Tuesday, March 09, 2010

Aura Jeihan



Aura Jeihan
menghimpun 18 tulisan tentang sosok Jeihan dan karya-karyanya. Lahir di Boyolali, 26 September 1938, Jeihan Sukmantoro merupakan salah seorang pelukis papan atas Indonesia. Selain melukis, ia pun menyajak. Tahun 1970-an, bersama sejumlah sastrawan Jeihan memelopori Gerakan Puisi Mbeling di Bandung.

Judul Buku: Aura Jeihan
Editor: Hikmat Gumelar & Atasi Amin
Penulis: Abdul Hamid, Baban Banita, Bulky Rangga Permana, D Zamawi Imron, Dedi Setiawan, Djasepudin, Fadly Rahman, Fega Maria, Harri Pratama Aditya, Hikmat Gumelar, Muhamad Aji, Muhamad Heychael, Siti Munawarah, Teha Sugiyo, Teddi Muhtadin, Topik Mulyana, Trisna Gumilar, Wildan Nugraha
Epilog: Ganjar Kurnia
Penerbit: Jeihan Institute, Bandung
Halaman: 205+xiii
Cetakan: I, Februari 2010

Friday, January 01, 2010

Rak Buku Lunuganga



Rak buku unik ini, “Lunuganga”, karya pasangan seniman instalasi asal Eropa Julie Mathias dan Wolfgang Kaeppner. Gagasan di baliknya adalah tentang lingkungan hidup dan gegar budaya yang dialami selama mereka melakukan perjalanan kerja di Lunuganga, Sri Lanka. Rak yang mereka rancang ini adalah upaya untuk menghadirkan nuansa rumah yang tergenang oleh banjir. Juga nuansa lahan hutan yang pelan-pelan rimbun oleh pohon. Di Sri Lanka mereka mengambil gambar pohon yang sebagaian terendam air, lalu menerjemahkannya menjadi rak yang, bagi mereka, memiliki kualitas rasa yang sama dengan sebuah telaga yang bertumbuh mengelilingi, pun dengan keheningan perabotan-perabotan Eropa.***

Wokmedia

Wednesday, November 11, 2009

Melihat Jeihan Melukis



Ayunan pertama melahirkan garis wajah Anne. Dan semua suara seolah surut. Yang bergerak hanya Jeihan mencipta garis-garisnya yang tegas. Detail-detail lalu muncul tak terduga: mata bolong (ciri khas lukisan Jeihan itu), hidung, garis kerudung, pakaian, kemudian bibir mungil berwarna merah. Pulasan warna-warna lalu menyusul. “Siapa namamu?” tanya Jeihan. “Anne,” jawab si model tersenyum. Jeihan, “Dobel ‘n’?” Anne, “Ya.” Dengan cat biru Jeihan merangkai nama itu. Juga, agak di kiri atas, di atas sapuan warna-warna, Jeihan menulis frasa ‘VIVA UNPAD’. Lalu, terakhir Jeihan menorehkan tandatangan dan tanggal hari itu di kanan bawah bidang kanvas.***

Sunday, June 14, 2009

forum kamisan & bengkel menulis flp bandung juni 2009




>>KAMISAN FLP BANDUNG JUNI 2009

4 Juni: Bincang Buku Seeking Truth Finding Islam (karya Anwar Holid) bersama Jaka Arya Pradana
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

11 Juni: Bincang Novel Max Havelaar (karya Multatuli) bersama Sugeng Praptono
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

18 Juni: Bincang Novel Di Bawah Lindungan Kaabah & Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (karya Buya Hamka) bersama Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

25 Juni: Apa Itu Hermeneutika bersama Topik Mulyana
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

>>BENGKEL MENULIS FLP BANDUNG JUNI 2009

7 Juni: Menulis puisi bersama Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

14 Juni: Menulis esai bersama Sri Al Hidayati
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

28 Juni: Menulis cerpen bersama Elan Suherlan
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

>>Informasi:
Dedi 08982292287
Ade 08996943194
Wildan 02292464249

------------------------------------
klik laman dekranasda jabar
http://www.dekranasjabar.com/

Thursday, May 28, 2009

Seeking Truth Finding Islam di Kamisan FLP Bandung


Diskusi Kamisan FLP Bandung
4 Juni 2009 pukul 16.00-18.00 WIB di selasar timur Masjid Salman ITB

Bincang buku:
SEEKING TRUTH FINDING ISLAM: Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat
Penulis: Anwar Holid
Penerbit: Mizania, 2009
Halaman: 184
Kategori: Biografi

Buku itu nanti coba dibahas sama Jaka Arya Pradana (Mahasiswa ITTelkom)
Buat kawan-kawan yang berminat ditunggu kedatangannya
Informasi: Dedi 08197932103, Wildan 0817613420

Tuesday, May 19, 2009

Negosiasi Sastra dan Industri

BERWAJAH dan berwujud pas-pasan, Minni ialah seorang gadis introver yang gemar membaca dan menulis dalam kesendirian. Ibunya membesarkan Minni seorang diri tanpa suami.

