Friday, October 02, 2015

Kesadaran Ego

AWALNYA SABTU ITU saya mau lihat pembukaan pameran lukisan Jeihan. Tapi tidak jadi. Seharian saya dan istri di rumah saja. Gantinya dari rak buku saya mengambil Jeihan: Ambang Waras dan Gila karangan Jakob Sumardjo. Saya lap-lap debu-debunya. Saya pun mulai membaca.

Dikatakan oleh buku itu, Jeihan itu gila. Tidak waras. Tidak umum. Hanya saja kegilaan Jeihan harus dipahami bukan dari sisi yang umum pula. Jakob Sumardjo di sini melamurkan makna waras dan gila menjadi suguhan filosofis yang menarik, kaya, dan kerap mengejutkan.

Bagi Jeihan, hidup waras hanya manipulasi orang-orang gila. Hidup penuh kebohongan. Hidup penuh kepura-puraan. Semakin cerdas seseorang, semakin gila manipulasinya. Dengan demikian, apa yang disebut kewarasan sebenarnya hidup penuh pura-pura itu. Hidup yang mengikuti cara berpikir umum tentang apa yang disebut waras. Apa yang disebut waras hanyalah kesepakatan budaya suatu masyarakat. Dan semua anggota masyarakat tersebut berpura-pura hidup waras, dan menyembunyikan kegilaan yang sebenarnya jati dirinya. Maka, kewarasan yang sebenarnya ialah kegilaan, dan kegilaan yang sebenarnya ialah kewarasan.

Hidup yang sejati adalah kegilaan, demikianlah menurut Jeihan. Orang yang hidup dalam kegilaan justru dinilai tidak waras. Hidup dalam kegilaan itu mengikuti kesadaran egonya sendiri, yaitu jati dirinya. Dan sampai di sini saya tergoda buat berpikir bahwa biar seseorang bisa menemukan jati dirinya, ego musti dirayakan. Seseorang dengan ego yang tinggi akan menggenggam erat jati dirinya. Dia tidak rela diintervensi orang lain dalam hal apa pun. Dia punya kehendak, maka dia bertindak. Yang lain tidak. Dan siapa tak kenal Jeihan Sukmantoro sekarang? Seorang seniman yang bisa dikatakan paling sukses dan kaya di negeri ini.

Tapi nanti dulu. Apakah ego itu sesungguhnya? Dan bagaimana pula mengenali serta mencapai kesadaran ego itu? Menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu, saya kembali meraba-raba Jakob tentang kegilaan Jeihan. Tulis Jakob: orang gila yang tidak menyadari dirinya gila adalah gila sesungguhnya, karena dalam kegilaannya dia menganggap dirinya waras. Tetapi orang gila yang menyadari dirinya gila, orang beginilah yang seenaknya mempermainkan orang waras. Jeihan menempatkan dirinya semacam itu. Ia sadar abnormal sejak kecil. Autis. Abnormal jenis ini di atas normal. Dan itu disadari oleh Jeihan. Dengan demikian ia semaunya mempermainkan kewarasan dirinya maupun orang lain.

Jadi kata kuncinya ialah sadar, kesadaran—yang lebih kurang bermakna waras juga. Dari karangan yang dijuduli “Kepahitan” dalam buku itu, Jakob mengulas seulas episode hidup Jeihan saat diliputi kepahitan dan kegelapan. Lebih dari setengah hidup Jeihan dijalani dalam kepahitan. Sampai usia 40 tahun, Jeihan bisa dibilang menderita. Dan bila kebahagiaan diukur dari keberlimpahan materi, sejak kecil hingga usia 40 tahun itu Jeihan jauh dari bahagia. Tapi dia tidak lantas merasa hina. Kata Jeihan, “Miskin itu tidak hina, hanya tidak enak.”

Demikianlah saat kuliah di ITB, karena tidak punya uang untuk kos, Jeihan tidur di tanah lapang ITT, di pemandian Cihampelas. Makan pun seadanya. Pada masa-masa itu Jeihan bukan tidak berkarya. Hanya saja sampai sekarang karya-karyanya di zaman kepahitannya itu jarang dibicarakan. Orang cenderung membicarakan karya-karyanya yang terakhir, mungkin karena kemahalannya, atau mungkin karena lebih berwarna. Sebelum terkenal, Jeihan banyak melukis anggota keluarganya sendiri: istri, diri sendiri, anak-anak, tetangga, ayah dan ibu, serta kawan-kawannya sesama seniman dalam warna-warna yang minim, “kotor”, gelap, berat, suram, diam.

Demikianlah Jeihan sadar pernah mengalami periode “gila”. Saat dia asyik dengan diri sendiri, hanya memainkan perannya sebagai makhluk individu yang bebas merdeka. Ia tidak mau bergaul. Yang datang padanya dicurigai akan menyerang kemerdekaan individunya. Masa “gila” itu, menurut Jakob, mungkin akibat filosofi hidupnya yang eksklusif, bermain di wilayah individu yang mutlak, selain mungkin bisa juga karena riwayat autis dan cedera kepalanya. Sekitar usia 5 tahun Jeihan pernah jatuh berguling-guling dari tangga rumahnya. Sejak saat itu, dia sering merasakan sakit yang sangat di kepalanya.

Periode “gila” dalam kehidupan Jeihan itu diutarakannya saat diwawancara wartawan pada 1987. “Di dalam hidup saya pernah terjadi tragedi. Waktu itu kira-kira tahun 70-an. Kadang-kadang orang mengira bahwa seni harus sangat serius. Saya dulu pernah terlalu serius, akibatnya sakit, mungkin disebabkan terlalu muyeng (konsentrasi terlalu mendalam), sehingga terasing dan mengasingkan diri, fisik maupun spiritual. Saya terjebak pada suatu titik yang gelap, terlalu asyik dengan dunia saya sendiri,” sahut Jeihan.

Apakah itu sebentuk pengakuan yang serius bahwa Jeihan pernah keliru menyikapi obsesi atau ego kesenimanannya, wallahualam, hanya Jeihan dan Tuhan yang tahu. Karena saya kira, seperti sering juga dikatakan Jeihan dalam catatan Jakob Sumardjo, hidup manusia tidak lepas dari hukum sebab akibat. Dengan kata lain, tidak ada yang kebetulan. Juga berarti periode “gila” itu bukan berarti tidak penting dalam jalan hidup seorang Jeihan.

Dan, catat Jakob lebih lanjut, “masa kegelapan” Jeihan berhasil dilaluinya. Dia mencapai semacam pencerahan, yakni hukum keseimbangan. Prinsip harmoni. Terlalu serius tidak sampai pada seni, terlalu main-main juga tidak sampai ke sana. Seni itu antara serius dan main-main. Main-main namun serius. Membohongi untuk mencapai kebenaran. Bohong dalam seni adalah art, dunia bikinan, main-main. Namun main-main ini bukan sekadar main-main, tetapi upaya mengungkapkan kebenaran pemikiran dan intuisinya. Kata Jakob, Pablo Picaso pernah sampai pada pemikiran demikian: “Seni itu kebohongan untuk menyampaikan kebenaran.”

Maka ungkap Jeihan setelah menemu harmoni itu: “Secara pribadi saya perlu mengungkapkan, bahwa saya hidup dan bekerja di antara mencari dan menemukan. Buat saya melukis adalah ibadah, mudah-mudahan karya saya bisa merupakan sarana syiar. Memberitakan hal yang bermanfaat, sesuai dengan kehendak Allah. Di dalam melukis, tampaknya seperti main-main. Di sini kita sebenarnya dituntut mencari keseimbangan sejati, memperoleh harmoni sejati, yaitu suasana surgawi. Melalui titian kesenian yang benar, kita bagaikan dilatih menyeberangi jembatan shiratalmustaqim. Di antara kanan dan kiri kita harus di tengah. Di antara keras dan lunak kita di tengah.”

