Thursday, October 09, 2008

memindai papandayan




Ke Garut Sabtu siang kita Memindai Papandayan
Bermalam di Cisurupan sebelum Ahad pagi kita
Berjalan sekira lima kilometer. Meniti tanah setapak
Melewati kebun penduduk, menembus rimbunnya hutan

Hiruplah udara penuh penuh, dengarlah juga
Daun daun itu: jalanan memang tidak datar
Menanjak dan menurun. Juga hujan mungkin menunggu
Digelar langit yang berkisah terus dan terus

Memindai Papandayan. Simaklah itu kaldera
Kawah rekah di sela batu dan tanah
Lalu rehatlah sejenak, ada sabana di ketinggian
Ada yang berkisah kepadamu
Tentang pohon yang tegak berdiri
Rumput dan ilalang yang menari
Bertumbuh terus dan terus

Angin menyiapkan banyak hal sedari dulu
Gambar gambar yang kelak kau pindai
Kisah kisah yang kemudian kau semai
Pada saatnya kau susun dan kau sebar terus dan terus

Memindai Papandayan. Guliran rihlah FLP Bandung
Insya Allah, Sabtu hingga Ahad, 18-19 Oktober 2008

Thursday, September 04, 2008

anak muda, film, & dakwah


Forum Lingkar Pena Bandung bersama Salman Films menggelar Talkshow, Workshop, dan Festival Budaya "Anak Muda, Film & Dakwah: Antara Naga Bonar Jadi 2, Ayat-Ayat Cinta & Sang Murabbi" pada Ahad, 21 September 2008 di Auditorium Abu Bakar (GSG Atas) Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 08.00 - 15.00 WIB. Acara ini hendak menelaah dengan kritis upaya generasi muda Islam berdakwah melalui media film.

Bertindak sebagai narasumber dan moderator adalah Arief Gustaman (Naga Bonar Jadi 2), Iqbal Rais (Ayat-Ayat Cinta), Muhammad Yulius (Penulis Skenario Sang Murabbi), Yus R Ismail (Pengamat Film, Anggota Forum Film Bandung), Darlis Fajar (Ustadz), Wildan Hanif (Dosen dan Praktisi Film) M Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP), dan iQbal Alfajri (Salman Films). Acara dimeriahkan pembacaan puisi, nasyid, musikalisasi puisi, monolog oleh Iman Soleh, Deddy Koral, Ayi Kurnia, Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana, Semi Ikra Anggara, Gola, Ana Bilqis, Wedang Jahe, Tim Nasyid SMU PGII 2, dll.

Harga tiket masuk Rp 10.000. Gratis untuk 50 pendaftar pertama. Informasi dan pendaftaran di front office Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung. Contact person: Wildan (0817613420, 02292464249) dan Farid (08562250662, 02292925434).



http://am-fd.blogspot.com

Sunday, August 17, 2008

Pemuda Pinggiran Kota dan Pekerjaan Pertanian


Wildan Nugraha
Mahasiswa Faperta Unpad

Pekerjaan pertanian bersifat dilematis bagi kalangan muda pinggiran perkotaan. Di satu sisi, bidang pekerjaan ini memberi peluang besar untuk berkarya dan berpenghasilan. Hal ini karena lahan pertanian di pinggiran kota umumnya masih tersedia. Namun di sisi lain, daya tariknya tidaklah tinggi. Bekerja di bidang pertanian-atau berprofesi sebagai petani-bukanlah pilihan populer.

Menurut JA Noertjahyo (2005), hanya sedikit kaum muda terdidik lulusan fakultas pertanian yang mau berprofesi sebagai petani. Selebihnya banyak yang “meloncat” dari akar pendidikan formalnya ke pekerjaan yang tidak terkait dengan pertanian. Sebagian mereka menjadi pegawai negeri sipil dengan tugas pokok nonpertanian. Lainnya menjadi karyawan bank, wartawan, dan lain sebagainya.

Pesatnya pembangunan fisik yang telah mengarah ke daerah-daerah pinggiran, punya andil besar dalam persoalan ini. Alih fungsi lahan pertanian tentu menyurutkan lapangan pekerjaan ini. Sementara, rendahnya perolehan pendapatan dari pekerjaan pertanian adalah faktor lain yang patut diperhitungkan. Tingkat upah riil bidang pertanian cenderung statis, meski sejak bergulirnya Revolusi Hijau tahun 1970-an hingga sekarang tingkat upah nominal pekerjaan pertanian terus mengalami kenaikan. Namun, dibandingkan dengan industri, laju kenaikan upah pertanian hanya sekitar separuh tingkat upah sektor industri (Kasryno, 2000).

Orientasi pembangunan masa lalu yang lebih menitikberatkan kawasan perkotaan ternyata belum beranjak lebih baik di era reformasi ini. Pembangunan mal di perkotaan tidak sebanding dengan pembangunan infrastruktur di daerah-daerah pinggiran. Hal ini menyiratkan bahwa segala fasilitas sarana infrastruktur dan tata peruntukan lahan kota, lebih ditujukan bagi kelompok masyarakat yang telah meninggalkan mata pencaharian primer (pertanian) ke sekunder dan tersier (nonpertanian).

Menyoal kota adalah menyoal juga soal urbanisasi. Semangat perkotaan dengan “ancaman” modernitasnya berlaku paling besar bagi wilayah sekitarnya yang terdekat. Bila bukan melalui pengembangan atau pemekaran, imbas semangat perkotaan akan mungkin sampai ke daerah-daerah pinggiran lewat banyak jalan lain.

Seperti ditulis Setyobudi (2001), para petani di daerah pinggiran sebenarnya sudah-atau tengah-melakukan urbanisasi dalam artian pasif. Mereka tidak beranjak, tapi menghadapi suatu perubahan lingkungan. Lahan sawah mereka tidak hanya beralih fungsi, tapi juga beralih kepemilikan ke tangan orang kota.

Tentu, keadaan ini tidak luput berpengaruh terhadap pemuda pinggiran kota. Apalagi secara sepintas pemuda adalah golongan yang dianggap paling suka akan hal-hal yang baru. Mereka akan sangat tertarik menyerap teknologi modern. Dalam hal ini kota dengan segala hasil produksinya ialah simbol dari modernitas. Lebih jauh, tidak berhenti semata mengonsumsi produk-produk kota, mereka tengah berhadapan dengan gaya hidup modern (perkotaan).

Pekerjaan merupakan salah satu alat untuk mencukupi kebutuhan manusia baik secara materi atau nonmateri. Sebagai alat, pada pekerjaan selalu lekat simbol-simbol status yang mendasari pandangan seseorang terhadap pekerjaan tersebut.

Menurut Henry Pirenne (dalam Kuntowijoyo, 2005), jika masyarakat tradisional dengan mudah dikaitkan dengan pekerjaan pertanian, maka ciri-ciri pada masyarakat kota, dengan modernitasnya, ialah dominasi kegiatan nonpertanian sebagai sumber mata pencaharian. Singkatnya, kota-kota hidup dari perdagangan dan industri, sedangkan pedesaan dari pertanian.