Sementara itu, dengan orang tua yang berkelimpahan materi, Meggy ialah gadis cantik yang cerdas dan kritis. Juga dia senang membaca. Namun, Meggy pandai bergaul dan tidak pernah ketinggalan tren.

Lalu ada Micky. Datang dari keluarga kecil yang harmonis dan cukup religius, dia adalah siswa SMU yang dicap aneh oleh kawan-kawannya. Micky merugi tidak pacaran atau sekadar nongkrong di mal, malah ia kerap menyepi dengan buku di kamarnya di malam Minggu.

Minni, Meggy, dan Micky. Tiga tokoh utama dalam Diary Minni, sebuah novel remaja karya Irfan Hidayatullah (2005), Ketua Umum Forum Lingkar Pena. Lewat novel ini, Irfan seperti ingin menggambarkan kegundahgelisahan remaja perkotaan dalam pencarian identitas. Ya, dalam novel yang tidak terlalu tebal ini, 152 halaman, terangkum beberapa karakter tipikal remaja perkotaan zaman kiwari dengan berbagai fenomenanya.

Misalnya, ada wacana tubuh di situ, tentang cantik atau tidak cantik. Ada budaya pop dengan MTV dan sebangsanya, siapa yang gaul dan tidak gaul. Juga ada fenomena broken home, alienasi, orientasi seks, keperawanan, dan pelbagai fenomena lainnya yang lazim didapati pada masyarakat kota yang disebut modern. Pun, Irfan memasukkan wacana kereligiusan dan spiritualitas dalam novel tipisnya itu.

Nilai-nilai ditemukan Minni dalam bacaannya yang luas, dari Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, hingga Pramoedya, TS Eliot, dan banyak lagi. Banyak konsep dan wacana bertebaran yang dapat diendus dalam Diary Minni, meski cukup terjaga dalam balutan ceritanya. Termasuk soal Islam dalam cernaan para tokohnya yang berusia remaja.

Ya, barangkali Diary Minni dapat diambil sebagai salah satu contoh kecenderungan sastra islami populer ala FLP. Selain Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman E Shirazy, tentu saja, yang dikenal luas di masyarakat. Benang merah yang bisa ditarik dari karya-karya mereka itu, ada kepedulian untuk menyampaikan gagasan lewat tulisan, lewat cerita, atau sebutlah, lewat sastra. Dan yang mereka ambil adalah jalur populer, jalur yang menjanjikan lebih banyak pembaca ketimbang sastra serius.

Gerakan cakrawala
Yang tengah berlaku bagi Minni, Meggy, dan Micky barangkali adalah sebuah bentuk dialektika. Sebuah dialog pencarian yang sebenarnya tidak bisa dibendung, untuk lantas menemukan bentuk-bentuk identitasnya yang tertentu. Sebuah identitas yang disadari. Identitas di dalam belantara kota.

Seperti itulah juga barangkali komunitas pengarang itu. Menuju sebuah identitas yang disadari itu, pengurus FLP menggiatkan Gerakan Cakrawala, gerakan membaca karya dan wawasan kebudayaan lainnya. Sebab, terburu-buru berpuas diri tentu bukan hal yang menguntungkan. Penulis-penulis FLP kini bukan saja mereka yang hanya baru ingin bisa menulis. Mereka adalah para Minni, Meggy, dan Micky yang mencoba melongok keluasan dunia terhampar di luar sana lewat jendela teks, atau lewat, sebutlah, sastra.

Maka, digelar rangkaian diskusi umum di berbagai kota. Salah satunya di Bandung, tempat cabang FLP juga hadir. Cukup menarik, sebab diskusi yang ditajuki Sastra dalam Budaya Massa itu hendak merespons sebuah polemik di sebuah surat kabar mengenai FLP itu sendiri. Tentang keluasan, keberbagaian, dan kemendalaman makna sastra islam yang terkesan tereduksi oleh kehadiran FLP dengan karya-karyanya yang pop.

Diskusi yang diselenggarakan di Auditorium Masjid Salman, ITB, 22 Maret 2008, itu menghadirkan Yasraf Amir Piliang, Safrina Noorman, dan Irfan Hidayatullah. Yasraf, pemikir pada Forum Studi Kebudayaan, FSRD ITB, membawakan makalah Sastra dan E(ste)tika Massa; Safrina Noorman, dosen bahasa Inggris UPI, dengan makalah berjudul Membaca dengan Sikap; dan Irfan Hidayatullah mengajukan Ispolit, Sebuah Negosiasi Budaya.

Yasraf membidik perbedaan sastra tinggi (adiluhung) dan sastra populer (yang lahir dari rahim budaya massa dan dikonotasikan berkelas rendah), yang pemikiran-pemikirannya dapat terjembatani oleh dialog yang kritis dan terbuka.

Dari sisi pendidikan sastra, Safrina antara lain menekankan agar seorang pembelajar memanjakan dirinya justru dengan menekuni keberagaman teks sastra, sebagai salah satu cara untuk meningkatkan sikap kritis.