Beberapa hari setelah membaca lagi buku Jeihan itu, saya pergi mampir ke toko buku. Sudah lama saya tidak pergi ke toko buku. Ada buku baru yang saya penasaran ingin lihat. Belajar Hidup dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa. Mungkin saya memang sedang perlu penerang itu. Mungkin alam bawah sadar saya sedang melulu menggumuli terma itu: apa dan mengapa kesadaran ego itu. Di rak buku-buku agama, saya menemukannya. Ada satu eksemplar yang bungkus plastiknya sudah lepas. Saya buka buku itu secara acak. Dan penggalan puisi Rumi mampir ke mata saya dengan ramahnya: Taklukkan egomu./Maka kegelapan dalam dirimu/akan menjelma cahaya.***

Friday, August 21, 2015

Mendengar Sepi

Kita kerap enggan mendengar sepi. Padahal dalam sepi mungkin ada rahasia yang membuat kita bahagia. Dalam sunyi bisa jadi ada warna-warna terungkap dengan meriahnya sehingga hidup tambah bermakna. Tapi begitulah kita sering menghindar dari sepi. Kita jarang bertemu dengannya dan memilih terbenam di keramaian, di kerumunan, meski tanpa keintiman.

Padahal sepi memanglah diperlukan. Jeda itu harus ada dan memang selalu ada meski barangkali kita taksadar akan keberadaannya. Dalam peristiwa turunnya hujan misalnya. Di antara satu titik ke titik air beikutnya selalu terkandung jeda, selalu terdapat sepi. Tidak pernah tidak begitu, sebesar selebat sehebat apa pun kejadian hujan itu. Kemudian juga dalam sebuah alunan lagu misalnya. Selalu ada jeda ada sepi di sela-sela liriknya. Sebab kalau tidak ada jeda diamnya, mana akan enak terdengarnya, apa pun jenis lagu dan dari daerah mana pun penyanyinya.

Demikianlah kita lebih suka menganggap sepi tiada. Kita lebih suka menganggap sunyi tiada. Kita lebih suka dengan hal-hal menyenangkan saja. Sementara, begitulah, permasalahan kita anggap sepi yang tiada itu. Problematika hidup kita anggap sunyi yang tiada itu. Semuanya melulu kita simpan bukan pada tempatnya alias kita hindari. Padahal bisa jadi permasalahan yang kita temui ialah jalan buat kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan tangguh lagi. Lewat kegetiran hiduplah justru Sang Hidup mengajarkan kepada kita bagaimana sebenarnya kehidupan itu.

Maka dengarkanlah sepi dan akrabilah sunyi. Hadapilah dengan sesungguh-sungguhnya apa yang kerap kaubilang permasalahan hidup. Apa yang kauanggap sepi dan sunyi yang membosankan dan bahkan menyiksa itu. Sebab seperti hujan, di tiap titiknya selalu ada jeda yang mengiringi. Di setiap kesulitan selalu ada kemudahan yang menyertainya.

Maka dengarkanlah sepi. Sebab banyak bebunyian di sana, sebenarnya.

Tuesday, July 16, 2013

Sore di kota bergerak memelan

Foto oleh @alitystation

Sore di kota bergerak memelan. Matahari meredup jatuh di atap-atap rumah. Di sungai-sungai yang terjepit terjegal dinding-dinding warna debu. Menata jeda pada langkah-langkah kemarin dan esok yang tak berkesudah. Yang tak berkesudah.

Tuesday, November 20, 2012

PARA PENCARI


Oleh Wildan Nugraha

Randy, Hasan, dan Cikal. Tiga pemuda dengan latar belakang berlainan. Randy seorang aktivis dakwah kampus yang militan. Hasan seorang sosialis yang gelisah dalam pencarian. Dan Cikal, seorang selebritas, vokalis sebuah band yang sedang tersohor, namun menemukan titik kehampaan dalam pencapaiannya itu. Dalam jalinan kisah, ketiganya bertemu. Sebuah nama dalam sejarah pergerakan Islam menautkan mereka dengan caranya masing-masing. Nama itu Hasan Al-Banna.

Randy sangat mengagumi Hasan Al-Banna. Bahkan Randy lebih ingin menyebut namanya sendiri sebagai Randy Al-Banna ketimbang Randy Danujaya, nama pemberian orangtuanya. Dia suka membayangkan dirinya, seperti kerap dilakukan Hasan Al-Banna di Mesir semasa hidupnya, berdakwah di jalanan dari cafe ke cafe, menyeru umat agar lebih taat menjalankan Islam, menegakkan salat, dan senantiasa mengesakan-Nya.

Buku-buku yang merekam jejak pemikiran dan aktivisme Hasan Al-Banna telah dibacanya, baik yang ditulis sendiri oleh Hasan Al-Banna maupun yang ditulis oleh tokoh lain mengenainya. Tentang kehidupan pribadi tokoh perubahan itu. Tentang pendirian dan ketaatannya kepada Allah. Tentang kecendekiaannya. Tentang kegiatannya di Ikhwanul Muslimin, lembaga dakwah yang didirikan Hasan Al-Banna, yang pemikirannya kemudian merembet menyebar ke banyak negara di dunia.

Sementara Hasan, si sosialis yang gelisah, digambarkan sebagai tokoh yang sedang merekonstruksi sejarah hidupnya di masa lalu. Dia menemukan fakta tentang kematian ayahnya, seorang ulama muda di daerah pinggiran pantai, yakni akibat intrik bisnis orang-orang tamak; pun Hasan akhirnya tahu alasan mengapa sang ayah memberinya nama Hasan—lengkapnya Hasan Al-Banna—persis dengan nama seorang aktivis dakwah yang sangat berpengaruh di Mesir.

Dengan nama samaran “seseorang itu”, Hasan berbincang-bincang melalui chat room di Internet dengan Randy Al-Banna tentang Hasan Al-Banna. “Ana senang ada orang seperti antum yang mau mengenal lebih jauh tentang Hasan Al-Banna,” kata Randy (hlm. 283). Randy saat itu belum tahu nama asli dari seseorang itu. Dalam hal ini, tentu saja, tanpa mereka masing-masing sadari sepenuhnya, kalimat Randy punya banyak makna: Hasan Al-Banna yang dimaksud, selain merujuk pada ulama Mesir itu juga tidak lain ialah kepada namanya (kepada diri Hasan si gelisah itu) sendiri.

Tentang identitas

Salah satu hal yang dapat kita baca dari novel Sang Pemusar Gelombang karya M Irfan Hidayatullah (Salamadani, 2012) ini ialah pencarian (kembali) identitas atau fitrah manusia. Dalam Islam, disebutkan bahwa fitrah manusia ialah untuk beribadah kepada-Nya (QS 51: 56). Dengan perkataan lain, pada dasarnya semua manusia ialah cenderung kepada kebaikan, condong kepada Islam, berorientasi kepada Allah.

Namun demikian, pada saat bersamaan manusia memiliki sifat negatif, yakni kikir dan berkeluh kesah. Hal ini dapat kita baca pada QS 70:19-21. Tapi pada ayat-ayat berikutnya dalam surat Al-Ma’arij itu, Allah menyebutkan beberapa pengecualiannya, yakni antara lain mereka yang mengerjakan shalat dengan sungguh-sungguh, bersedekah, takut kepada Tuhannya, dan menjaga kemaluannya. Dalam surat lain di Al-Quran, Allah pun menegaskan bahwa manusia memang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati agar mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran (QS 103: 2-3).

Hal tersebut bisa kita maknai dalam penokohan yang dilakukan Irfan Hidayatullah atas tokoh-tokohnya: Randy, Hasan, dan Cikal. Mereka adalah para pencari—dan pencarian mereka (atas fitrah manusia) itu bukan tanpa rintangan. Keluarga Randy cenderung menganggap agama tidak terlalu penting meski mereka bukan keluarga sekular. Ini membuat Randy menjadi unik kalau bukan terasing di keluarga besarnya. Pada acara halal bihalal keluarga misalnya, kontras itu tergambar: berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain yang menjadikan ajang tahunan itu buat sarana pamer kesuksesan dlsb, Randy tampil sederhana saja, lebih banyak diam, saat bersalaman dengan para sepupunya yang perempuan tidak bersentuhan tangan.