Pemuda pinggiran kota ialah subyek yang unik. Di satu sisi mereka merupakan anggota masyarakat perkotaan yang bersifat kosmopolit dan dinamis. Sedang di sisi lain, mereka masih relatif lekat identitas masyarakat agraris, yakni keakraban dengan suasana pertanian. Di lingkungan mereka umumnya sawah dan ladang masih terhampar luas.

Keadaan dualitas ini menempatkan pemuda pinggiran kota pada persimpangan jalan: apakah mereka kelak sepenuhnya tidak melirik pertanian sebagai pekerjaan; atau sebaliknya, meski sebagai sampingan, selingan, atau pilihan terakhir, mereka akan pergi ke sawah dan ladang, berprofesi sebagai petani.

Namun, perlu juga dicermati soal keberadaan lahan pertanian di masa datang. Apakah tidak mungkin suatu saat laju pembangunan perkotaan akan menggilas habis lahan pertanian di daerah-daerah pinggiran. Ingat, sudah banyaknya aturan dirancang, bahkan diterbitkan, tapi tetap mandul mencegah alih fungsi lahan pertanian.***

(Tribun Jabar, Rabu, 23 Juli 2008)

Tuesday, August 12, 2008

"Seteguk Air" dari Leyla


Judul:
Pranikah Handbook: Panduan Persiapan Pernikahan untuk Muslimah
Penulis: Leyla Imtichanah
Penerbit: Madanisa-Salamadani
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: viii+132 halaman

TIDAK sedikit seseorang menikah karena sudah selesai sekolah, sudah tamat kuliah, lalu punya pekerjaan, misalnya. Atau juga yang banyak terjadi, menikah karena dan demi cinta. Tentu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua itu. Karena tidak usah rumit-rumit membuat susah apa yang memang mungkin dibikin mudah, toh?

Akan tetapi, segampang dan semudah itukah soal menikah? Misal, setelah menikah ternyata seseorang tidak kunjung merasa bahagia, meski sekeras-kerasnya dia ingin meyakinkan hati bahwa dia bahagia. Atau sebaliknya, seseorang bahagia luar biasa, harmonis bukan main dengan pasangannya, padahal awalnya dia kurang yakin, kurang suka, bahkan tidak merasa cinta.

Ya, masih banyak kemungkinan lagi bila diteruskan. Pemahaman tentang beragam kemungkinan seperti itulah salah satunya yang ingin disampaikan Leyla Imtichanah melalui bukunya, Pranikah Handbook. Sebab, meski kadang terlihat mudah, menikah sebenarnya bukan perkara sederhana. Bahkan, bukan setelah menikah saja persoalan bisa mendera, tetapi dalam perjalanan menujunya pun seseorang akan mungkin melewati jalan yang tidak mulus. Misalnya, bagaimana "pusing"-nya seorang perempuan menentukan pilihan itu: ya ataukah tidak, menerima ataukah menolak pinangan seorang lelaki.

Sesuatu yang sederhana tidak harus bermakna sederhana. Justru, kepelikan tertentu bila telah dicerna dengan baik dan kemudian dihadirkan ulang secara bersahaja, akan membantu sebuah upaya pemahaman. Dengan ulasan singkat, Leyla menyoal tentang kedewasaan, salah satu kriteria yang penting dalam memilih calon pasangan: "Seorang yang dewasa, tidak akan mengedepankan emosi ketika mengatasi masalah dan mengambil keputusan. Sifat emosional, apalagi kekanak-kanakan, hanya akan menambah masalah atau menumpuknya menjadi gunung berapi yang sewaktu-waktu dapat meledak (hlm 23)."

Memang, konsekuensinya, sesuatu yang sederhana adalah "sekadar" pengantar. Semisal seteguk air bagi seseorang yang sedang kehausan. Guna memuaskan dahaganya, dia harus mencari air lagi lebih banyak, bila memang dia ingin. Begitu juga tentang buku ini. Membaca Pranikah Handbook, seorang perempuan yang memang kehausan mengenai ilmu (mempersiapkan) pernikahan, akan tergerak untuk tidak berhenti mencari sumber-sumber lain yang terkait. Demi keluasan wawasan pembacanya, di akhir buku Leyla pun menuliskan daftar pustaka rujukannya dalam menulis "seteguk air" ini.

Seperti dikemukakan di muka, Pranikah Handbook lebih menekankan aspek praktis seputar persiapan pernikahan. Sehingga, kekurangan buku ini adalah justru sekaligus kelebihannya. Titik tekan Leyla adalah kepada hal-hal yang bersifat panduan sederhana namun berbobot, dengan penyampaian yang "renyah". Kemudian, buku ini pun cukup menyeluruh mengupas persiapan pernikahan meski tidak terlampau mendalam, yang memang diharapkan memudahkan pembacaan dan pemahaman dasar.

Juga, sebagai buku "how to" atau "self help" yang lugas, Pranikah Handbook cukup kaya dengan tips-tips guna-laksana. Tips-tips atau saran-saran yang beranjak dari "curhat" para muslimah kepada penulisnya, dari hasil sharing pengalaman baik langsung atau via bacaan, terutama dari calon-calon pengantin atau pasangan-pasangan muda yang baru menikah, untuk dipetik hikmah dan pembelajarannya. Untuk siapa saja yang berkeinginan menikah tidak semata karena sudah selesai sekolah, telah tamat kuliah dan punya pekerjaan, atau juga menikah hanya karena dan demi cinta. (Wildan Nugraha, mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Faperta Unpad, bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung)***

(Pikiran Rakyat, Kamis, 17 Juli 2008)

"Ruang Lengang" Epri Tsaqib di STSI Bandung

FLP Bandung bekerja sama dengan Daunjati, menggelar peluncuran buku puisi "Ruang Lengang" Epri Tsaqib dan diskusi 9 Agustus 2008 pukul 14.00 WIB-selesai, bertempat di Studio Teater STSI Jln. Buahbatu No. 212, Bandung. Pembicara diskusi Cecep Syamsul Hari dan Soni Farid Maulana, dengan moderator Yopi Setia Umbara. Acara ini dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Semi Ikra Anggara, Ana Bilqis, Heri Maja Kelana, Faisal Syahreza, musikalisasi puisi Kapak Ibrahim, dll ***

Monday, March 03, 2008

Diskusi FLP di Salman


FORUM Lingkar Pena Bandung bersama Perpustakaan Salman ITB akan menggelar acara Gerakan Cakrawala (Gerakan Membaca Karya dan Wawasan Kebudayaan Lainnya) di Gedung Serba Guna Atas Masjid Salman ITB, Jln. Ganeca No. 7 Bandung, pada Sabtu, 22 Maret 2008, mulai pukul 09.00-12.00 WIB. Acara terdiri atas bursa buku dan diskusi bertema ”Sastra Dalam Budaya Massa”. Bertindak sebagai pembicara diskusi, Yasraf Amir Piliang (FSK ITB), Safrina Noorman (dosen UPI), dan M. Irfan Hidayatullah (Unpad), serta moderator Ahda Imran. Pembacaan puisi oleh Yopi Setia Umbara (ASAS UPI).

Saturday, February 23, 2008

Anak Kecil Berpayung Itu Bernama Kreativitas

Oleh Wildan Nugraha

SUATU malam saya bertemu orang kreatif. Waktu itu hujan dan saya tidak membawa payung. Saya menunggu angkot di bawah pohon, tapi tetap kepala dan pundak menjadi basah. Lalu seorang berpayung mendekat. Dia si orang kreatif itu: dia menawarkan agar kami berpayung bersama.