Sementara itu mengutip Irfan yang mengajukan Ispolit (Islamic Popular Literature), memang bila terjebak pada simulakrum industri, negosiasi budaya yang dimaksud Ispolit menjadi sangat banal dan tidak menyentuh lagi.

Dari Bandung, rangkaian Gerakan Cakrawala pun terus berlanjut ke FLP di kota kota lain. Itu mungkin seperti Minni, Meggy, dan Micky. Mereka terus berdialektika.***

Wildan Nugraha

(Media Indonesia, Minggu, 17 Mei 2009)

Merayakan Literasi

Oleh Wildan Nugraha

FORUM Lingkar Pena lahir dari sebuah kerinduan masyarakat perkotaan akan keberislaman dan pesan-pesan religiusitas yang mudah dicerna.

Mereka adalah santri, tetapi bukan santri dalam pengertian tradisional dengan tradisi pesantrennya. Mereka rata-rata belajar ilmu-ilmu nonkeagamaan di kampus dan sekolah. Tempat mereka belajar dikepung mal.

Dalam mempelajari Islam, mereka membaca buku-buku yang terbatas, mengikuti kursus-kursus yang singkat, menyimak acara bincang-bincang televisi dan radio, rekaman video, dan belakangan membuka laman-laman internet. Pesantren mereka merupakan pesantren virtual.

Semangat untuk belajar Islam itu bergayut dengan kesenangan manusia untuk bercerita (dalam rangka berkomunikasi), terutama dengan berfiksi. Ya, mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan sastra atau bukan sastra.

Tidak mau ambil pusing dengan istilah sastra populer atau serius. Mereka hanya mengekspresikan pengalaman keseharian dalam menjalani kehidupan di perkotaan dengan segala fenomenanya, berikut paradoks dan kontradiksinya. Misalnya, mengenai gampangnya mereka melahap materimateri keagamaan yang telah dipadatkan, disarikan, diformulasikan itu. Mereka adalah para santri kota.

Helvy Tiana Rosa sadar akan hal itu. Perempuan pemrakarsa komunitas bernama FLP ini telah melihat kerinduan itu, lebih dari sekadar kerinduannya pribadi. Yakni kelak, entah kapan, melihat masyarakat Indonesia sukses menemukan kultur kepustakaannya yang kental dan ajek. Maka sembari hendak turut menyebarkan pemikiran keislaman, menjelang tumbangnya rezim otoriter Orde Baru. Saat itu, mulai banyak komunitas berlahiran sembari merayakan ideologi masing-masing tanpa kekang berarti. Pada 22 Januari 1997, Helvy bersama beberapa rekannya mendirikan FLP di Masjid Ukhuwah Islamiyah, kampus UI Depok.

Mencintai buku
FLP memang menemukan sumber geraknya, yakni aktivisme Islam. Tapi mereka mengarahkan energi itu kepada gerakan yang pesannya universal, mencintai buku, membiasakan diri membaca dan menulis. Tidak lebih. Mencoba menginklusifkan diri, keanggotaan FLP bersifat terbuka tanpa membedakan ras maupun agama.

Mungkin kerinduan tadi pun terakomodasi oleh prinsip Islam rahmat buat semua. Sebab pada perkembangannya, banyak orang yang tertarik dengan sendirinya; berdirilah kemudian FLP wilayah dan cabang di banyak tempat, sampai di mancanegara, tempat di sana banyak mahasiswa dan TKW kita belajar dan bekerja. Konon, kini total anggota FLP mencapai lebih dari 5.000 orang. Puluhan penerbit bermitra dengan mereka.

Dapat dibilang, ribuan orang itu merupakan ceruk pasar yang bagus dari kacamata industri. Maka, fenomena booming fiksi islami di negeri ini (beberapa waktu yang lalu) yang ditandai dengan laku kerasnya Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy, misalnya, mungkin punya keterkaitan erat dengan keberprosesan FLP. Bila benar, wilayah industrilah, ternyata, dengan orientasi kapitalnya, yang lebih pesat berkembangnya pada FLP ini. Sementara itu, wilayah lainnya, seperti ruang pemikiran atau sebutlah kesastraannya, belum terlalu diseriusi, atau lebih tepatnya masih menyisakan ruang yang lebih lengang.

Tetapi hal itu memang tidak terlalu menjadi soal yang rumit buat para penulis FLP. Karena menulis, bagi mereka, adalah bagian dari ibadah, yang tentu saja memendam keluhungan tersendiri. Bila cahayalah yang hendak mereka raih dan tawarkan, cahaya itu adalah cahaya yang sederhana.

Cahaya rahmatan lil alamin dalam wajah kesederhanaannya, sesuatu yang lebih mewah dirindukan masyarakat perkotaan dengan segala kesibukan aktivitas mereka. Wallahualam.***

Wildan Nugraha
Koordinator Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung

(Media Indonesia, Minggu, 17 Mei 2009)

Wednesday, May 06, 2009

Diskusi Kamisan FLP Bandung Mei 2009


Catatan Harian: Sebuah Kebelumsudahan

Sebutlah membaca catatan harian adalah membaca kebelumsudahan. Maka buku-buku yang berisi kumpulan catatan harian agaknya tetap menarik buat dibaca kembali. Ambilah misalnya yang tidak terlalu sulit diingat seperti Catatan Seorang Demonstran. Buku itu pernah terbit dengan sampul Nicholas Saputra ketika Mira Lesmana merampungkan film Gie pada 2005.