Bapaknya tidak tahan tidak berkomentar, “Randy, kamu tahu pasti bahwa kali ini ada keanehan di keluarga besar Danujaya. Sebelumnya tak pernah ada yang amat aneh. Kita dilahirkan dari keluarga yang beragama dengan moderat. Kita beragama sesuai dengan keumuman masyarakat.” (hlm. 8).

Demikian pula dengan tokoh Cikal. Dia memilih berkonflik dengan kawan-kawan bandnya demi mencari jawaban atas kepenatannya, kegelisahannya, kehampaannya. Kawan-kawannya tidak bisa memahami alur pikiran sang bintang itu belakangan ini. Cikal berubah. Keberlimpahan materi, popularitas, sanjungan para fans tidak lagi memuaskannya. Malah semua itu berbalik menjadi tanda tanya yang menyiksa: inikah yang sesungguhnya kukejar selama ini?

Dan Cikal selalu merasa diikuti oleh bayangan Najwa dengan pesan-pesan spiritualitasnya. Cikal tergeragap dengan semua itu. Najwa: sosok yang dikaguminya di kampusnya dulu, sebelum Cikal memilih hengkang dari kuliah. Najwa: sosok muslimah yang taat, yang membuat Cikal merasa berjarak tapi sekaligus dekat dengannya. Najwa: kepadanya kemudian, di dalam kisah, Cikal jatuh hati.

Cikal menulis di catatan hariannya, “Kau kembali memperingatkanku. Aku hampir saja sadar saat itu. Ya, akulah si pemburu dunia dan sudah kudapatkan dunia itu, tapi pada saat yang bersamaan, dunia pun mendapatkanku. Aku digenggamnya. Aku tak bisa bernapas. Aku jadi tahanan. Suaraku adalah gaung yang tak berarti. Kau pun tak jua menjadi pendengar suara jiwa terkerangkeng ini. Tapi tidak hanya itu, aku ingin mencari orang yang mendengarku dengan jiwa, buka dengan telinga. Adakah kau ‘kan kutemukan lagi? Atau makhluk semacammu? Sungguh, aku tak temukan selainmu atau aku belum dipertemukan-Nya. Aku pesimis. Sungguh karena aku betul-betul tak bisa keluar dari penjara diriku dan duniaku.” (hlm. 112).

Dalam perkembangan kisah, tatkala Randy dan kawan-kawannya menggelar aksi Zaitun, aksi damai solidaritas untuk Palestina, Cikal akhirnya turut masuk ke dalam pusaran gelombang pergerakan itu. Cikal menyumbangkan kebolehannya menyanyi di atas panggung. Perlahan Cikal menemukan titik fitrahnya di hadapan Tuhannya.

Cahaya perubahan atau hidayah memang bagaimanapun harus diupayakan. Meski ia merupakan suatu misteri yang sepenuhnya bergantung kepada kehendak Allah. Perubahan yang hakiki ialah perubahan yang dimulai dari diri sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka,” demikian firman-Nya dalam QS 13: 11.

Saat cahaya Allah dilimpahkan kepada seseorang, tidak ada siapa pun dapat menampiknya. Sesuatu yang terang itu bahkan justru mencuri perhatian. Seperti misalnya dalam kisah seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang dalam kisah ini membuat kagum Hasan si sosialis. Yakni, tentang Hafidz, pemuda tukang kayu yang suatu saat mereparasi perabotan rumah Monsieur Salaunt, seorang pejabat Prancis di Mesir. Pada mulanya ia menolak bekerja karena ditawar harga terlalu rendah. Si monsieur marah-marah, tapi kemudian tahu bahwa harga yang ditawarkannya memang di bawah dari harga biasa. Salaunt pun kemudian menaikkan tawarannya, tapi Hafidz tidak segera menerimanya. Dia meminta syarat: orang Prancis itu harus meminta maaf dulu kepadanya.

Merasa berhadapan dengan orang kecil tak tahu diri, Salaunt marah-marah lagi. Tapi dia kemudian sadar sedang berhadapan dengan bukan orang sembarangan. Jika Salaunt tidak minta maaf, tukang kayu itu akan menulis surat ke kedutaan dan konsul Prancis, mengadukannya kepada atasan Salaunt; jika tidak ada tanggapan, si tukang kayu akan menghinanya di jalanan Mesir sehingga orang-orang akan tahu siapa sebenarnya Salaunt itu.

Orang Prancis itu pun akhirnya meminta maaf sepenuh hati kepada Hafidz. Setelah pekerjaan selesai, Salaunt memberikan upah. Uang lebih tidak diterima oleh Hafidz, dikembalikannya. “Saya tidak akan mengambil lebih dari yang menjadi hakku, agar saya tidak menjadi orang haram,” sahutnya.

Salaunt tertegun lagi. “Sungguh aneh, mengapa tidak semua putra Arab sepertimu? Apakah engkau keluarga Muhammad?” “Monsieur, seluruh kaum Muslim adalah saudara Muhammad. Hanya saja banyak dari mereka yang bergaul dengan monsieur-monsieur dan mengikuti perilaku mereka, hingga akhlaknya rusak.” Saulant lantas mengulurkan tangan, mengajak berslaman. “Terima kasih. Semoga engkau baik-baik selalu,” sahutnya.

Kisah yang direkam Imam Hasan Al-Banna di buku memoarnya itu benar-benar membuat Hasan penasaran. Dia merasa menemukan relevansi di kisah agama itu dengan pergerakan sosialisme yang selama ini dianutnya. Dari sana dia berpikir bahwa ternyata perubahan Islam sangat mungkin menyentuh segala ranah, dari soal kehidupan dasar manusia sampai soal-soal kemasyarakatan, bukan melulu berkutat pada soal keagamaan.

Dan semakin kuat gelombang itu berpusar di pikiran Hasan: tentang Islam—tentang agama—yang selama ini dicitrakan buruk dan kaku dalam bacaan-bacaan dan diskusi-diskusi yang dilahapnya. Bahwa Islam sesungguhnya tidak pernah menyalahi ketentuan-Nya sebagai rahmatan lilalamin, sebagai kebaikan untuk semua.

Tentang cinta

Ada (benih) cinta segitiga dalam novel ini. Pada peluncuran Sang Pemusar Gelombang di Jakarta (Selasa, 7/8/12), seorang hadirin bertanya: haruskah novel dakwah yang berpusar pada perikehidupan Syaikh Hasan Al-Banna ini dibumbui oleh kisah cinta? Yang dimaksud ialah kisah cinta antara tokoh Randy, Maryam, dan Cikal. (Najwa, sosok yang belakangan menghantui benak Cikal, tidak lain ialah Maryam, sesama aktivis dakwah di kelompok Tarbiyah, tempat Randy berkegiatan.)

Menanggapinya, Irfan Hidayatullah mengisyaratkan bahwa bagaimana pun novel ini memang dengan sadar dimaksudkan sebagai karya populer. Alhasil, konstruksi yang dipilih ialah konstruksi populer pula, yang antara lain ialah pengembangan kisah asmara dengan khas tertentu di antara para tokohnya. Mengenai konstruksi populer dalam novelnya ini, Irfan sekilas menjelaskannya di bagian pengantar novel melalui sebuah esai, “Menulis Novel; Petak Umpet antara Ideologi, Metafora, dan Pasar”.