Akhirnya kami mengobrol, maka saya pun tahu dia masih SMP kelas VIII. Dia tengah menunggu angkutan kota jurusan yang sama. Pendek kata, saya merasa beruntung, yang ujung-ujungnya kagum pada kepekaan dan ketulusan anak itu. Bahkan ternyata kami turun di tempat yang sama, lalu kembali berjalan berpayung bersama, sebelum bersalaman dan berpisah.

Ya, saya bilang dia orang kreatif. Dalam hujan, meminjam Jalaluddin Rakhmat (2001), dia berpikir realistik, bukan berpikir autistik. Berpikir autistik itu lebih tepat melamun. Tidak mungkin dia mendekat lalu menawarkan payungnya untuk kami pakai bersama, bila dia sedang melamun. Sebab dengan berpikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantasi. Berpikir realistik, disebut juga nalar (reasoning), ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Berpikir deduktif (mulai dari hal-hal yang umum pada hal-hal yang khusus), berpikir induktif (dari hal-hal yang khusus dan kemudian mengambil kesimpulan umum—generalisasi), dan berpikir evaluatif (berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan), adalah macam-macam cara berpikir realistik.

Contoh berpikir deduktif: “Jika kehujanan orang menjadi basah dan kedinginan. Dia kehujanan. Maka, dia basah dan kedinginan.” Contoh generalisasi (berpikir induktif): “Saya kehujanan dan berpayung. Ibu-ibu itu kehujanan dan berpayung. Bapak-bapak itu kehujanan dan juga berpayung. Semua yang kehujanan itu berpayung! Maka dia yang kehujanan dan tidak membawa payung itu, harus juga berpayung!”

Sementara dalam berpikir evaluatif, kita menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu. Misal: “Orang itu tidak berpayung. Dia mulai basah dan terlihat kedinginan. Raut mukanya ramah. Payungku cukup lebar untuk dipakai berdua.”

Ohya, anak kecil berpayung yang kreatif itu namanya Adi.

Bila tiga macam berpikir di atas bersifat rasional, ada jenis cara berpikir lain yang dianggap irasional, yakni berpikir analogis. Dengan berpikir analogis, umumnya orang menggunakan perbandingan atau kontras. Jika kita mengatakan bahwa kehidupan di Bandung berbeda dengan Jakarta, kita menggunakan perbandingan. Jika kita membandingkan keadaan pedesaan Indonesia sebelum dan sesudah reformasi 1998, kita menggunakan kontras. Disadari atau tidak disadari, setiap kali kita menetapkan keputusan tentang sesuatu yang baru dalam pengalaman kita, kita kerap berpikir secara analogis, yakni dengan menghubungkannya pada sesuatu yang sama pada masa lalu. Bila kita membeli ikan mas, karena kita menyukai ikan mas yang dulu, atau jika kita mendengar nasihat kawan, karena dulu nasihatnya benar, kita berpikir secara analogis.

Timbul pertanyaan, ketika orang berpikir kreatif, jenis berpikir manakah yang paling sering dipergunakan: deduktif, induktif, atau evaluatif? Menurut Jalaluddin Rakhmat jawabannya justru: berpikir analogis! Saat seseorang berpikir kreatif (analogis), dia mampu melihat berbagai hubungan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Orang biasa juga sering berpikir analogis, tetapi berpikir analogis orang kreatif ditandai oleh sifatnya yang luar biasa, aneh, dan kadang-kadang tidak rasional. Ada yang mengatakan bahwa orang kreatif biasanya agak gila. Baik orang gila maupun orang kreatif, memang, mempunyai kesamaan: berpikir tidak konvensional. Tetapi pikiran orang gila tidak menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah. Orang kreatif melakukan loncatan pemikiran yang memperdalam dan memperjelas pemikiran. Dengan kata lain, meminjam Budi Matindas, kreativitas adalah penyelewengan yang mendapat acungan jempol. Acungan jempol itulah, lebih kurang, yang membedakan seorang kreatif dengan yang sekadar nyentrik, aneh, bahkan gila.

Soal kreativitas erat juga kaitannya dengan konsep berpikir konvergen dan divergen. Jika kita ditanya, “Apa ibu kota Republik Indonesia?” kita menjawabnya dengan berpikir konvergen, yakni kemampuan untuk memberikan satu jawaban yang tepat pada pertanyaan yang diajukan. Jika kita ditanya, “Apakah perbedaan antara desa dan kota? Sebutkan sebanyak mungkin,” kita menjawabnya dengan pola berpikir divergen, yakni, mencoba menghasilkan sejumlah kemungkinan jawaban. Berpikir konvergen erat kaitannya dengan kecerdasan; divergen, dengan kreativitas.

Ada cerita terkenal tentang mekanisme berpikir analogis-metaforis. Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir kreatif. Raja Syracus ingin mengetahui apakah mahkotanya betul-betul terbuat dari emas murni, atau tukang emas sudah menggantikannya. Ia menyuruh Archimides menelitinya. Archimides mulai berpikir, “Bagaimana caranya menentukan logam yang dijadikan bahan mahkota itu tanpa merusaknya?” (tahap orientasi). Lalu, ia meneliti semua cara untuk menganalisis logam (preparasi). Semuanya memerlukan pemotongan atau pemecahan. Ini tidak mungkin dilakukan. Archimides menyingkirkan soal ini sementara (inkubasi). Suatu hari, ketika mandi, ia merasakan tubuhnya mengapung. Ia menemukan pemecahannya (iluminasi). Ia melonjak gembira, dan dalam keadaan telanjang lari ke jalan, seraya berteriak, “Eureka, eureka!” (Saya menemukannya, saya menemukannya!) Setelah itu, ia menguji hukum Archimides—begitu kemudian dikenal dalam dunia fisika—untuk meneliti berapa jumlah air yang dipindahkan oleh emas murni seberat emas dalam mahkota itu (verifikasi).

Kembali ke Adi, si bocah kreatif... Samakah dia, malam itu, mengalami tahapan-tahapan proses berpikir kreatif, seperti Archimides?

Lalu bila saya hendak ikut-ikutan berkreativitas, seperti misalnya menulis kreatif (bersastra, berprosa, berpuisi) berdasarkan pengalaman saya malam itu, bagaimanakah caranya?