Sebuah buku catatan harian lainnya yang terkenal adalah Catatan Harian Anne Frank. Berapa banyak sudah orang membacanya di seluruh dunia dan terinspirasi. Berapa banyak sudah komentar positif atau sebaliknya mengenainya. Maklum, isu seputar kekejaman Nazi memang sepertinya diciptakan sejarah untuk terus diperdebatkan. Ada satu hal tapi. Anak kecil bernama Anne itu berbicara tentang keinginannya menangis sendirian saja tanpa ada yang mengganggu, misalnya, kemudian keluar rumah untuk melihat awan di langit sambil berlari-lari kecil dan tersenyum megah, tapi ternyata perang terus berkobar.

Ambilah juga buku Pergolakan Pemikiran Islam misalnya. Ahmad Wahib menuangkan gagasan-gagasannya. Itu sebuah buku yang menghebohkan pada masanya karena dianggap berbahaya. Sebuah buku yang diklaim oleh sebagian kalangan dapat menyesatkan pemikiran Islam, namun oleh sementara pihak disebut memang menyodorkan kebelumsudahan ide-ide. Ya, barangkali karena itu "hanyalah" sebuah catatan harian.

Ada juga buku Memoar Hasan Al-Banna. Sebenarnya dalam perbedaannya dengan apa yang terhidangkan oleh buku Wahib ada juga titik temunya: Al-Banna mempertanyakan dan ingin mendobrak sesuatu. Yakni kebimbangan dan bahkan kejumudan manusia yang lebih diombang-ambing hitung-hitungan Bumi. Ya, sebab kebelumsudahan bagi Al-Banna adalah kebelumsudahan hitung-hitungan Langit memperindah moral manusia yang kerap dibayangi keraguan. Alhasil, catatan-catatan itu dibaca sebagian kalangan aktivis Islam dengan tekun sebab ada sosok paragon di situ, yang punya kelebihan.

Ya, sebuah catatan harian sebenarnya merekam juga banyak kebelumsudahan sebuah persona atau malah sebuah zaman, generasi, cita-cita, semangat. Menarik sebenarnya membaca mengapa mimpi-mimpi yang dicantelkan setinggi langit ala Al-Banna kadang terkontraskan dengan keragu-raguan seorang Ahmad Wahib tatkala sama-sama menalar dan mengukur ketauhidan diri dan umat dengan pelbagai aktivisme mereka. Mengapa pula kepayahan yang polos seorang Anne yang curhat terus kepada Kitty tampaknya belum sudah juga hingga kini: apa sebenarnya yang terus-terusan diperangi orang-orang di luar itu. Pun mengapa masih gampang saja ditemui apa yang pernah dijumpai Gie di negeri ini, kemelaratan yang menistakan rakyat jelata di seberang kedigdayaan penguasa yang berjas dan berdasi. Ya, barangkali karena sebuah catatan harian adalah sebuah kebelumsudahan.***

Diskusi Kamisan Forum Lingkar Pena Bandung Mei 2009

Kamis, 7 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Catatan Seorang Demonstran (Soe Hok Gie)
Narasumber: Oky Syeiful Rahmadsyah, S.Sos, M.H. (Eksponen Mahasiswa Angkatan ’98, Sekretaris Forum Aktivis Bandung)
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7 Bandung

Kamis, 14 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Catatan Harian Anne Frank
Narasumber: Riki Cahya (Sekretaris FLP Jabar)
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7 Bandung

Kamis, 21 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib
Narasumber: Sugeng Praptono (Pustaka Giratuna)
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7 Bandung

Kamis, 28 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Memoar Hassan Al-Banna
Narasumber: Dedi Setiawan (Mahasiswa ITTelkom)
Tempat: Ureshii Book Corner, Jalan Bali 6, Bandung

Acara terbuka untuk umum dan gratis
Informasi: Wildan (0817613420 & 02292464249)

Tuesday, May 05, 2009

Obituari Rinrin Migristine


Innalillahi wa innailaihi rajiun. Ahad, 3 Mei 2009, Rinrin Migristine, anggota Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bandung, meninggal dunia sekitar pukul 04.00 WIB di RS Muhammadiyah dalam usia 29 tahun dikarenakan sakit. Jenazah dikebumikan di TPU Sirnaraga, Kota Bandung. Semoga segala amal ibadahnya diterima Allah SWT. Keluarga besar FLP Bandung mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan dikaruniai ketabahan.