Jauh-jauh hari Irfan Hidayatullah yang juga merupakan dosen sastra ini pernah mewacanakan konstruksi populer dalam karya-karya dakwah, yakni dengan menyebut karya-karya (remaja islami) tersebut sebagai Ispolit atau Islamic popular literature. Poin paling penting dari Ispolit ialah terdapatnya pelbagai negosiasi: negosiasi terhadap pasar, nilai-nilai Islam, juga terhadap sang penulis atau terhadap sastra itu sendiri. Menurutnya, “Justru jika negosiasi itu semakin tersembunyi dan susah dilacak, bukan lagi Ispolit. Adapun mengenai bagus tidaknya sebuah negosiasi dikemas itu adalah hal lain. Jadi, selama negosiasi ini masih ada, selama itu pula istilah Ispolit masih bisa dipertahankan. Oleh karena itu, para penulis Ispolit yang masih konsisten mereka bukan menurunkan isi negosiasinya, tetapi meningkatkan atau mendewasakan cara bernegosiasi.”

Hasan Al-Banna dalam novel

Sebagai pembaca saya pun mencari sosok yang sangat penting di novel ini. Dia Imam Hasan Al-Banna itu. Seseorang yang lahir di Mahmudiyah, Buhairah, Mesir, pada 14 Oktober 1906 dan meninggal pada 12 Februari 1949 di Kairo di tangan penembak misterius. Dia yang pada usia 12 tahun telah hafal Al-Quran. Dia yang mendirikan Ikhwanul Muslimin. Dia yang mencintai ilmu. Dia yang selama hidupnya tidak pernah lelah mendakwahkan Islam kepada semua kalangan, menyeru umat Muslim di mana pun agar dalam setiap segi kehidupannya kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadis.

Dan sosok Hasan Al-Banna itu, di dalam novel ini, hadir secara tidak langsung. Dia hadir melalui Randy, Hasan, dan Cikal: percik-percik pemikirannya, sekelumit kehidupannya, semangatnya yang tidak pernah surut dalam menyebarkan syiar Islam. Sebuah upaya yang saya kira sangat baik dalam mengenalkan sosok seorang Hasan Al-Banna untuk kalangan pembaca yang lebih luas di Indonesia.***

Friday, August 24, 2012

Buku Baru untuk Lebaran

Selamat Idul Fitri 1433 H. Taqabalallahu minna waminkum. Mohon maaf lahir dan batin. Dan selamat membaca buku baru... :) Berikut ini "Buku Baru untuk Lebaran", artikel Nurul Maria Sisilia, FLP Bandung, di harian Pikiran Rakyat.


Monday, June 11, 2012

Susu Kambing



Tadi malam akhirnya saya minum susu kambing. Di warung tenda pinggir jalan dekat masjid besar. Bukan karena benar-benar ingin sebenanya, tapi karena susu sapi sudah habis. Itulah mengapa waktu si pedagang menawarkan susu kambing buat gantinya, saya pun serasa diingatkan: sudah lama saya penasaran ingin nyicip susu kambing.

Kepada si pedagang saya bertanya apakah susu kambing enak. Dia tidak menjawab, hanya bilang, sambil tersenyum, susu kambing banyak khasiatnya. Mau yang manis?

Maka saya pun menghadapi segelas susu kambing. Tawar tanpa gula. Saya ingin rasa original, tidak dimanis-maniskan. Agak lama saya tatap saja gelas itu. Bukan kenapa-kenapa, saya tidak ingin lidah terbakar. Susu itu masih panas.

Tapi situasi memang mendadak mewah. Ini bakal jadi pengalaman pertama saya minum susu kambing. Dan pengalaman pertama, dalam banyak soal, memang mendebarkan. Ada sesuatu yang berdenyar dan bergetar asing di saat yang belum biasa dialami sebelumnya.

Bagaimakah rasa susu kambing? Seberapa bedakah dengan susu sapi? Akankah rada kecut, atau mungkin sedikit pahit?

Di gerobak susu itu ada gambar sapi kartun; gambar kambing tidak ada. Hanya memang tertera tulisan: sedia susu sapi dan susu kambing. Saya pun menyusun sendiri citra kambing di kepala.

Apakah terdapat hubungan antara rasa susu dengan bentuk serta ukuran hewannya? Sapi dibikin Tuhan berbadan besar, sementara kambing tidak ada yang sebesar sapi setahu saya. Sapi kadang lucu, kadang biasa-biasa saja, sementara kambing jarang terkesan lucu buatku. Tapi kambing lebih lincah. Itulah, saya kira rasa susu hewan yang lebih sering berlari dengan susu hewan yang lebih banyak diam dan kalem pasti berbeda.

Dulu saya pernah tidak suka minum susu, apalagi susu putih. Kalau susu coklat, saya bisa minum. Susu tawar bikin saya mual. Ini barangkali karena saya mengalami kebosanan pada susu. Waktu kecil, saya dapat ASI selama hanya dua bulan. Ibuku waktu itu keburu pergi tugas mengajar ke daerah jauh dan saya tidak mungkin dibawa serta. Sebagai ganti ASI aku pun diberi susu sapi oleh nenek dan bibi-bibiku. Saya segut sekali minum susu waktu itu, kata mereka. Sebotol sebelum tidur, saya kadang minta tambah. Itulah mengapa saya disebut anak sapi oleh bibi-bibiku.

Tapi itu semua sebenarnya tidak menjawab kenapa setelah rada besar saya jadi eneg sama susu putih.

Kembali ke susu kambing. Saya jadi ingat pernah berkunjung ke Jonggol Farm, pesantren wirausaha dan agribisnis milik pengusaha Muhaimin Iqbal di Jonggol, Bogor. Di sana mereka mengembangkan peternakan kambing susu dengan pakan khusus rumput alfafa. Kata orang dari Jakarta yang hadir di sana waktu itu, susu kambing susu yang diminum Nabi. Jadi baguslah kalau kita orang Islam minum juga. Orang itu lantas bicara khasiatnya yang konon lebih baik dari susu sapi yang lebih umum kita minum.

Menanggapi bicara orang Jakarta itu, kawanku bilang: betul memang susu kambing berkhasiat super. Kawan kami di kampus dulu pernah penelitian soal susu kambing saat skripsi. Dibantu susu kambing penderita diabetes bisa lebih lekas sembuh. Demikianlah, obrolan jadi seru dan menarik. Merembet ke mana-mana. Kami pun saling tukar alamat dan nomor telepon. Orang dari Jakarta itu bilang, di sana mereka payah cari susu kambing. Kalaupun ada, harganya mahal.

Di warung tenda itu, tadi malam, saya pun menghadapi segelas susu kambing. Di kertas pengumuman yang dibuat sedemikian rupa oleh si pedagang, harga susu kambing Rp 9 ribu, lebih mahal Rp 5 ribu dari susu sapi. Nah, susu sudah tidak terlalu panas. Saya angkat gelas pelan-pelan. Sebentar saya hirup aromanya, juga dengan perlahan. Sambil mengingat-ingat bau susu sapi buat membedakannya. Sambil bola mata saya bergulir ke samping. Sapi kartun yang nempel di badan gerobak terlihat sumringah.

Saya teringat ibu.

Maka malam itu si anak sapi minum susu kambing. Segelas penuh. Pelan-pelan dengan penghayatan. Perutnya jadi hangat. Dan di kepalanya terhampar padang rumput luas. Di sana kambing-kambing itu berlari-lari ringan cari makan di bawah matahari yang mulai naik sepenggalah.***

Monday, May 28, 2012

KE CIANJUR, 19 MEI


Dan Sabtu, 19 Mei, pagi jam 8, saya sampai di Cianjur. Kapan terakhir saya ke Cianjur? Rasanya sudah lama. Kota kecil yang hangat. Di sini waktu seperti merambat pelan. Pegal dua jam perjalanan sepeda motor, dengan sisa flu yang masih nempel, dibayar dengan suasana kota yang apik dan terang pagi itu.

Toko-toko dengan bangunan model lama di kiri kanan jalan. Orang-orang Sabtu pagi berjalan-jalan di trotoar. Tukang becak saya sapa; saya yakin dia tahu jalan terpendek menuju masjid agung. Dia tersenyum. Kacamata hitam model lama, besar, menyembunyikan matanya. (Saya bisa bercermin di kacamata itu.) Dua stopan ke depan, belok kanan, katanya.