Saya ingin menjawabnya: entahlah! Karena pada hakikanya proses kreatif seseorang terlalu pelik untuk dipetakan. Dan logika ujung-ujungnya hanya bermungkin-mungkin-ria, saat hendak menembus misteri sebuah perjumpaan, penemuan, penciptaan. Mungkin saja saya bisa menerapkan lima tahap berpikir kreatif di atas: Orientasi, Preparasi, Inkubasi, Iluminasi, dan Verifikasi. Atau, saya lebih mula menekankan pada berpikir divergen, dengan memikirkan sebanyak-banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi. Lalu menetapkan sebuah konflik sebagai inti cerita, bila saya hendak berprosa (terutama menulis cerpen). Atau lebih baik saya berpikir analogis-metaforis? Menyangkutpautkan hujan, malam, payung, dan sebuah perjumpaan, pada sesuatu hal lain yang berbeda; memberi kebaruan makna pada kata-kata itu, karena bukankah pesan (kata-kata) diberi makna berlainan oleh orang yang berbeda—words don’t mean; people mean!***

(Sabili No. 13 Th. XV 10 Januari 2008)

Thursday, December 27, 2007

Tentang Puisi

Oleh Wildan Nugraha

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akang Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.
(“Dengan Puisi, Aku”, Taufik Ismail, Tirani dan Benteng, 1983)

Karena berpuisi adalah pilihan dalam berekspresi. Maka dengan caranya tersendiri—cara yang indah, seseorang bisa menuangkan apa saja. Bahkan mengutuk pun dapat: Dengan puisi aku mengutuk/Nafas zaman yang busuk, demikian Taufik Ismail. Mengutuk yang memang bukan sekadar mengutuk. Namun yang menurut-sertakan pertimbangan keindahan.

Bolehlah kita mempelajari puisi lewat pendekatan akademik beraroma kuliahan. Misalnya menganggap puisi adalah suatu sistem penulisan yang margin kanan dan penggantian barisnya ditentukan secara internal oleh suatu mekanisme yang terdapat dalam baris itu sendiri (Djojosuroto, 2006). Wah—cape deh! Tapi itu perlu. Seperlu juga kita menyimak Shelley tentang puisi (dalam Pradopo, 1987): puisi adalah rekaman detik-detik paling indah dalam hidup manusia. Misalnya peristiwa-peristiwa mengesankan, menimbulkan keharuan, seperti kebahagiaan, kegembiraan memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang tercinta. Itulah detik-detik indah untuk direkam.

Boleh kita mencurigai, bahwa puisi yang baik tak bisa tidak lahir dari cara berpikir yang juga puitis. Bila demikian, tentu dalam kesehariannya seorang penyair inginnya tak akan melewatkan sebuah peristiwa pun berlalu terbiarkan begitu saja. Jiwa dan raganya akan siap merespons apa saja, untuk ia maknai. Naluri kemanusiaannya tak jadi kering. Bahkan terhadap sehelai daun luruh pun, melihatnya otak dan nurani dia akan bekerja: segeralah tercetus perasaan tak pantas mengabaikan sebuah saja kesempatan untuk merenung dan tersenyum, sesederhana apa pun itu.

Bila kemudian lahir sikap gemar bertanya dan kritis sekaligus arif, bukan lain ini adalah sebuah indikator positif manusia dalam bersyukur atas nikmat punya akal punya pikiran. Siapakah sesungguhnya manusia, dari mana, untuk apa, dan hendak ke manakah gerangan ia?

Bila membaca daun yang gugur atau ranting yang mengering atau riak air di permukaan danau telah mendorong penyair untuk berpikir, tentulah terhadap hal-hal lebih “besar” dia akan coba teruskan untuk menafakurinya: terhadap gaya rambut dan model baju yang berubah-ubah, selera musik yang bertingkat-tingkat, sampai kualitas film dan sinetron kita yang konon banyak tersunat, dikorup banyak kepentingan. Atau yang “enggak banget, gitu loh”: bapak haji kok korupsi? Apakah gerangan yang bersembunyi di balik antrean fenomena itu? Bila kita mencoba mendekatinya lewat perkara identitas, identitas keislaman misalnya, mungkin cocok mengutip sebuah penggalan karya Mustofa Bisri:
.....
Islam kausku
Islam pentasku
Islam seminarku, membahas semu
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa
Tuhan, Islamkah aku?
(“Puisi Islam”, Mustofa Bisri, Tadarus, 1993)

Barangkali sang penyair, Mustofa Bisri, tengah mengikuti anjuran Umar bin Khatab r.a. untuk tidak bosan menghisab diri sendiri sebelum kelak ia dihisab Tuhannya. Sekalipun Mustofa seorang kyai, lewat puisi itu ia lebih melakukan solilokui ketimbang berkhotbah. Dalam puisi itu dia lebih hadir sebagai aku lirik yang tengah berkontemplasi sendirian saja, bukan sebagai pendakwah yang dengan sengaja mengajak orang lain untuk berislam. Perkara pembacanya jadi ikut-ikutan merenung, berpikir dalam soal indentitasnya sendiri, itulah salah sebuah keajaiban puisi. Atau sebut saja, itulah bukti kekuasaan Tuhan. Karena bagaimana tidak, manusia pada hakikatnya, bagi yang meyakini, adalah milik Tuhan, yang barang tentu karenanya ada pula dalam genggaman Tuhan.

Sampai di sini mungkin kita bisa melihat bahwa berbeda dengan prosa (cerpen, novel) yang umumnya bersifat menaratifkan sebuah fenomena, puisi pada hakikatnya adalah pemadatan, pemampatan, pengintisarian dari sebuah hal yang sangat luas. Maka bila seseorang menulis puisi, seakan dia tengah berupaya memeras semilyar kata menjadi beberapa saja yang bisa mewakili.

Nah, karena puisi adalah sebuah intisari, maka saat menikmati atau memaknainya lebih lanjut, seseorang bisa, misalnya, berpikir ke sana. Atau bila aktivitas berpikirnya dituang ke dalam tulisan, berbekal pengetahuan dan wawasan penunjang, dari puisi secuil saja dia bisa menyusun sebuah artikel panjang dan mendalam. Sungguh ajaib dan menyenangkan sebenarnya. Dari sesuatu hal yang amat luas, kemudian dipampatkan, kemudian dikembangkan kembali. Seperti sebuah permainan saja. Permainan yang menyehatkan, memupuk kepekaan, mengasah kreativitas, membangun intelektualitas.

Dan tak kalah penting, tentu saja puisi yang baik adalah puisi yang menginspirasi, yang bisa mendorong siapa saja untuk mau belajar menjadi lebih baik. Juga, yang mampu menggerakkan!

Bandung, 18 Oktober 2007

(Sabili Edisi 9 Th XV, 15 Nov 2007)

Sunday, April 01, 2007

Pencapaian Bentuk dan Isi dalam Hujan Luruh di Gigir Sunyi

Oleh Wildan Nugraha

Dalam berkarya, disadari atau tidak, seorang pengarang senantiasa bergulat dalam pencapaian bentuk dan isi. Yang dimaksud dengan bentuk adalah cara pengarang menulis, sedangkan isi adalah gagasan yang diungkapkan pengarang dalam tulisannya. Dari sini muncul pertanyaan yang sudah klasik, mengenai mana yang lebih penting antara bentuk dan isi. Membaca novel Hujan Luruh di Gigir Sunyi (FBA Press, 2005), lebih kurang kita disuguhi hasil usaha pengarangnya, Nurfahmi Taufik Al-Sha’b, memadukan bentuk dan isi.

Nurfahmi dalam Hujan Luruh di Gigir Sunyi (selanjutnya HLdGS) mengambil bentuk epistolary atau novel bersurat. Bentuk ini dipelopori dan dikembangkan oleh novelis Inggris Samuel Richardson (1689-1761), yang kesemua karya novelnya berbentuk rangkaian surat. Satu yang terkenal dan dianggap karya terbaiknya ialah Clarissa; or the History of a Young Lady (7 volume, 1747-1748). Melalui pencapaiannya, Samuel Richardson tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah novel Inggris modern. Contoh lain yang patut disebutkan ialah sebuah novel karya sastrawan Jerman, Johann Wolfgang Goethe (1749-1832), yakni Die Leiden Des Jungen Werther (1774), yang sudah diindonesiakan menjadi Penderitaan Pemuda Werther (YOI, 2000).

