Wednesday, September 07, 2011

Pendaki



Pendaki gunung sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
Memproklamirkan dirimu pencinta alam
Sementara maknanya belum kau miliki

(Bait awal lirik lagu “Kepada Alam dan Pencintanya”
ciptaan Yan Hartland, dipopulerkan Rita Ruby Hartland.)

SAYA mengenal Andy sejak SMA. Kami mendaki Gunung Cikuray di Garut waktu itu. Meski berbeda sekolah, kami menjadi akrab dan hingga sekarang sering bertemu. Orangnya sederhana, apa adanya.

Semenjak kecil, ibunya adalah sekaligus ayahnya. Bapaknya tidak pernah bersama mereka, bahkan Andy belum pernah bertemu dengannya. Mungkin karena hal itulah, maka dia begitu menyayangi ibunya. Dengan kawan-kawan yang sehobi itu, kami pun sering melewatkan waktu bersama di luar aktivitas naik gunung. Kadang makan bareng di luar. Kalau begitu, hampir selalu sebelum pulang, Andy memesan makanan yang dibungkus. Buat Ibu di rumah, katanya.

Andy anak bungsu. Kakaknya dua, laki-laki semua. Keduanya sudah berkeluarga dan tidak tinggal lagi di rumah ibunya. Mereka sebenarnya bukan saudara kandung Andy. Bertanya soal keluarganya yang pelik, saya memang berhati-hati. Tapi Andy orang terbuka dan besar hati. Dia senang bercanda tapi kalem, dan polah remaja yang suka meletup-letup saya kira sudah lewat buatnya. Dia sudah punya anak sekarang. Lucu. Masih kecil. Gadis mungil itu bernama Zahra, persis julukan buat Fathimah puteri Rasululah, yang setelah dewasa menikah dengan Ali bin Abi Thalib.

Saya ingat, di sebuah masjid kecil di dekat rumah seorang perempuan yang kemudian menjadi istrinya, wajah Andy begitu cerah dan suaranya terdengar mantap saat dibimbing penghulu mengucapkan ijab kabul pernikahan. Andy dan istrinya masih muda. Kata Andy, target menikah memang usia 25 sampai 28. Tapi kalau usia 23 sudah bisa, mengapa tidak. Istrinya bernama Nia. Perempuan sopan berkerudung rapi. Mereka bertemu di tempat kuliah. Nia karyawati sebuah perusahaan swasta dan Andy belum punya pekerjaan tetap waktu itu. Mereka sama-sama mengambil kelas malam di sebuah sekolah tinggi manajemen dan informatika swasta di Bandung. Setelah Andy lulus dan mendapat gelar sarjana teknik, mereka menikah. Kuliah Nia tidak diteruskan, tetapi belakangan dia kuliah lagi, mengambil PGTK.

Sebelum menikah, sambil kuliah Andy mendapat pekerjaan di Savoy Homann, di bagian Engineering. Statusnya masih pekerja harian. Setelah lulus dan menikah, dan beberapa bulan sebelum Zahra lahir pada April 2007, Andy diangkat sebagai pegawai kontrak di hotel bersejarah itu. Kalau kebetulan Anda menginap di Savoy Homann, komputerisasi di hotel besar itu banyak dikerjakan Andy.

Ya, agaknya dia bukan orang malas dan suka menganggur. Dia selalu bekerja, apa pun itu, yang penting halal. Waktu SMA, Andy berjualan kue. Hampir setiap hari dia membawa kue bikinan ibunya ke sekolah. Keuntungannya lumayan, cukup buat ongkos sekolahnya sehari-hari. Selain berdagang kecil-kecilan itu, mulai kelas dua dia pun menyambi bekerja sebagai operator warnet (warung internet), yang dulu awal 2000-an mulai marak. Sejak itu, dia akrab dengan komputer. 

Selepas SMA, dia tidak langsung kuliah. Berhenti bekerja di warnet, dia pergi ke Tangerang sekitar setahun. Bekerja di perusahaan konsultan yang menangani proyek-proyek PLN di wilayah Tangerang. Saya merindukannya juga waktu itu. Mengobrol dengan Andy memang tidak terlalu hebat dan canggih, tapi dia tipe orang yang dapat dipercaya dan pintar menghibur. Suatu kali saat libur dia datang berkunjung. Waktu itu saya sendirian di rumah dan dia menginap. Keesokan paginya, saya tiba-tiba terserang sakit perut hebat. Andy tertawa-tawa saja sambil membikinkan bubur dan larutan oralit. Saya muntah berkali-kali dan sebentar-sebentar harus pergi ke kamar mandi. Kalau saya berkumpul dengan kawan-kawan, Andy hampir selalu menyulap kisah kecil itu jadi cerita pemancing tawa. Banyak lagi cerita lain yang dia punya. Andy memiliki ingatan detail yang bagus. Kalau sudah bercerita, saya suka heran dengan kekuatan ingatannya.