Tiba-tiba itu pagi pada Cianjur saya jatuh hati. Diterangi matahari pagi, masjid agung terasa megah dan cerah. Di dekatnya alun-alun Cianjur. Air mancur di sebelah tengahnya. Di seberang jalan ada kantor pos. Saya suka warna oranye kantor pos. Dan pohon-pohon besar, ribuan-jutaan jumlah daun hijaunya, bergoyang-goyang bermain angin semilir. Dari arah sekolah SMA tak jauh dari sana, ada bebunyian drum band.

Tidak banyak teman-teman FLP Cianjur yang berkumpul pagi itu. Ada Deva, Resti, Annisa, Hade, dan beberapa kawan lain yang datang kemudian. Siju, ketua FLP Cianjur, sedang sakit. Dua bulan sebelumnya dia mengabari saya: Kang, Siju sakit. Semoga lekas sembuh, Siju, kubilang. Siju sakit typus, kata kawan-kawan FLP Cianjur. Sempat merasa sembuh, tapi kemudian kembali kambuh. Barangkali kecapaian.

Tanggal 19 Mei itu, Kang Yadi, pengurus FLP Jabar, tidak bisa hadir di masjid agung. Dia bilang sedang ada acara dari pagi hingga siang. Menjelang matahari meninggi, setelah kumpul dengan FLP Cianjur selesai, Yadi mengontak, bertanya apakah saya masih di Cianjur. Saya sedang makan mie ayam bareng Hade, tidak terlalu jauh dari masjid agung. Kubilang, oke, Kang Yadi, aku ingin mampir ke tepatmu. Hade mau turut.

Kang Yadi tinggal dekat bendungan Saguling. Kalau dari arah Bandung, kita belok kiri sebelum Jembatan Rajamandala. Tempat Kang Yadi secara administratif masuk Kabupaten Bandung Barat, tapi kami orang Cianjur, gitu kata Kang Yadi. Terasa rada jauh jarak dari jalan raya ke tempat Kang Yadi di Saguling. Jalan naik turun, tapi aspalnya sudah bagus. Kanan kiri kebun cokelat dan kopi. Kalau malam tentu saja sepi.

Lalu kami sampai di depan sungai besar, Citarum. Arusnya deras. Jembatan gantung warna merah melintang panjang ke seberang sana, hampir seratus meter. Kawat-kawatnya besar, alas jembatannya bilah-bilah kayu.

Kang Yadi tinggal di seberang sana. Desa Cihea, Kampung Bantar Caringin, Kecamatan Haurwangi, Cianjur. Ada seratusan lebih rumah. Penduduknya sekitar seribuan jiwa. Macam-macam pepohonan menyembul di antara rumah-rumah itu. Latarnya bukit dan hutan menghijau. Saya takjub. Saya selalu senang dengan suasana desa.

Dan tibalah kami di rumah itu. Ada seorang kakaknya. Orang tua Kang Yadi sedang di kebun; mereka petani, mengolah hasil bumi, sayur-mayur, umbi-umbian, yang mereka jual ke pasar. Dan, hey, ada harta karun di desa kecil seberang sungai ini. Di tembok depan rumah, dipasang spanduk Saung Baca KaYeDe. Di ruangan depan rumah itu, dua lemari penuh buku. Ada banyak novel, buku agama, filsafat, buku-buku kajian ilmu, dan beragam bacaan remaja. Beberapa buku yang ditulis Kang Yadi nyelip di sana. Jam buka Saung Baca KaYeDe: saban sore hari Senin, Rabu, dan Jumat. Anak-anak sekitar sini pengunjungnya. Mereka banyak baca novel-novel dan buku remaja.

Saya buka lemari buku yang berpintu kaca. Di antara buku yang ditata rapi itu, ternyata ada buku yang sudah lama ingin saya baca. Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial karangan Peter L Berger. Dan ada buku yang belum jadi juga kubeli kalau saya mampir ke pasar buku: Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Kang Yadi ngajak kami makan di pinggir Citarum. Nasi liwet dalam kastrol. Lauknya seadanya, tapi nikmat luar biasa. Ikan asin, ikan teri, goreng tahu, sambal, dan kerupuk yang dia ambil dari warung kakaknya di sebelah rumahnya. Alas makan: daun pisang dua lembar. Perut saya minta nambah terus. Saat kami makan, ada perahu karet lewat. Di sini sering ada orang berolahraga arung jeram.

Di kejauhan, dari atas batu tinggi, terlihat anak kecil meloncat nyebur ke sungai. Pasti bocah itu sudah kenal lika-liku sungai: letak batu-batu besar yang sembunyi di bawah air, arus air yang berbahaya kapan saja datangnya. Di air jernih rasanya ingin juga saya berenang, tapi mungkin tidak sekarang.

Hari beranjak sore. Sebelum balik ke Bandung, saya ambil buku dari rak Kang Yadi. Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.***

PS: Sekarang Siju dirawat di RS Cianjur; kondisinya kritis. Semoga Siju sehat kembali.

Friday, May 11, 2012

MAIN-MAIN YANG SERIUS


"Great things are done by a series of small things brought together."
(Vincent van Gogh)

Penyair Belanda, Hagar Peeters, menulis sebuah puisi bejudul “Janji”. Ia sederhana saja sebenarnya dan bahkan terkesan bermain-main, tetapi sebuah puisi yang berhasil selalu meninggalkan gaung di relung hati pembaca. Dan “Janji”, menurut saya, ialah puisi yang demikian.


The Café Terrace on the Place du Forum,
Arles, at Night
(Vincent van Gogh, 1888)
Aku lirik dalam “Janji” tengah menanti kekasihnya di sebuah restoran di sebuah kota. (Ia bisa Amsterdam atau Jakarta, Cairo atau Canbera; Hagar Peeters tidak menggiringnya secara spesifik, melainkan secara universal: puisi ini berbicara tentang manusia urban.) Tapi sang kekasih tidak kunjung datang padahal mereka telah saling berjanji. Lantas pikiran sang aku lirik pun mengalir ke mana-mana.

Barangkali sakit atau tertabrak trem, pikirnya. Itu logis, sangat mungin terjadi, di lingkungan keseharian mereka—meski dugaan tersebut ekstrem: apakah kini kekasihnya telah meninggal sehingga tidak bisa memenuhi janji? Atau telah terjadi hal-hal lain yang lebih “ringan”: karena ada orang menyapa di tengah jalan sehingga ia tertambat, atau lampu stopan tidak beranjak dari warna merah, atau ia bertengkar dengan bosnya di kantor lalu dipecat dan ingin menyepi sendirian saja, atau ia keasyikan menonton televisi, atau ia menunggu di tempat yang salah dan tidak ada telepon di dekatnya, atau....

Hagar piawai menyusun narasi imajinatif dalam puisinya. Ia mengeksplorasi segala kemungkinan yang dapat menimpa sosok kekasih yang dinanti itu. Lalu dengan jeli Hagar menjadikan tiga bait terakhir puisinya sebagai klimaks dan merupakan bagian sangat penting dalam “Janji”. Barangkali—kemungkinan terakhir/ yang tak terpahami dan tak terduga—/ dia tak lagi mencintaiku. Ya, penyair muda Belanda ini, Hagar Peeters, mengemas kuat gagasan cinta dalam “Janji”.

Kita mungkin bisa sepakat: berbeda dengan banyak perkara lain yang materialistik, cinta ialah energi hidup yang sulit dirasionalisasikan. Dalam “Janji”, Hagar menggambarkan hal itu. Umat manusia boleh melangkah jauh ke depan di dunia maju. Berpikir dan bertindak tanduk modern. Semua diandaikan dapat dihitung, dikalkulasi, dan diprediksi sedemikian rupa demi meraih kehidupan yang lebih baik. Tetapi, cinta agaknya selalu berhasil luput dari urusan matematis: ia bukan buat dihitung-hitung dan diduga-duga, melainkan lebih untuk dihayati dan dijaga. Ia hadir menyapa setiap orang kapan dan di mana saja berada, kemudian menawarkan sesuatu kepada mereka: keutuhan sebagai manusia.