Selain di FLP, semasa hidupnya Rinrin, alumni FISIP Unpad kelahiran Bandung, 31 Januari 1980 itu, aktif mengelola buletin Bina Ginjal, sebuah media komunikasi bagi, sebagaimana juga dia, para pasien gagal ginjal di kota-kota di Indonesia. Oleh sebab itu Rinrin adalah inspirasi bagi kami. Dia tetap aktif menulis, untuk kemanusiaan. Pada hari wafatnya, 3 Mei 2009, itu sebuah harian, Tribun Jabar, di kota kami memuat sebuah cerpen, "Angin dan Bunga Rumput", yang berbicara tentang kematian dengan dalam dan indah. Pada Ahad itu kami semua, ribuan orang bahkan mungkin, membacanya. Sementara tidak penulisnya sendiri, Rinrin Migristine.

Oleh sebab itu dalam duka yang mendalam, Rinrin adalah sebuah inspirasi. Hingga kapan pun.

FLP Bandung

Thursday, April 09, 2009

Kartini dan Politik Etis


Diskusi Kartini memang menarik sangat. Sri yang kemarin ngisi Kamisan banyak cari info di internet. Dia menemukan sebuah diskusi yang kayaknya sudah usang buat sebagian orang, bahwa sosok Kartini itu tidak bisa lepas dari kepentingan politik etis pemerintahan kolonial Belanda.

Bahkan, ada yang mencurigai bahwa surat-suratnya banyak yang direkayasa (atau minimal disensor dan bahkan ditambah-tambahi) oleh Nyonya Abendanon atas instruksi pemerintahan Belanda. Dan memang, konon ada seorang guru besar dari UI yang memeriksa kelogisan surat-surat Kartini: bila betul beratus-ratus halaman itu semua dikerjakan Kartini dalam empat tahun pada akhir hayatnya, hebat sekali! Tapi, mungkinkah seluar biasa itu?

Ya, dan ini memang sangat menarik. Ada buku terbitan Asy Syaamil tahun 2001 soal Kartini. Judulnya Tragedi Kartini: Sebuah Pertarungan Ideologis, kalau taksalah. Buku kecil dan tipis karya Asma Karimah itu saya rasa bagus dibaca buat melengkapi pengetahuan kita soal Kartini. Terutama tentang kaitannya dengan Islam.

Ya, saya kira memang wajar Belanda punya kepentingan besar kepada Kartini. Dan tentu diskusi akan menarik kalau dirembetkan kepada pejuang perempuan lainnya di Nusantara: Cut Nyak Din, Dewi Sartika, misalnya. Pasti banyak orang yang sudah membahas hal ini.

Wildan
---yang jatuh cinta pada Kartini :)

Sunday, March 29, 2009

Diskusi Kartini di Kamisan FLP Bandung


Kamisan Forum Lingkar Pena Bandung
Diskusi Buku Habis Gelap Terbitlah Terang RA Kartini
Kamis, 2 April 2009, Pkl 16.00-18.00 WIB, Selasar Timur Masjid Salman ITB
Jalan Ganeca 7, Bandung. Pembicara: Sri Al Hidayati (Mahasiswi Teknologi Pendidikan, UPI)

Kartini. Ia lahir di Mayong, Jepara, 21 April 1879. Di hati dan kepalanya tersimpan kegelisahan tentang kehidupan rakyat yang terbelakang dan minimnya pengajaran bagi para perempuan. Habis Gelap Terbitlah Terang merekam sebagian surat-suratnya kepada beberapa sahabatnya. “Panggil aku Kartini saja,” tulis Raden Ajeng Kartini kepada Steila M Zeehandelaar, sahabat pena pertamanya. “Pendidikan mutlak perlu untuk mengangkat derajat perempuan Indonesia,” cetusnya kepada Rosa Manuela Abendanon. Kartini. Hidupnya singkat—meninggal dalam usia 25 pada 17 September 1904—tapi pemikiran-pemikirannya progresif menjangkau masa depan.

Saturday, December 20, 2008

Kamisan FLP Bandung

Assalamu’alaikum, Kawan-kawan
Ini jadwal Kamisan FLP Bandung
Buat Desember dan Januari
Barangkali Kawan mau mampir mengobrol
Sambil menunggu magrib di Kamis sore


Kamisan FLP Bandung Desember 2008

1) Kamis, 4 Desember 2008
Bincang Novel
Robinson Crusoe (Daniel Defoe)
Pemateri: Wildan Nugraha
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

2) Kamis, 11 Desember 2008
Bincang Buku
Hayy bin Yaqzhan (Ibn Thufayl)
Pemateri: Topik Mulyana
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

3) Kamis, 18 Desember 2008
Bincang Puisi
Puisi-puisi Joko Pinurbo
Pemateri: Riki Cahya
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

4) Kamis, 25 Desember 2008
Bincang Cerpen
Senyum Karyamin (Ahmad Tohari)
Pemateri: Wildan Nugraha
Tempat: Ureshii Book Corner


Kamisan FLP Bandung Januari 2009

1) Kamis, 1 Januari 2009
Wawasan Sastra
Perayaan Kekonyolan dalam Sastra Indonesia
(Fenomena Posmodernisme dalam Sastra Indonesia)
Pemateri: Topik Mulyana
Tempat: Ruang Utsman, Gedung Kayu, Masjid Salman ITB