HLdGS menceritakan setidaknya enam tokoh. Rofik Zulkifli, sebagai tokoh sentral. Kemudian Evi Nurazizah, Shinta Muharami, Ani, Ati, dan Siti Aminah. Mereka semua saling berinteraksi. Bagi pembaca, dinamika yang terjadi di antara mereka tersampaikan lewat kumpulan surat, terutama surat dari Rofik untuk masing-masing tokoh lainnya. Dalam novel ini kita mendapati surat berbalas surat, dengan pemeran utama sebagai sentralnya.

Perkara isi, Nurfahmi mencoba menghadirkan lika-liku pemikiran Rofik Zulkifli dalam menjalani hidupnya. Di sini terutama terdapat dua tema besar: tentang cinta dan ketarbiyahan. Yang pertama disebutkan ialah mengenai ikhtiar Rofik dalam mencari jodoh. Salah satu usahanya ialah ber-ta’aruf dengan Shinta Muharami, melalui surat. Lalu mengenai ketarbiyahan, yang agaknya mengambil porsi besar dalam novel ini, ialah bersebab keenam tokohnya ialah aktivis Jamaah Tarbiyah, atau yang lebih familiar dikenal sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sehingga lewat HLdGS, pembaca yang kebetulan belum mengenal PKS, sedikit banyak akan tahu tentang partai politik ini, tentunya lewat kacamata Nurfahmi, yang diejawantahkan lewat tokoh-tokohnya.

Terdapat pararelitas tema antara HLdGS dan Penderitaan Pemuda Werther, atau umumnya dengan kebanyakan karya sastra, yang memang berkutat tidak jauh dari urusan “memanusiawikan manusia”. Dalam Penderitaan Pemuda Werther Goethe menunjukkan bagaimana perasaan menjadi tumpul karena norma dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Ini berhubungan dengan hak-hak istimewa yang dimiliki kaum bangsawan sejak lahir, bukan karena dicapai melalui usaha dan kemampuan. Walau tidak “separah” apa yang hendak digugat Goethe, atau seharu-biru roman Siti Nurbaya yang tokohnya dilindas kultur kawin paksa di zamannya, Nurfahmi dalam HLdGS menggambarkan Rofik Zulkifli yang gerah dengan “keseragaman” pola pikir rekan-rekannya di Jamaah Tarbiyah, yang menurutnya mereka itu stereotip dan tak lebih dari hasil cetakan partai belaka. Momentum yang tepat Rofik dapatkan saat berusaha mencari cinta (jodoh).

Sebagai orang yang memercayai cinta, Rofik mensyaratkan bagi dirinya sendiri dalam berjodoh, yakni ia harus mencintai calonnya. Sebab menurutnya, sarana untuk terjadinya berpasang-pasangan seperti yang difirmankan Tuhan dalam Al-Qur’an, adalah cinta. Dan hanya dengan cintalah ia akan menemukan calon istri yang se-kufu. Konsekuensinya, dalam ber-ta’aruf Rofik kerap mengalami ketidakcocokkan. Dampaknya, Rofik dianggap tidak serius oleh rekan-rekannya di jamaah. Lebih luas lagi, berkenaan dengan “tawar-menawar” antara idealitas dan realitas dari zaman ke zaman yang memang tak juga kunjung rampung, Rofik memilih “berbeda” dengan kader lainnya.

Misalnya dalam berislam. Ini semacam otokritik terhadap sebuah institusi dari seorang kadernya: Meskipun Rofik mengakui Jamaah Tarbiyah adalah kelompok yang paling cantik dan elegan dalam merepresentasikan Islam di Indonesia (karenanya Rofik memutuskan bergabung), ia tidak ingin menjadikan Tarbiyah sebagai terminal akhir dalam berislam, sebagai media pamungkas bahkan satu-satunya sarana untuk mendekat dan kelak menuju Tuhan, sebagaimana yang sering didengar Rofik sebagai kelaziman bahkan “keharusan” dalam jamaahnya. Hal ini dalam wacana sosiologi, merupakan dampak pendikotomian yang terjadi dalam masyarakat modern antara kehidupan privat dan kehidupan publik, di mana kerap kehidupan privat cenderung inferior dan dikuasai oleh kehidupan publik.

Kemudian dalam HLdGS, kita pun dapat merasakan pengerucutan kisahan yang dilakukan Nurfahmi pada sebuah gagasan mula dan akhirnya, bahwa tiap-tiap manusia itu unik dan memiliki konstruksi yang berbeda model kerumitannya. Untuk itu, tidak harus seseorang lantas main pukul-rata terhadap orang lain atau berharap terlalu lebih tentang seseorang.

Hal lain yang bisa ditemukan dalam novel debutan Nurfahmi Taufik Al-Sha’b ini ialah, lewat tokoh Rofik yang kritis namun sekaligus berusaha keras menjaga keislamannya, kita melihat “pertemuan” antara kutub “intelektualitas” dan “tradisonalitas”. Karena bukankah salah satu ciri keintelektualan ialah kecenderungan untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu; sedangkan ketradisionalan adalah “pasrah” terhadap kebertentuan nasib (kebertakdiran) yang jadinya seolah tidak misterius itu?

Memadukan bentuk dan isi agar saling mendukung dalam sebuah novel yang baik, yakni yang mendedah realitas, mengobarkan imajinasi, dan menyuarakan aspirasi sekaligus, pada gilirannya akan menggapai salah satu hakikat sastra: menggambarkan manusia sebagaimana adanya. Ia akan mengajak pembaca melihat karya tersebut sebagai cermin dirinya sendiri. Untuk itu, satu segi yang tak akan luput oleh seorang pengarang yang baik ialah perkara retorika. Ini penting agar pembaca “rela” berpartisipasi dengan keinginan pengarang.

Namun bukan tanpa risiko, kemahiran beretorika pada kadarnya yang tertentu dapat mengaburkan moral atau amanat dalam sebuah karya sastra, sehingga bukan moralitas yang diidealkan yang muncul namun kecanggih-mahiran si pengarangnya meretorikakan tokoh-tokohnya sesuai dengan logika dan maksud yang dikehendaki.

Seperti dalam HLdGS, sebenarnya tidak sedikit paradoks yang hadir berseberangan dengan kekritisan Rofik: banyak bertebaran kalimat-kalimat yang “menggelikan” namun menarik dan terkesan jujur di novel ini. Salah satunya dalam sebuah surat Rofik kepada Ani: “Ani, orang itu punya selera...kecenderungan. Selama aku ‘ditarbiyah dan di tarbiyah’...aku memang mengalami banyak perubahan. Tapi aku belum bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaanku itu...”[]

==============
Esai ini dimuat di Sabili, edisi 17 th xiv 8 Maret 2007

Sunday, September 17, 2006

membakar layla

Bismillah. Undangan bagi kawan-kawan yang luang, untuk Membakar Layla. Insya Allah, Jumat-Sabtu, 22 hingga 23 September 2006, di Gunung Kasur.