Oleh karenanya, menurut saya, meski bernuansa humor dan bermain-main, “Janji” menjanjikan sesuatu yang serius: nilai transendensi dan spiritualitas manusia urban kontemporer. “Janji” yang melampaui ego zaman. “Janji” yang merindukan kekuatan-kekuatan di luar kuasa nalar. Saya teringat perkataan Vincent van Gogh, pelukis post-impresionis tersohor dari Negeri Tulip itu: But I always think that the best way to know God is to love many things.

Kita tidak pernah tahu apakah pasangan kekasih dalam “Janji” pada akhirnya berjumpa atau tidak di tempat yang telah mereka sepakati itu. Tapi memang bukan itu agaknya yang menjadi titik tekan “Janji” pada akhirnya. “Janji” Hagar mungkin memang meminjam hal-hal kecil keseharian manusia urban dengan ringannya, tapi larik-larik terakhir itu mengantarkan kita pada hal besar dan penting. Saya pun lagi-lagi teringat Vincent van Gogh: Great things are done by a series of small things brought together.

Wildan Nugraha

Janji - Hagar Peeters


Dia tak muncul.
Barangkali sakit atau tertabrak
trem, barangkali orang lain
menyapanya. Barangkali dia lupa jam tangannya
atau jam tangan lupa menunjukkan waktu.
Barangkali mobilnya tak mau menyala
atau rusak di tengah jalan.
Barangkali ada yang meneleponnya
tepat sebelum berangkat,
dengan kabar dia harus ke kremasi
atau bahwa ibunya meninggal.
Barangkali dia bertemu kenalan lama.
Barangkali dia sedang bertengkar di tempatnya kerja
kemudian dipecat dan menyembunyikan kepala
di bawah bantal. Barangkali jembatan membuka,
juga yang berikutnya.
Barangkali lampu lalu-lintas tetap merah.
Barangkali kartu banknya ditelan mesin uang
atau di tengah jalan dia lupa dompetnya.
Barangkali dia kehilangan kaca mata
tak bisa berhenti membaca
ada acara di TV yang ingin dia tonton sampai tamat
pintu rumahnya tidak bisa dikunci
dia kehilangan gepokan kunci,
dan tiba tiba anjingnya mulai muntah.
Barangkali tak ada telepon di sekitarnya,
alamat restorannya tak bisa dia temukan
atau dengan tak sengaja dia menunggu
di tempat berbeda.
Barangkali—kemungkinan terakhir
yang tak terpahami dan tak terduga—
dia tak lagi mencintaiku.

(Terjemahan Linde Voûte dan Agus R. Sarjono)


AFSPRAAK

Hij is niet op komen dagen.
Misschien werd hij ziek of liep hij
onder de tram, misschien sprak een ander
hem aan. Misschien vergat hij zijn horloge
of vergat het horloge hem de juiste tijd te geven.
Misschien wilde zijn auto niet starten
of begaf die het halverwege.
Misschien belde iemand hem juist voor hij vertrok,
met het bericht dat hij naar een crematie moest
of dat zijn moeder is overleden.
Misschien kwam hij een kennis van vroeger tegen.
Misschien had hij ruzie op zijn werk,
is hij ontslagen en heeft hij
zijn hoofd onder een kussen begraven.
Misschien stond de brug open, en ook de volgende.
Misschien bleef het stoplicht op rood staan.
Misschien heeft de pinautomaat zijn pasje ingeslikt
of bleek hij onderweg zijn portemonnee vergeten.
Misschien was hij zijn bril kwijt
kon hij niet stoppen met lezen
was er een programma op tv dat hij af wilde zien
kreeg hij zijn huisdeur niet op slot
kon hij nergens zijn sleutelbos vinden,
en begon plotseling zijn hond over te geven.
Misschien was er geen telefoon in de buurt,
kon hij het restaurant niet vinden
of zit hij per vergissing elders te wachten.
Misschien—de laatste onbegrepen
en onvoorziene mogelijkheid—
houdt hij niet langer van mij.


Tentang Penyair

Hagar Peeters lahir di Amsterdam, Belanda, 1972. Dia menempuh studi Sejarah Kebudayaan, Universitas Utrecht dan memenangkan the National Thesis Award 2001 untuk tesis terbaik yang ditulis di Belanda. Topik tesisnya adalah “Humanisasi Pengadilan Kriminal Belanda Sejak 1945”. Pada Mei 2002, sejarah biografis yang berdasar pada tesisnya akan diterbitkan. Pada 1999 terbit kumpulan puisinya yang pertama, Genoeg Gedicht over de Liefde Vandaag (‘Cukup sekian Puisi tentang Cinta Hari Ini’). Pada 2000, dia masuk nominasi dalam NPS Culture Award. Hagar Peeters banyak menampilkan sajak-sajaknya di Belanda. Pada Mei 2000, dia tampil membacakan sajak-sajaknya di Kepulauan Antilla (Dutch Antilles).

Tuesday, March 27, 2012

Pelatihan Editing Titikluang



DI BALIK SEBUAH TULISAN yang enak dibaca terdapat editor yang hebat. Di balik buku best seller pastilah ada editor yang hebat pula. Ringkasnya, tidak ada penulis yang bisa bekerja tanpa editor yang baik. Seorang editor memperbaiki naskah sebelum dipublikasikan. Di media massa, editor ialah hati nurani media; menyelaraskan sebuah naskah dengan visi, misi, dan rubrikasi media.

Editing adalah pekerjaan intelektual dan teknis. Intelektual karena ia membutuhkan wawasan memadai untuk validasi fakta dalam sebuah naskah. Teknis karena ia membutuhkan kecermatan dalam pilihan kata, kalimat, dan tanda baca. Dengan intelektualitas dan kemampuan teknis, editor menjadikan sebuah naskah menjadi hebat, layak siar, layak muat, enak dibaca, serta mudah dicerna pembaca.

Tentu saja, keterampilan editing pun sangat berguna jika Anda seorang penulis atau calon penulis. Dengan mempelajari ilmu dan teknik editing, Anda bisa menulis lebih cantik, apik, dan menarik.

MATERI PELATIHAN
  • Pengantar penerbitan: (a) mengenal dunia penerbitan dan perbukuan, (b) anatomi buku, (c) urgensi penyuntingan, (d) pengantar editing dan ruang lingkup kerja editor
  • Ejaan: (a) hyphenation, (b) widow line, (c) white river effect,
  • Tata kata: (a) kategori kata, (b) pengimbuhan kata, (c) frase, (d) istilah, (e) gaya selingkung
  • Tata kalimat: (a) unsur kalimat, (b) jenis kalimat, (c) kalimat efektif
  • Paragraf: (a) batasan paragraf, (b) struktur paragraf, (c) jenis paragraf
  • Wacana: penyuntingan dan penyajian

TUTOR ANDA
Topik Mulyana, S.S., M.Hum. Pengajar Bahasa Indonesia di pelbagai perguruan tinggi di Bandung, penulis dan penyunting buku, editor freelance di Sygma Examedia Arkanleema, DAR Mizan, Balai Pustaka, Salamadani, dll. Buku-bukunya yang telah terbit antara lain Lelaki Paling Romantis Sedunia (GIP, 2005), Hujan Luruh di Gigir Sunyi (FBA Press, 2006), Jurnal Seorang Pecinta (Pustaka Latifah, 2007), Melepas Dahaga dengan Cawan Tua: Hikmah-hikmah Islami Klasik untuk Generasi Modern (Salamadani, 2011).