2) Kamis, 8 Januari 2009
Bincang Buku
Atheis & Manifesto Khalifatullah (Achdiat K Mihardja)
Pemateri: Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

3) Kamis, 15 Januari 2009
Sastra Dunia
Cerpen Yasunari Kawabata
Pemateri: Wildan Nugraha
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

4) Kamis, 22 Januari 2009
Sastra Dunia
My Name is Red (Orhan Pamuk)
Pemateri: Sugeng Praptono
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

5) Kamis, 29 Januari 2009
Bincang Puisi
Tuhan, Kita Begitu Dekat (Abdul Hadi WM)
Pemateri: Teny Indah Susanti
Tempat: Ureshii Book Corner

---------------------------------------------------------------------------------
Diskusi Kamisan Forum Lingkar Pena Bandung | Setiap Kamis sore pukul 16:00–18:00 WIB
Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung | Ureshii Book Corner, Jalan Bali 6, Bandung

Sunday, November 16, 2008

pelatihan cd-mph

Penulislepas.com, Sekolah Menulis Online, bersama Titikluang Organizer akan menyelenggarakan Pelatihan ''Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat''. Acara akan berlangsung pada Sabtu, 29 November 2008 di GSS E Salman ITB, Jl Ganeca 7, Bandung. Pemateri Jonru (Founder penulislepas.com & belajarmenulis.com, Mentor Sekolah Menulis Online) & Epri Abdurahman (Founder Komunitas Puisi FLP, Penulis Buku Kumpulan Puisi ''Ruang Lengang''). Informasi dan pendaftaran hubungi Wildan (0817613420), Farid (02292925434).

Thursday, October 09, 2008

memindai papandayan




Ke Garut Sabtu siang kita Memindai Papandayan
Bermalam di Cisurupan sebelum Ahad pagi kita
Berjalan sekira lima kilometer. Meniti tanah setapak
Melewati kebun penduduk, menembus rimbunnya hutan

Hiruplah udara penuh penuh, dengarlah juga
Daun daun itu: jalanan memang tidak datar
Menanjak dan menurun. Juga hujan mungkin menunggu
Digelar langit yang berkisah terus dan terus

Memindai Papandayan. Simaklah itu kaldera
Kawah rekah di sela batu dan tanah
Lalu rehatlah sejenak, ada sabana di ketinggian
Ada yang berkisah kepadamu
Tentang pohon yang tegak berdiri
Rumput dan ilalang yang menari
Bertumbuh terus dan terus

Angin menyiapkan banyak hal sedari dulu
Gambar gambar yang kelak kau pindai
Kisah kisah yang kemudian kau semai
Pada saatnya kau susun dan kau sebar terus dan terus

Memindai Papandayan. Guliran rihlah FLP Bandung
Insya Allah, Sabtu hingga Ahad, 18-19 Oktober 2008

Thursday, September 04, 2008

anak muda, film, & dakwah


Forum Lingkar Pena Bandung bersama Salman Films menggelar Talkshow, Workshop, dan Festival Budaya "Anak Muda, Film & Dakwah: Antara Naga Bonar Jadi 2, Ayat-Ayat Cinta & Sang Murabbi" pada Ahad, 21 September 2008 di Auditorium Abu Bakar (GSG Atas) Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 08.00 - 15.00 WIB. Acara ini hendak menelaah dengan kritis upaya generasi muda Islam berdakwah melalui media film.

Bertindak sebagai narasumber dan moderator adalah Arief Gustaman (Naga Bonar Jadi 2), Iqbal Rais (Ayat-Ayat Cinta), Muhammad Yulius (Penulis Skenario Sang Murabbi), Yus R Ismail (Pengamat Film, Anggota Forum Film Bandung), Darlis Fajar (Ustadz), Wildan Hanif (Dosen dan Praktisi Film) M Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP), dan iQbal Alfajri (Salman Films). Acara dimeriahkan pembacaan puisi, nasyid, musikalisasi puisi, monolog oleh Iman Soleh, Deddy Koral, Ayi Kurnia, Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana, Semi Ikra Anggara, Gola, Ana Bilqis, Wedang Jahe, Tim Nasyid SMU PGII 2, dll.

Harga tiket masuk Rp 10.000. Gratis untuk 50 pendaftar pertama. Informasi dan pendaftaran di front office Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung. Contact person: Wildan (0817613420, 02292464249) dan Farid (08562250662, 02292925434).



http://am-fd.blogspot.com

Sunday, August 17, 2008

Pemuda Pinggiran Kota dan Pekerjaan Pertanian


Wildan Nugraha
Mahasiswa Faperta Unpad

Pekerjaan pertanian bersifat dilematis bagi kalangan muda pinggiran perkotaan. Di satu sisi, bidang pekerjaan ini memberi peluang besar untuk berkarya dan berpenghasilan. Hal ini karena lahan pertanian di pinggiran kota umumnya masih tersedia. Namun di sisi lain, daya tariknya tidaklah tinggi. Bekerja di bidang pertanian-atau berprofesi sebagai petani-bukanlah pilihan populer.