Hari Jumat pukul 14:00 siang, kita bertemu di terminal Ledeng, Bandung. Setelah berkumpul, Kang Adew Habtsa akan mengantar kita menuju kawasan perkebunan kina, Gunung Kasur, Bukit Tunggul, Lembang. Perjalanan menuju lokasi ini termasuk berjalan kaki lebih kurang tiga kilo meter, sebelum tiba di sebuah rumah tempat kita Membakar Layla!

Menurut rencana, kita akan memasak sendiri (perangkat keras seperti kompor minyak tanah dan wajan di sana dapat digunakan): yang pandai memasak bisa menyumbangkan kebolehannya.

Jam 8 malamnya: kita akan menggelar acara “Mengeksplorasi Ruang”.

Jam 9:30 malam: kita beranjak ke tanah lapang di sekitar perkebunan, menyalakan api unggun, membakar layla: “Mendaftar Curian (Menanti Lampu Mati)”—silakan membawa jaket, senter, lilin, makanan kecil, dan lainnya yang kawan perlukan. Di sini silakan saja hingga melagukan “curian”-nya masing-masing. Atau memuisikannya agar lebih syahdu hingga terbakar habis. Atau, hanya menggumamkannya tanpa terdengar bahkan buat telinga sendiri. Yang jelas, ini sebelum lampu listrik mati, dan kita melihat api unggun masih terang, beberapa puluhan jam menjelang Ramadhan—insya Allah.

Ba’da Subuh keesokan harinya, Sabtu, 23 September. Setelah matahari menggeser malam, kita pergi jalan-jalan: bila boleh, kita namai saja acaranya dengan sederhana: “Menyantap Pagi di Kebun Kina”. Banyak lanskap hijau dan sebagainya yang jarang ada di kota: kalau engkau masih percaya, konon itu menyehatkan, seperti minum susu di pagi hari, atau sebelum imsak bila Ramadhan. Ohya, kata Kang Adew, di sana banyak juga kandang kambing; tapi itu tidak terlalu penting.

Selamat datang Ramadhan....
Membakar Layla, sebuah acara jalan-jalan.

Wassalam

FLP Bandung

============

Kontak Adew Habsa: 022-2000754
Kontak Hendra Veejay: 085624124181/ email: hendra_veejay@ yahoo.com
Kontak Lian Kagura: 081802141070/ email: liankagura@ yahoo.com
Kontak Riki Cahya: 08156219165/ email: rikicahya@ yahoo.com
Kontak Wildan Nugraha: 0817613420/ 022-5226967/ email: wildanugraha@ yahoo.com

Postscript: Soal ongkos: Jumat siang di Ledeng, sebelum pergi, kita mengumpulkan uang (sekitar) 18000 rupiah per orang.
Dan, bagi kawan-kawan yang hendak turut acara ini, diharapkan hadir terlebih dahulu di Kamisan FLP Bandung, 21 September 2006, sore jam 16:00, di Masjid Salman ITB. Atau paling tidak, mengabari keikutsertaannya kepada nama-nama di atas.

Saturday, June 24, 2006

Realitas

Barangkali sebuah kebetulan, dua dari tiga cerpen yang dibahas esai ini, ialah karya pengarang Yogya, yang 27 Mei lalu, tertimpa gempa: Joni Ariadinata dan Puthut EA. Dari kabar, alhamdulillah, mereka selamat. Kita doakan bersama.

**

Bukanlah sebuah kemestian, menjadikan karya sastra sebagai jembatan untuk memahami, mencermati, dan memaknai realitas sebuah zaman. Akan tetapi, tanpa perlu memerosokkan diri pada peliknya ruang kreatif para pengarangnya, setidaknya, melalui cerpen "Beringin Cinta" Joni Ariadinata, "Seorang Gadis Tergeletak di Trotoar" M Irfan Hidayatullah, dan "Dalam Pusaran Kampung Kenangan" Puthut EA, kita disodori "kenyataan" itu: sebutlah, sisi-sisi lain realitas kekinian.

Dalam "Beringin Cinta" kita berkenalan dengan Irene, seorang mahasiswi. Kerjanya kuliah, tentu saja. Ia membawa buku-buku ke kampusnya. Namun Joni tidak menggarap habis Irene. Irene dituliskan gadis manja yang terbuai terlena oleh fasilitas dari orangtua tanpa kekang, dan lebih lanjut Joni menjadikannya batu loncatan untuk menggambarkan realitas imajinernya: sebuah kampus Sastra, dengan sebuah beringin tumbuh di tempatnya. Semua pragmatis belaka di tempat orang-orang intelek itu.

Tidak ada idealisme, boro-boro gambaran lingkungan agen perubah sebuah zaman. Semua, bahkan hingga bapak-bapak dosennya, terpuruk mencetak nilai dan ijazah, mengejar materi dan pengganjal perut belaka, bahkan syahwat. Dan Irene dan kawan-kawan mahasiswa-mahasiswinya cuma haha-hihi sepanjang hari. Sepulang kuliah, hingga larut, kita semua bisa menebaknya, sebenarnya. Dan di "Beringin Cinta" tidak ada plot yang jelas, konflik yang jelas, dst dst. Namun jejak-jejak apa yang mau dikatakan pengarang lewat kekerasan, kesemrawutan, atawa kerancakan bahasa dan ungkapan yang memang khasnya Joni, dapat tetap terendus. Hingga, walau ada aroma generalisasi yang terkesan sinis, pembaca yang menamatkan pembacaan telah tersapa: ya, itulah, realita kekinian, agar orang tahu. Namun hemat saya, "Beringin Cinta" berbeda dengan film Virgin, yang konon sama juga hendak menunjukkan realitas anak muda metropolitan zaman kiwari.

"Seorang Gadis", karya M Irfan Hidayatullah, yang kini ketua Forum Lingkar Pena itu. Sama "sederhana"-nya dengan apa yang ingin disampaikan Joni. Irfan ingin menggambarkan orang-orang kota yang nuraninya tergerus limpahan materi. Visi dan misi hidup mereka--sebutlah demikian--tidak lagi jelas: banyak paradoks yang membikin kabur. Sepasang suami istri yang terobsesi menjadikan anak mereka seorang bintang, seorang selebriti atau apalah yang cerdas luar biasa, terkenal lebih dari Dian Sastro atau Britney Spears sekalipun, kalau mungkin.

Anak gadis itu, yang bahkan namanya sudah Bintang, tumbuh sesuai plot orangtuanya. Ia cantik, cerdas, baik, dirindukan, didambakan, dst. Namun ternyata dibalik itu nurani Bintang sampai juga pada titik kritis: Mengapa dan mengapa? Mengapa aku harus begini, mengapa aku harus begitu? Dan untuk apa? Namun deretan pertanyaan eksintensialis itu buyar dan berhenti di ruang-ruang massa yang Irfan simbolkan dengan mal. Akan halnya dengan orangtua Bintang, Irfan dengan dingin menggambarkan paradoks itu: meski memerlakukan Bintang layaknya koleksi guci antik, namun kekhawatiran sang ibu terhadap Bintang kalah oleh kepuasan melewatkan pedicure di salon selama berjam-jam.