PESERTA YANG DISARANKAN
Mahasiswa, pelajar, dan kalangan umum yang berminat kepada dunia buku, literasi, dan penerbitan.

JADWAL DAN TEMPAT
Jadwal: 6 Mei 2012-10 Juni 2012; setiap hari Minggu (6 x pertemuan), pkl 9.30-11.30 WIB
Tempat: Laboratorium Komputer Uninus (Universitas Islam Nusantara), Jl. Soekarno Hatta No. 530, Bandung

INVESTASI/BIAYA
Sebesar Rp 300.000/orang
Fasilitas: Modul & Sertifikat

PENDAFTARAN VIA SMS
Ketik: "[DAFTAR]*[NAMA]*[ALAMAT]*[EMAIL]"
Kirim ke: 0817613420 / 02292464249 / 08122173445.

PEMBAYARAN
Pembayaran biaya pelatihan dapat ditransfer ke salah satu rekening kami:
  • Bank Mandiri KCP Bandung Soekarno Hatta: 1300011402735 a.n. Wildan Nugraha
  • Bank Syariah Mandiri Cabang Bandung: 0077053818 a.n. Wildan Nugraha
Konfirmasikan pembayaran Anda melalui SMS ke nomor 0817613420.

Informasi lengkap silakan hubungi:
DIVISI PELATIHAN TITIKLUANG
Telp/SMS: Wildan (02292464249, 0817613420), Budi (08122173445)

Sunday, February 12, 2012

Selamat Tidur


Oleh Wildan Nugraha

“Wasalam. Selamat malam,” ucapku.
Kamu diam.
Di tempatku Siklus Djaduk memenuhi ruangan.
“Selamat tidur.”
“Tidak mau,” sahutmu tiba-tiba. “Aku takut tidur sekarang. Tidur adalah maut. Dan aku takut maut. Aku sedang ingin jujur dan tidak mau berbohong. Bahkan pada orang lain.”
“Selamat tidur,” ulangku, dengan nada terjaga, seolah tidak menggubris kekacauanmu yang sebenarnya mencemaskan: mengapa kamu tahu apa yang sedang kukacaukan?
“Kamu saja yang tidur,” jawabmu. “Kamu tidak takut maut, bukan?” tajam katamu, seperti ingin merincih sesuatu.
“Kamu merajuk. Tidur hanya maut sesaat,” kataku, lalu kugigit lidah.
“Apa bedanya sesaat dengan selamanya?”
Lengang sebentar. Pertanyaanmu seperti anak kecil yang kegirangan sehabis pintar membaca. “Kamu mau yang mana: mau kuanggap pertanyaanmu itu yang paling bodoh kudengar hari ini atau sebaliknya, yang paling cerdas sepekan ke belakang?” tanyaku, membebaskan ujung lidah dari geraham.
“Kamu berbicara tanpa berpikir. Itu kasar sekali.”
“Sebentar,” kataku menjeda. “Biar kubacakan apa yang sedang kukerjakan.”
Kamu diam.
Aku mulai membaca, “Aku selalu merasa terjebak begitu melangkah masuk buskota. Buskota adalah sebuah ruang akuarium dengan kekuatan besar penyedot manusia. Manusia-manusia itu dengan sukarela pada mulanya. Karena memang merasa perlu. Namun sesaat setelah tubuhnya melewati pintu, mereka telah terjebak laksana ikan di akuarium. Terjebak dan terpetakan. Dengan kadar membengkak, jadi terarahkan guna mencapai sesuatu tujuan tempat. Bisa sesaat, bisa lama, hingga selamanya. Untuk yang terakhir itu aku sesungguhnya tak menemukan cukup alasan untuk berada di dalamnya. Aku hanya sesaat sebagai ikan di akuarium itu. Namun sesaat terkadang lama. Ternyata tergantung kondisi yang terbentuk kemudian, dan aku merasa tidak memiliki kekuatan utuh guna memandang semua dalam genggaman pikiran: bukanlah tergantung mau kubawa ke mana kondisi itu kelak, tidak lantas tergantung bagaimana dan dari sisi mana aku menilik semuanya.”
Kamu diam. Aku yakin kamu sedang menahan tawa yang kantuk.
“Aku tidak mengerti,” katamu.
“Kamu bohong,” kataku.
“Aku memang mengantuk.”
“Selamat tidur.”
“Lanjutkan dulu.”
Aku diam.
“Halo?”
“Kan tidak mengerti?”
“Biar.”
Aku melanjutkan membaca, “Ya, aku telah kehilangan daya setiap kali melangkah masuk buskota. Barangkali aku telah kehilangan sebagian diriku setiap kali kakiku melangkah masuk kendaraan besar ini. Aku adalah seberapa bagian diriku saat berada di dalam badan buskota, untuk kemudian menemukan kembali keutuhan diriku kelak saat menjejak tanah di suatu tempat yang telah aku perkirakan. Maka kadang bila kusinggungkan kepalaku pada ranah rasionalitas, belahan seberapa bagian diriku yang tertinggal itu ialah makhluk niskala yang sakti. Ia mewujud sesuatu makhluk kasat mata bahkan bagi mataku sendiri. Ia bukan tertinggal tapi meninggalkanku. Melepas membelah pada suatu saat untuk menemukan kembali diriku, yang membuat aku merasa utuh kembali, pada suatu saat tertentu.” Aku berhenti membaca.
“Suaramu bergetar.”
“Aku sedang di bus.”
“Kapan kau turun?”
“Bila kau tidur.”
“Tidak lucu.”
“Tentu saja.”
“Ha-ha: haduh, ‘rasionalitas’....”
“Kamu punya usul?”
“Tidak sama sekali.”
“Bagus.”
“Sihir.”
“Apa?”
“Tidak.”
“Kamu melantur. Tidurlah.”
“Kamu saja.”
“Ya, aku tidak pernah takut untuk tidur.”
“Kamu bohong.”
“Benar. Aku tiba-tiba penakut.”
“Aku jadi ingin ke jalan.”
“Mau apa?”
“Nanti kulihat bus pertama, aku akan naik dan enggak akan turun lagi.”
“Kau melantur.”
“Karena aku sudah tidur.”
“Tunggu....”
Kamu diam.
Siklus berputar-putar di ruanganku.
“Biar kubacakan apa yang sedang kukerjakan,” katamu, berhenti diam.
“Aku mendengarkan,” kataku.
“Kamu memang bodoh.”
“Kamu juga.”
“Deret Mawar adalah Sebaris Luka Berwarna Merah.”
“Apa?”
“Judul.”
“Kasihan sekali. Lanjutkan.”
“Aku menggelar sajadah dan tiba-tiba sekelilingku taman bunga. Sampai salam dan rampunglah shalat malamku, sekitarku tetap taman bunga. Aku pun menjadi takut.”
“Lalu?”
“Selesai.”
“Selesaikan.”
“Aku ngantuk.”
“Selesaikan....”
Kamu diam.
Aku diam.

Bandung, 29 April 2007. 02:15
(Tribun Jabar, 27 Juli 2008)

Friday, December 30, 2011

Esai "Ruang Makna"


“Ruang Makna” majalah terbitan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU Bandung. Edisi 1 Tahun I (April 2011) mengangkat tema budaya instan; Edisi 2 Tahun I (Agustus 2011) mengolah tema kebermaknaan; dan Edisi 3 Tahun I terbit Januari 2012, membicarakan waktu sebagai tema utama. Esai berikut diambil dari rubrik Restropeksi “Ruang Makna” edisi perdana. “Ruang Makna” edisi perdana dapat diunduh di sini. Selamat membaca!

SILANG SENGKARUT

Oleh M. Irfan Hidayatullah

Jangan kau bayangkan kehidupan ini begitu mudah untuk dijalani karena ia adalah sebuah keteracakan sehingga diperlukanlah sistem dan aturan. Jangan kau anggap segala akan baik-baik saja padahal kau tak berusaha membuat hidupmu penuh perencanaan dan pemetaan. Jangan kau percaya bila ada yang mengatakan kau akan mendapatkan sesuatu tanpa melewati kerumitan tertentu karena di setiap alur kecil hidupmu ada banyak realitas yang silang sengkarut.