Menurut JA Noertjahyo (2005), hanya sedikit kaum muda terdidik lulusan fakultas pertanian yang mau berprofesi sebagai petani. Selebihnya banyak yang “meloncat” dari akar pendidikan formalnya ke pekerjaan yang tidak terkait dengan pertanian. Sebagian mereka menjadi pegawai negeri sipil dengan tugas pokok nonpertanian. Lainnya menjadi karyawan bank, wartawan, dan lain sebagainya.

Pesatnya pembangunan fisik yang telah mengarah ke daerah-daerah pinggiran, punya andil besar dalam persoalan ini. Alih fungsi lahan pertanian tentu menyurutkan lapangan pekerjaan ini. Sementara, rendahnya perolehan pendapatan dari pekerjaan pertanian adalah faktor lain yang patut diperhitungkan. Tingkat upah riil bidang pertanian cenderung statis, meski sejak bergulirnya Revolusi Hijau tahun 1970-an hingga sekarang tingkat upah nominal pekerjaan pertanian terus mengalami kenaikan. Namun, dibandingkan dengan industri, laju kenaikan upah pertanian hanya sekitar separuh tingkat upah sektor industri (Kasryno, 2000).

Orientasi pembangunan masa lalu yang lebih menitikberatkan kawasan perkotaan ternyata belum beranjak lebih baik di era reformasi ini. Pembangunan mal di perkotaan tidak sebanding dengan pembangunan infrastruktur di daerah-daerah pinggiran. Hal ini menyiratkan bahwa segala fasilitas sarana infrastruktur dan tata peruntukan lahan kota, lebih ditujukan bagi kelompok masyarakat yang telah meninggalkan mata pencaharian primer (pertanian) ke sekunder dan tersier (nonpertanian).

Menyoal kota adalah menyoal juga soal urbanisasi. Semangat perkotaan dengan “ancaman” modernitasnya berlaku paling besar bagi wilayah sekitarnya yang terdekat. Bila bukan melalui pengembangan atau pemekaran, imbas semangat perkotaan akan mungkin sampai ke daerah-daerah pinggiran lewat banyak jalan lain.

Seperti ditulis Setyobudi (2001), para petani di daerah pinggiran sebenarnya sudah-atau tengah-melakukan urbanisasi dalam artian pasif. Mereka tidak beranjak, tapi menghadapi suatu perubahan lingkungan. Lahan sawah mereka tidak hanya beralih fungsi, tapi juga beralih kepemilikan ke tangan orang kota.

Tentu, keadaan ini tidak luput berpengaruh terhadap pemuda pinggiran kota. Apalagi secara sepintas pemuda adalah golongan yang dianggap paling suka akan hal-hal yang baru. Mereka akan sangat tertarik menyerap teknologi modern. Dalam hal ini kota dengan segala hasil produksinya ialah simbol dari modernitas. Lebih jauh, tidak berhenti semata mengonsumsi produk-produk kota, mereka tengah berhadapan dengan gaya hidup modern (perkotaan).

Pekerjaan merupakan salah satu alat untuk mencukupi kebutuhan manusia baik secara materi atau nonmateri. Sebagai alat, pada pekerjaan selalu lekat simbol-simbol status yang mendasari pandangan seseorang terhadap pekerjaan tersebut.

Menurut Henry Pirenne (dalam Kuntowijoyo, 2005), jika masyarakat tradisional dengan mudah dikaitkan dengan pekerjaan pertanian, maka ciri-ciri pada masyarakat kota, dengan modernitasnya, ialah dominasi kegiatan nonpertanian sebagai sumber mata pencaharian. Singkatnya, kota-kota hidup dari perdagangan dan industri, sedangkan pedesaan dari pertanian.

Pemuda pinggiran kota ialah subyek yang unik. Di satu sisi mereka merupakan anggota masyarakat perkotaan yang bersifat kosmopolit dan dinamis. Sedang di sisi lain, mereka masih relatif lekat identitas masyarakat agraris, yakni keakraban dengan suasana pertanian. Di lingkungan mereka umumnya sawah dan ladang masih terhampar luas.

Keadaan dualitas ini menempatkan pemuda pinggiran kota pada persimpangan jalan: apakah mereka kelak sepenuhnya tidak melirik pertanian sebagai pekerjaan; atau sebaliknya, meski sebagai sampingan, selingan, atau pilihan terakhir, mereka akan pergi ke sawah dan ladang, berprofesi sebagai petani.

