang sebenarnya ialah kegilaan, dan kegilaan yang sebenarnya ialah kewarasan.

Hidup yang sejati adalah kegilaan, demikianlah menurut Jeihan. Orang yang hidup dalam kegilaan justru dinilai tidak waras. Hidup dalam kegilaan itu mengikuti kesadaran egonya sendiri, yaitu jati dirinya. Dan sampai di sini saya tergoda buat berpikir bahwa biar seseorang bisa menemukan jati dirinya, ego musti dirayakan. Seseorang dengan ego yang tinggi akan menggenggam erat jati dirinya. Dia tidak rela diintervensi orang lain dalam hal apa pun. Dia punya kehendak, maka dia bertindak. Yang lain tidak. Dan siapa tak kenal Jeihan Sukmantoro sekarang? Seorang seniman yang bisa dikatakan paling sukses dan kaya di negeri ini.

Tapi nanti dulu. Apakah ego itu sesungguhnya? Dan bagaimana pula mengenali serta mencapai kesadaran ego itu? Menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu, saya kembali meraba-raba Jakob tentang kegilaan Jeihan. Tulis Jakob: orang gila yang tidak menyadari dirinya gila adalah gila sesungguhnya, karena dalam kegilaannya dia menganggap dirinya waras. Tetapi orang gila yang menyadari dirinya gila, orang beginilah yang seenaknya mempermainkan orang waras. Jeihan menempatkan dirinya semacam itu. Ia sadar abnormal sejak kecil. Autis. Abnormal jenis ini di atas normal. Dan itu disadari oleh Jeihan. Dengan demikian ia semaunya mempermainkan kewarasan dirinya maupun orang lain.

Jadi kata kuncinya ialah sadar, kesadaran—yang lebih kurang bermakna waras juga. Dari karangan yang dijuduli “Kepahitan” dalam buku itu, Jakob mengulas seulas episode hidup Jeihan saat diliputi kepahitan dan kegelapan. Lebih dari setengah hidup Jeihan dijalani dalam kepahitan. Sampai usia 40 tahun, Jeihan bisa dibilang menderita. Dan bila kebahagiaan diukur dari keberlimpahan materi, sejak kecil hingga usia 40 tahun itu Jeihan jauh dari bahagia. Tapi dia tidak lantas merasa hina. Kata Jeihan, “Miskin itu tidak hina, hanya tidak enak.”

Demikianlah saat kuliah di ITB, karena tidak punya uang untuk kos, Jeihan tidur di tanah lapang ITT, di pemandian Cihampelas. Makan pun seadanya. Pada masa-masa itu Jeihan bukan tidak berkarya. Hanya saja sampai sekarang karya-karyanya di zaman kepahitannya itu jarang dibicarakan. Orang cenderung membicarakan karya-karyanya yang terakhir, mungkin karena kemahalannya, atau mungkin karena lebih berwarna. Sebelum terkenal, Jeihan banyak melukis anggota keluarganya sendiri: istri, diri sendiri, anak-anak, tetangga, ayah dan ibu, serta kawan-kawannya sesama seniman dalam warna-warna yang minim, “kotor”, gelap, berat, suram, diam.

Demikianlah Jeihan sadar pernah mengalami periode “gila”. Saat dia asyik dengan diri sendiri, hanya memainkan perannya sebagai makhluk individu yang bebas merdeka. Ia tidak mau bergaul. Yang datang padanya dicurigai akan menyerang kemerdekaan individunya. Masa “gila” itu, menurut Jakob, mungkin akibat filosofi hidupnya yang eksklusif, bermain di wilayah individu yang mutlak, selain mungkin bisa juga karena riwayat autis dan cedera kepalanya. Sekitar usia 5 tahun Jeihan pernah jatuh berguling-guling dari tangga rumahnya. Sejak saat itu, dia sering merasakan sakit yang sangat di kepalanya.

Periode “gila” dalam kehidupan Jeihan itu diutarakannya saat diwawancara wartawan pada 1987. “Di dalam hidup saya pernah terjadi tragedi. Waktu itu kira-kira tahun 70-an. Kadang-kadang orang mengira bahwa seni harus sangat serius. Saya dulu pernah terlalu serius, akibatnya sakit, mungkin disebabkan terlalu muyeng (konsentrasi terlalu mendalam), sehingga terasing dan mengasingkan diri, fisik maupun spiritual. Saya terjebak pada suatu titik yang gelap, terlalu asyik dengan dunia saya sendiri,” sahut Jeihan.

Apakah itu sebentuk pengakuan yang serius bahwa Jeihan pernah keliru menyikapi obsesi atau ego kesenimanannya, wallahualam, hanya Jeihan dan Tuhan yang tahu. Karena saya kira, seperti sering juga dikatakan Jeihan dalam catatan Jakob Sumardjo, hidup manusia tidak lepas dari hukum sebab akibat. Dengan kata lain, tidak ada yang kebetulan. Juga berarti periode “gila” itu bukan berarti tidak penting dalam jalan hidup seorang Jeihan.

Dan, catat Jakob lebih lanjut, “masa kegelapan” Jeihan berhasil dilaluinya. Dia mencapai semacam pencerahan, yakni hukum keseimbangan. Prinsip harmoni. Terlalu serius tidak sampai pada seni, terlalu main-main juga tidak sampai ke sana. Seni itu antara serius dan main-main. Main-main namun serius. Membohongi untuk mencapai kebenaran. Bohong dalam seni adalah art, dunia bikinan, main-main. Namun main-main ini bukan sekadar main-main, tetapi upaya mengungkapkan kebenaran pemikiran dan intuisinya. Kata Jakob, Pablo Picaso pernah sampai pada pemikiran demikian: “Seni itu kebohongan untuk menyampaikan kebenaran.”

Maka ungkap Jeihan setelah menemu harmoni itu: “Secara pribadi saya perlu mengungkapkan, bahwa saya hidup dan bekerja di antara mencari dan menemukan. Buat saya melukis adalah ibadah, mudah-mudahan karya saya bisa merupakan sarana syiar. Memberitakan hal yang bermanfaat, sesuai dengan kehendak Allah. Di dalam melukis, tampaknya seperti main-main. Di sini kita sebenarnya dituntut mencari keseimbangan sejati, memperoleh harmoni sejati, yaitu suasana surgawi. Melalui titian kesenian yang benar, kita bagaikan dilatih menyeberangi jembatan shiratalmustaqim. Di antara kanan dan kiri kita harus di tengah. Di antara keras dan lunak kita di tengah.”

Beberapa hari setelah membaca lagi buku Jeihan itu, saya pergi mampir ke toko buku. Sudah lama saya tidak pergi ke toko buku. Ada buku baru yang saya penasaran ingin lihat. Belajar Hidup dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa. Mungkin saya memang sedang perlu penerang itu. Mungkin alam bawah sadar saya sedang melulu menggumuli terma itu: apa dan mengapa kesadaran ego itu. Di rak buku-buku agama, saya menemukannya. Ada satu eksemplar yang bungkus plastiknya sudah lepas. Saya buka buku itu secara acak. Dan penggalan puisi Rumi mampir ke mata saya dengan ramahnya: Taklukkan egomu./Maka kegelapan dalam dirimu/akan menjelma cahaya.***

2 comments:

judger said...

ngopi kudu iyeu mah. asik sekali. banyak muncul pertanyaan. mari bung ngopi kembali.

Wildan Nugraha said...

Hayu. Komo ngopina di gunung. Pasti mantap pisan.