Lalu "Dalam Pusaran Kampung Kenangan", salah satu cerpen terbaik Sayembara Horison 2004. Puthut EA menjadi pencerita yang apik di sini. Dengan aroma storytelling yang kental terjaga, cerpen ini "berbicara" banyak sekali hal. Bisa jadi, apa yang hendak Puthut sampaikan ialah kegelisahannya pribadi terhadap perkembangan zaman yang menggila dewasa ini, terutama yang menimpa generasi muda. Dan perihal kegelisahan itu, rasanya tidak salah bila menyebutnya dapat mewakili sebagian besar kegelisahan manusia Indonesia yang waras. Aku pencerita di sini tengah mudik untuk menghadiri pemakaman guru mengajinya di masa kanak. Dimulai dengan kabar dari kampung itu, mengalirlah pula cerita seputar kampung dan permasalahnya, serta pandangan-pandangan "aku" terhadap segudang masalah itu. Mengapa makin jarang saja orang berkumpul di warung kopi, mengobrol hangat, bercengkrama dan seterusnya. Mengapa anak-anak muda seusia SMP dan SMU, kini menjadi "garang" dan "liar".

Yang menarik di cerpen ini, Puthut mengangkat Islam sebagai setting, yang lantas latar itu tidak berhenti sebagai latar, sebagai tempelan belaka. Namun digambarkan Islam yang telah kabur sedari awal oleh kultur masyarakat kampungnya bahkan desanya yang jumud--(desa itu terdiri dari beberapa kampung, salah satunya kampung tokoh"aku".) Guru-guru mengaji dan orang-orang tua di satu sisi sukses melestarikan ritual sholat dan pengajian, namun tidak bisa merombak kebiasaan masyarakat akan judi dan menenggak arak, terlebih kemudian terhadap maksiat lain yang lebih samar namun lebih dahsyat dampaknya: sabu-sabu, video porno. Bahkan mereka hanya bisa kebingungan tanpa mengerti melihat fenomena hp dan play station, yang menyedot minat anak-anak remaja dengan gawatnya.

"[...] warung-warung kopi begitu sepi. Anak-anak kecil sampai yang sudah besar lebih sering nongkrong di tempat play station, tempat-tempat bilyar yang mulai berjamuran, maupun menonton vcd porno. [...] Bu Pariyah salah seorang janda yang dulu berjualan nasi uduk di pagi hari, menghilang entah kemana setelah anak perempuannya yang paling buncit minggat gara-gara tidak dibelikan hp. [...]" ("Dalam Pusaran Kampung Kenangan", Puthut EA, Horison, Januari 2005).

Melalui tokoh "aku", Puthut hampir tidak "bersuara". Ia sebagai kreator, seperti kebanyakan pefiksi yang berhasil, agaknya, lebih menjaga konsistensi dalam pelukisan dan koherensi kisahan dengan tema; melepasbebaskan "aku" untuk berpikir dan berpandangan sesuai kapasitas pribadinya. Hanya beberapa ungkapan bernada pengakuan setelah panjang dan lebar penyituasian: "Mungkin sebetulnya hanya kami yang tidak gampang menerima perubahan jaman. Perubahan yang diam-diam kami ikuti, tetapi semuanya hanya dengan setengah hati. [...] Kami, aku dan teman-teman sebayaku, orang-orang yang lebih tua, sebetulnya bukannya tidak bisa mengerti, tetapi mungkin tidak mau mengerti.".

**

Bila kita mengingat "Maklumat Sastra Profetik"-nya almarhum Kuntowijoyo, kita mendapati bahwa: Sastra Profetik berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaian dan kritik sosial-budaya secara beradab. Ia adalah renungan tentang realitas. Dan dengan caranya sendiri Sastra Profetik diharapkan menjadi arus intelektual terhormat, menjadi sistem simbol yang fungsional, bukan sekedar trivialitas rutin sehari-hari dan biasa-biasa saja. Dengan lain perkataan, realitas tak mesti ditutupi, namun juga perlu dikritisi, bukan dibiarkan menjadi stagnan dan jumud.

Karenanya, hemat saya, benarlah ungkapan bahwa "sastra lebih luas dari realitas", "sastra membawa manusia keluar dari belenggu realitas", atau "sastra membangun realitasnya sendiri". Seperti dalam tiga cerpen itu, realitas kekinian memang terhidangkan, namun tak dibiarkan telanjang dan membelenggu.[]

Bandung, 1 Juni 2006
(Seiring doa untuk Yogya)

Esai ini dimuat Sabili edisi 25 th xiii Juni 2006

Sunday, June 18, 2006

LILIN


Malam 10 Juni itu saya tidak mencatat berapa lilin berubah menjadi puisi. Sebuah detail yang mungkin abai dari hitungan saya; namun tidak pada temaram ruangan itu. Saat tulisan ini masih di kepala, saya mencoba memikirkan semua-mua hal. Soal riuh rendah sore di Ledeng dan satu per satu kawan-kawan muncul terlambat. Soal embun di daun pelan menguap oleh pagi keesokan harinya, seperti doa yang hanif terbang ke langit, dari kabar kawan-kawan akhwat. Soal, ah-ah, buaya-buaya yang lucu kita sapa dan ambili gambarnya di siang Ahad itu. Soal stroberi dan jerawat entah mengapa masuk "Kamus Neruda" dan semua terlihat bahagia. Namun, terang yang pendar dari lilin-lilin itu, yang lantas hadir selebih kukuh di sekeliling saya.

Malam 10 Juni itu, saat akhirnya saya mencoba meyakinkan Kang Adew agar tidak lagi perlu mengupayakan listrik meluncur ke pondok, sebenarnya saya tengah mengocok dadu dan melempar harapan pada kawan-kawan: entah berapa totalnya lilin yang kita kemas dan malam terus beranjak tua dan saya tidak tahu apakah semua kawan bakal nyaman tanpa menatap bolam berpijar semalam saja.

Akan tetapi justru kini saya kira batalnya listrik di pondok ialah salah satu keajaiban dunia--pujilah nama-Nya, kawan. Siapa sangka acara itu mengalir menawan dan berkesan melebihi harapan--setidaknya bagi saya: ini soal pencahayaan. Mirip tontonan teater atau ruang bioskop yang dibuat gelap sepanjang pertunjukkan. Membuat mata hadirin rela digiring fokus tertentu dengan penekanan lebih. Dan malam itu di pondok itu, penekanan yang lebih bukan milik satu dua namun padu dari semua. Hingga saya lena telah menulis di undangan, bahwa pondok di Nyampai, Cikole, Lembang itu, ialah tempat yang representatif bagi kawan-kawan.

Barangkali seharusnya, di sana, saya mengawalkan tandakutip di kata representatif. Hanya saja yang berlalu sudah tersurat dan ini memang perihal pencahayaan, tentang lilin, soal lighting, yang terserak lalu terpetik dari belantara probabilitas: Evaluasi ialah waktu empuk untuk tersenyum dan menjumput bilah dan remah kenang-kenangan yang lalu.