Namun, perlu juga dicermati soal keberadaan lahan pertanian di masa datang. Apakah tidak mungkin suatu saat laju pembangunan perkotaan akan menggilas habis lahan pertanian di daerah-daerah pinggiran. Ingat, sudah banyaknya aturan dirancang, bahkan diterbitkan, tapi tetap mandul mencegah alih fungsi lahan pertanian.***

(Tribun Jabar, Rabu, 23 Juli 2008)

Tuesday, August 12, 2008

"Seteguk Air" dari Leyla


Judul:
Pranikah Handbook: Panduan Persiapan Pernikahan untuk Muslimah
Penulis: Leyla Imtichanah
Penerbit: Madanisa-Salamadani
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: viii+132 halaman

TIDAK sedikit seseorang menikah karena sudah selesai sekolah, sudah tamat kuliah, lalu punya pekerjaan, misalnya. Atau juga yang banyak terjadi, menikah karena dan demi cinta. Tentu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua itu. Karena tidak usah rumit-rumit membuat susah apa yang memang mungkin dibikin mudah, toh?

Akan tetapi, segampang dan semudah itukah soal menikah? Misal, setelah menikah ternyata seseorang tidak kunjung merasa bahagia, meski sekeras-kerasnya dia ingin meyakinkan hati bahwa dia bahagia. Atau sebaliknya, seseorang bahagia luar biasa, harmonis bukan main dengan pasangannya, padahal awalnya dia kurang yakin, kurang suka, bahkan tidak merasa cinta.

Ya, masih banyak kemungkinan lagi bila diteruskan. Pemahaman tentang beragam kemungkinan seperti itulah salah satunya yang ingin disampaikan Leyla Imtichanah melalui bukunya, Pranikah Handbook. Sebab, meski kadang terlihat mudah, menikah sebenarnya bukan perkara sederhana. Bahkan, bukan setelah menikah saja persoalan bisa mendera, tetapi dalam perjalanan menujunya pun seseorang akan mungkin melewati jalan yang tidak mulus. Misalnya, bagaimana "pusing"-nya seorang perempuan menentukan pilihan itu: ya ataukah tidak, menerima ataukah menolak pinangan seorang lelaki.

Sesuatu yang sederhana tidak harus bermakna sederhana. Justru, kepelikan tertentu bila telah dicerna dengan baik dan kemudian dihadirkan ulang secara bersahaja, akan membantu sebuah upaya pemahaman. Dengan ulasan singkat, Leyla menyoal tentang kedewasaan, salah satu kriteria yang penting dalam memilih calon pasangan: "Seorang yang dewasa, tidak akan mengedepankan emosi ketika mengatasi masalah dan mengambil keputusan. Sifat emosional, apalagi kekanak-kanakan, hanya akan menambah masalah atau menumpuknya menjadi gunung berapi yang sewaktu-waktu dapat meledak (hlm 23)."

Memang, konsekuensinya, sesuatu yang sederhana adalah "sekadar" pengantar. Semisal seteguk air bagi seseorang yang sedang kehausan. Guna memuaskan dahaganya, dia harus mencari air lagi lebih banyak, bila memang dia ingin. Begitu juga tentang buku ini. Membaca Pranikah Handbook, seorang perempuan yang memang kehausan mengenai ilmu (mempersiapkan) pernikahan, akan tergerak untuk tidak berhenti mencari sumber-sumber lain yang terkait. Demi keluasan wawasan pembacanya, di akhir buku Leyla pun menuliskan daftar pustaka rujukannya dalam menulis "seteguk air" ini.

Seperti dikemukakan di muka, Pranikah Handbook lebih menekankan aspek praktis seputar persiapan pernikahan. Sehingga, kekurangan buku ini adalah justru sekaligus kelebihannya. Titik tekan Leyla adalah kepada hal-hal yang bersifat panduan sederhana namun berbobot, dengan penyampaian yang "renyah". Kemudian, buku ini pun cukup menyeluruh mengupas persiapan pernikahan meski tidak terlampau mendalam, yang memang diharapkan memudahkan pembacaan dan pemahaman dasar.

Juga, sebagai buku "how to" atau "self help" yang lugas, Pranikah Handbook cukup kaya dengan tips-tips guna-laksana. Tips-tips atau saran-saran yang beranjak dari "curhat" para muslimah kepada penulisnya, dari hasil sharing pengalaman baik langsung atau via bacaan, terutama dari calon-calon pengantin atau pasangan-pasangan muda yang baru menikah, untuk dipetik hikmah dan pembelajarannya. Untuk siapa saja yang berkeinginan menikah tidak semata karena sudah selesai sekolah, telah tamat kuliah dan punya pekerjaan, atau juga menikah hanya karena dan demi cinta. (Wildan Nugraha, mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Faperta Unpad, bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung)***

(Pikiran Rakyat, Kamis, 17 Juli 2008)

"Ruang Lengang" Epri Tsaqib di STSI Bandung

FLP Bandung bekerja sama dengan Daunjati, menggelar peluncuran buku puisi "Ruang Lengang" Epri Tsaqib dan diskusi 9 Agustus 2008 pukul 14.00 WIB-selesai, bertempat di Studio Teater STSI Jln. Buahbatu No. 212, Bandung. Pembicara diskusi Cecep Syamsul Hari dan Soni Farid Maulana, dengan moderator Yopi Setia Umbara. Acara ini dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Semi Ikra Anggara, Ana Bilqis, Heri Maja Kelana, Faisal Syahreza, musikalisasi puisi Kapak Ibrahim, dll ***