Kami memang sering saling berkunjung. Mungkin betul persaudaraan bukan perkara ikatan darah saja. Sebelum dia menikah, saya sering menginap di rumahnya. Kalau saya terbangun tengah malam di rumahnya yang kecil itu, saya suka mendapati ibunya Andy. Beliau rajin salat malam. Setelah salat, hampir setiap hari, dia mencuci baju. Pekerjaan itu memang sudah lama dijalaninya: menjadi pengasuh anak-anak mahasiswa yang kos di sebuah rumah kontrakan, tidak begitu jauh dari rumahnya. Selain memasakkan makanan, dia mencuci pakaian. Pekerjaan mencuci pakaian sering dibawa pulang. Malam-malam sebelum tidur, perempuan yang rambutnya sudah banyak memutih itu suka batuk-batuk hebat. Mungkin kecapaian dan sering masuk angin. Sekarang, di rumah Andy sudah ada mesin cuci.

Dulu, Ibu Andy senang mendengarkan ceramah Aa Gym. Setiap pagi selepas subuh, dia sering membunyikan radio kencang-kencang di kamar Andy di atas. Suara menjadi stereo sebab radio di bawah pun mengeluarkan suara yang sama. Andy dan saya yang sedang menginap segera bangun, lalu salat subuh. Kami kesiangan bangun karena terlalu banyak mengobrol malamnya. Pagi-pagi saya siap-siap kuliah, sementara Andy siap-siap bekerja ke Savoy. Sebelum pergi, saya melihat Andy salat lagi. Dia salat duha.

Makin akrab dengan Andy, maka tahulah saya. Di SD dia pernah menjadi ketua murid. Masuk SMP aktif berorganisasi di Pramuka dan OSIS. Kemudian, kelas tiga SMA dia ketua murid yang dijuluki Kepala Suku oleh kawan-kawannya. Waktu tulisan ini dibuat, dia dipercaya menjadi Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya. Saya pura-pura tidak percaya mendengarnya.

Bicara politik, dia bilang suka dengan semangat pergerakan kaum muda. Dulu waktu SMA, dia pernah ikut-ikutan demonstrasi dengan para aktivis PRD; diajak oleh seorang mahasiswa ITB yang tinggal di tempat kos yang diurus ibunya. Andy melihat gambar Che Guevara dengan tutup kepalanya yang khas. Sekarang dia bilang, pergerakan mereka memang terlihat seksi. Belakangan, dia dekat juga dengan salah seorang bekas mahasiswa yang pernah diurus ibunya. Tampak Mas Arif, demikian dia disapa, menginspirasi Andy. Dari cerita Andy, Mas Arif memang sesuai dengan namanya, arif. Pernah suatu saat Andy meminta saran buku apa yang enak dibaca. Mas Arif dengan lagak lugu dan santainya menyodorkan Al-Quran.

Pekerjaan Ibu Andy di rumah kos itu, mungkin sedikit banyak punya peran dalam perkenalan saya dengan Andy. Mas Ary, salah seorang mahasiswa di rumah kos itu, suka mendaki gunung. Dia pandai memotret. Salah satu album fotonya mengabadikan pemandangan Gunung Rinjani yang indah itu. Andy kecil yang suka dibawa ibunya ke rumah kos itu, kagum akan keindahan alam dalam gambar. Dunia atas yang hijau dan dekat dengan awan begitu indah meski dalam gambar, katanya. Apalagi aslinya!

Maka di SMA, Andy bergabung dengan perhimpunan pencinta alam. Hal itulah yang mengantarkan perkenalan kami di Gunung Cikuray; dan kemudian banyak gunung lainnya di Pulau Jawa kami daki bersama. Mendaki gunung, kata Andy, akan menampakkan karakter asli seseorang. Aktivitas itu melatih mental dan semangat kebersamaan, bukan sekadar jalan-jalan di saat senggang. Kita pergi bersama-sama dan pulang pun selamat sampai di rumah bersama-sama. Yang egois dan setia kawan, yang penakut dan pemberani, yang sembrono dan punya perhitungan, akan kelihatan. Mendapati karakter asli seseorang, kata Andy, akan memudahkan kita berinteraksi dengannya. Saya jadi ingat kalimat Umar bin Khatab, berpergian itu menguliti apa yang tersembunyi dari kepribadian dan akhlak kita.

Ya, pelajaran besar dari aktivitas mendaki gunung ikut membangun kepribadiannya. Kadang saya iri dengan dirinya yang bersahaja. Seperti keheningan alam terbuka yang dulu sering kami akrabi, dia tidak terlalu banyak berkata-kata. Andy buatku adalah sosok yang lebih banyak berbuat. Seperti soal mencintai ibunya itu, lalu saat dia menikah, dan belakangan soal memprioritaskan waktu buat keluarga dan lantas menjadi ketua RT­­—dia lakoni semua dengan kalem-kalem saja, sederhana, apa adanya.

Dia jarang lagi mendaki gunung meski yang dekat-dekat, tapi lebih banyak dalam kebersamaan dengan anak dan istrinya, dan masih tinggal di rumah ibunya yang kian sepuh. Kalau punya masalah dengan komputer, saya mengirim pesan meminta pertolongannya. Selalu dijawabnya, silakan datang. Sampai di rumahnya meski malam, mukanya cerah. Saya sering merasa malu. Dia telah lebih pendaki.*** 

Wildan Nugraha

2 comments:

aDe said...

ih!

AKA xxxxxc said...

Hmmm ... rasanya saya kenal gaya pemulis nya inj...