Membaca Layla: sebuah perjalanan menafsir malam. Entah sebelah mana yang dibatasi sebenarnya. Hanya memang lilin-lilin yang menyala itu dan pondok itu menjadi setengah gelap membuat saya jatuh cinta pada detik-detiknya. Barangkali kita ingat, di langit rembulan tengah penuh. Dan layar malam itu alangkah simpuh.

Di rumah, 14 Juni 2006
[Wildan Nugraha]

membaca layla

Bismillah. Membaca Layla, sebuah perjalanan menafsir malam (awalnya hendak 3-4 Juni 2006), insya Allah Sabtu hingga Ahad, 10-11 Juni 2006. Kawan-kawan FLP Bandung, FLP Jabar, dan semua yang berminat, berkenan, berkeinginan untuk bergabung dipersilakan berkumpul ba’da ashar tanggal 10, pukul 15.30 WIB, di sekitar terminal Ledeng. Insya Allah Kang Adew Habtsa, tuan di rumah Ledeng, akan memandu keberangkatan.

Mengumpulkan sejumlah uang, dari Ledeng kita berkendaraan umum menuju Lembang, lalu lanjut menuju Nyampai, Cikole. Di sana telah menunggu sebuah pondok yang cukup representatif bagi ikhwan dan akhwat. Dan sejumlah acara akan bersama kita rangkai hingga matahari Ahad naik ke langit: Membaca Layla: "Eksplorasi Ada", "Eksplorasi Diri", "Kamus Neruda", "Air Mata Buaya", "Tausiyah (yang) Puitis".

Untuk itu, kawan-kawan memerlukan perbekalan per orang: sepaket nasi siap makan (untuk Sabtu malam); camilan, makanan instan, air matang dalam botol sebanyak yang kawan butuhkan; perlengkapan tidur, mandi dan makan, obat-obatan; buku sajak dan satu-dua puisi yang dihapal; lima batang lilin; uang transport 12.300 rupiah. Dan beberapa alat tambahan bagi yang memiliki: kompor praktis berikut alat masaknya. Dan perbekalan lainnya: silakan kawan pikirkan dengan matang, dan bawa apa pun sesuai kebutuhan.

Membaca Layla, sebuah perjalanan menafsir malam, insya Allah.

Wassalam,

Wildan Nugraha

Dibalik Membaca Layla:
Koordinator Umum: Adew Habtsa (022-2000754)
Koordinator Acara: Lian Kagura (081802141070/ email: liankagura@yahoo.com)
Humas/Informasi: Hendra Veejay (085624124181/ email: hendra_veejay@yahoo.com)
Dokumentasi: Riki Cahya (08156219165/ email: rikicahya@yahoo.com)

Pengagum Taman Bunga

Wildan Nugraha

IA menyalakan bolam bertudung di atas meja tulisnya. Setelah bunyi saklar, tidak terdengar sesuara selain malam di luar jendela. Dengan pensilnya ia merangkai sketsa sebuah taman, yang selalu jatuh di matanya dalam perjalanan pergi dan sepulang bekerja.

**

MAAF barangkali saya mengganggu Anda. Walau saya ragu namun ada yang mendudu. Begini. Saya tahu tak kan ada cara tertepat mengungkapnya. Taman kecil berbunga yang mengelilingi saya, kini kehilangan daya tarik serta pukaunya berkat perusahaan mereka memajang nama produk itu: Kutilista.

Tentu niat mereka baik dan wajar. Profesional dan ditingkah dedikasi. Imbal balik atawa kompensasi, serta prinsip simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, adalah halal dan proporsional malah menyehatkan. Karena bekerja mencari nafkah adalah berjarak dengan ruang bakti bersih-bersih tepian jalan kompleks. Akan halnya memugar taman di sekelilingku bukan keraguan saya: bunga-bunga itu indah nan asri dengan sentuhan komposisi mumpuni, mengelilingi saya berlapis-lapis dengan variasi dan warna-warni di sana-sini. Hasil tangan ahlinya yang sanggup melihat dengan mata penikmat pencari suasana. Bukan sekadar sebagai pekerja dengan tingkat kebosanan akut, tapi kerja kreatif bak seniman penggali rasa.

Hanya saya curiga, bila benar, mungkinkah ada dua tangan di situ: yang berikutnya khusus mengejar keterbacaan Kutilista dengan amat-sangat mencolok mata mematok imajinasi: demi kejar tayang atau selera perusahaan mereka belaka? Sebentar, tidak santunkah kalimat saya?

Huruf-huruf besar, sedikit lebih tinggi dari badan Anda barangkali, yang berdiri tegak itu mengingatkan saya pada para preman yang tidak baik hati, senang kasar-kasaran, mengganggu. Lalu catnya, komposisi warnanya, jauh dari kesan lembut dan cerdas, yang saya gemari--bukan semacam selera rendahan nan frontal. Tanpa mengajak saya berembuk, mereka menghapus sihir ambigu yang menawan dengan kesahajaan, dan kini puisi telah terpangkas dari taman kecil yang mengelilingiku. Saya merasa tak lain papan reklame kaku dan angkuh kini. Yang memotong sedari awal wisata pikiran sesiapa yang menambatkan matanya pada saya, pada seputaran saya. Semacam kemunduran yang samar namun tetap teraba lantas diabaikan begitu saja, sebab terlapisi kemajuan lain yang bersicepat di zaman ini yang tanpa rehat dan melenakan. Kini lebih praktis lebih baik, cukup dengan nalar sejenak, tidak usah dalam-dalam atau mengawang bertinggi-tinggi apalagi menggigir-gigir, apa yang dihendak pun tentu sampai--tidak usah luar biasa segala, yang penting rapi; gagahi saja makna dan suasana. Begitu mungkin mereka memerjuangkan estetika Kutilista--maaf, barangkali saya tersepuh oleh seorang pengkhidmat suasana namun bicaranya sinis sekali, yang beberapa pekan sebelum sekelilingku dipugar pernah duduk-duduk ngobrol sampai suntuk dengan kawannya di dekatku.

Saya bukannya mau merayakan kepribadian aneh-aneh, apalagi meminta Anda berpolah nyeleneh. Saya hanya demikian yakin bahwa saya--sedari awal tumbuh hingga besar kini, adalah penikmat taman bunga. Bukankah wajar mata memandang yang patut. Karena kepatutan ialah kesahajaan yang tak lain keindahan. Karena keindahan kata lain kebenaran. Keindahan mengambil tempat di seberang pemaksaan, sekalipun demi menggaji karyawan. Ha-ha-ha.

Begitu, saudaraku. Maaf, sekali lagi, bila saya mengganggu; bila saya menyoal ihwal dangkal wilayah mata--yang justru sepulang ngantor, mata Anda selalu jatuh di cecabangku yang rimbun; di mataku; lalu pada fasilitas umum di seputaranku yang mereka manfaatkan itu, yang mereka tanami Kutilista seolah pagar bagiku. Saya, Anda, bahkan pula mereka--sebenarnya, sama-sama pengagum taman bunga.

**

IA menyudahi pensilnya, meletakkannya di tepi kertas. Ia merasa sketsanya tidak pernah selesai. Selalu ada sketsa baru tiap malam, yang ingin dilipatnya bersayap, diterbangkannya dalam ruangan yang temaram oleh bolam bertudung di atas meja itu.

Bandung, 2006

(Pernah dimuat harian Radar Bandung, 2006)