Pernahkah perasaan jengkel menghinggapimu saat kau berhadapan dengan kabel earphone gadgetmu yang berbelit-belit sementara kau perlu berkomunikasi sambil mengendarai mobil? Pernahkah kau uring-uringan saat adik, putra, istri, atau suamimu memiliki sifat rumit yang bertentangan dengan kehendakmu? Atau pernahkah kau merasa tergiur oleh sebuah benda yang ingin kaumiliki di sebuah etalase, sementara untuk mendapatkannya perlu usaha ekstra keras sehingga kau berharap turun keajaiban?

Fenomena kabel berbelit, benang kusut, ruang bagai kapal pecah adalah fenomena yang tak pernah absen dan (seolah) dihadirkan pada hidup kita tanpa kompromi. Walaupun suatu saat kita bermaksud menghindarinya ternyata harus dengan sebuah upaya. Kau yang rapih penuh perencanaan adalah kau yang diupayakan. Sementara itu, makhluk dan atau benda selainmu adalah mereka yang hadir dan potensial untuk menjadi silang sengkarut tepat di hadapanmu. Mereka adalah wujud ujian bagimu. Jadi, takada tempat bagimu untuk tidak berhadapan dengan bahaya laten silang sengkarut tersebut.

Begitupun dengan fenomena pertentangan antara harapan dan realitas. sebuah keadaan yang membuat kau takhabis pikir untuk menyelaraskannya. Wujud selainmu dengan karakter dan kehidupan mereka adalah sesuatu yang menuntutmu untuk merinci pola komunikasi yang berbeda-beda dan rumit. Istrimu sebelum kau nikahi adalah sebuah wujud yang terbiaskan oleh hasrat sehingga kau memandangnya hanya secara abstrak dan saat kau (diharuskan) mengenalnya lebih dekat ditemukanlah sesuatu yang unik dan rumit. Begitu pun dengan anak-anakmu. Walaupun kerumitan karakter mereka sebagian berasal dari dirimu, mereka hidup membawa sistem biologis-sosial-budaya tersendiri yang menuntut kau pahami. Belum lagi, saat berbicara tentang masyarakat, peradaban, dan ideologi yang mengisinya.

Adapun ketergiuran, hasrat, dan nafsu untuk memiliki dan menjadi sesuatu adalah sebuah permasalahan rumit lain lagi. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan relasi kau dengan manusia selainmu, tetapi juga dengan benda-benda dan nilai yang ada di dalamnya. Benda-benda dengan regulasi ekonomi yang sudah terindustrialisasikan. Karenanya, kau dihadapan benda-benda itu adalah hamba yang takbisa menyentuh mereka kecuali dengan tebusan materi atau strategi apropriasi lain. Dalam benda itu tidak hanya ada fungsi belaka tetapi menumpuk sekian banyak relasi sosialkultural-industrial yang menjadi mata rantai kelahirannya. Dalam sebuah baju mewah di sebuah etalase, misalnya, terdapat realitas industri rumahan yang mencari nafkah dengan memproduksi kancing. Begitupun dengan benda-benda lainnya, mewah atau tidak mewah, mahal atau tidak mahal. Semuanya memiliki nilai yang harus kau tukar dengan sebuah nilai juga dari dirimu. Oleh karena itu, ketergiuran, hasrat, dan nafsu harus diselaraskan dengan nilai yang disematkan pada sesuatu yang ingin, akan, dan atau harus kaumiliki. Jika tidak, kau adalah bagian dari silang sengkarut kehidupan ini.

Ya, silang sengkarut ini menurut saya adalah sebuah fitrah sebagaimana fitrah-fitrah negatif manusia dan kehidupan lainnya. Dan manusia telah dengan berani menerima tawaran-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumf yang berarti manusia telah berani mengambil risiko berhadapan dengan silang sengkarut itu, mengambil risiko untuk membenahi silang sengkarut ini. Namun, Tuhan Maha Penyayang. la tidak membiarkan makhluknya untuk bingung (dengan segala kelemahannya) menghadapi kehidupan. la memberikan software untuk melengkapi kemampuan manusia menyelesaikan berbagai silang sengkarut kehidupan. Ada software bawaan berupa hati nurani dan akal dan ada software yang bisa diunduh berupa tatakelola kehidupan berupa agama. Tidak hanya itu, Allah telah memilihkan wakilnya untuk manusia, yaitu para nabi dan Rasul. Lengkaplah sudah kasih sayang Allah pada manusia. Hanya saja manusia acap kali bersilang sengkarut dengan dirinya sendiri.

Begitulah kau dan aku adalah bagian dari silang sengkarut atau chaos itu, tetapi kau dan aku juga adalah agen penata sehingga terwujudlah kosmos. Dan kosmos adalah sebuah hakikat. Bukankah Allah telah menciptakan alam raya beserta isinya teratur? Suatu bencana akan tiba bila kosmos atau ruang teratur itu menjadi chaos atau bersilang sengkarut. Dan manusia bisa berperan pada dua sisi suasana kehidupan tersebut. Kau bisa menjadi pengacau dan bisa menjadi penata. Itu masalah pilihan jalan. Namun, dengan tuntunan yang diturunkan-Nya sudah semestinya manusia secara hakiki adalah agen penata. Adapun silang sengkarut yang bertingkat-tingkat itu adalah ujian-ujian yang diturunkan-Nya. Apakah manusia dapat ajeg atau tidak?

Salah satu ujian yang terpenting dari proyek penataan silang sengkarut ini adalah ketaksabaran. Saat kau ingin cepat selesai, cepat menuai hasil, cepat menikmati, saat itu pula kau sedang membuat silang sengkarut baru hadir di tengah kehidupan ini. Jalan-jalan pintas, budaya instan, dan hasratmu untuk memiliki segala dengan cepat adalah sebuah tindakan yang mengacaukan proses penataan dunia silang sengkarut di hadapan kita. Bisa jadi, bahkan, budaya instan itulah awal mula dari bencana silang sengkarut itu sejak alam raya dan manusia ini diciptakan. Karenanya, kesabaran dalam menghadapi proses adalah sebuah upaya membangun kosmos kehidupan. Kesabaran menata kabel gadgetmu, kesabaran memahami karakter orang terdekatmu, kesabaran menghormati proses dalam menghadapi dan meraih sesuatu. Wallahua’lam.***

Friday, December 09, 2011

UPGRADING WILAYAH FORUM LINGKAR PENA JAWA BARAT






















UPGRADING WILAYAH FLP JAWA BARAT
Pangandaran, 16-18 Desemeber 2011

Kegiatan Upgrading Wilayah FLP Jabar berupa pembekalan materi dan diskusi seputar literasi, keorganisasian, dan ke-FLP-an sesuai dengan tema utama dan tujuan yang diusung: membangun tradisi membaca yang kuat di Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Barat.

Para narasumber yang dihadirkan: Setiawati Intan Savitri (Ketua Umum FLP 2009-2013), Rahmadiyanti Rusdi (Sekretaris Jendral FLP 2009-2013), Topik Mulyana (Divisi Kritik dan Karya FLP 2009-2013), M. Irfan Hidayatullah (Anggota Dewan Pertimbangan FLP 2009-2013).

Penyelenggara kegiatan ini adalah Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Barat dan BPP (Badan Pengurus Pusat) FLP. FLP Jabar merupakan salah satu dari 37 (tiga puluh tujuh) wilayah FLP yang telah didirikan di seluruh Indonesia dan juga di mancanegara. Sampai saat ini FLP Jabar menaungi 11 (sebelas) cabang FLP di kota-kota di Provinsi Jawa Barat sejak berdirinya pada 17 Agustus 2003. Sebagai organisasi nirlaba tempat berkumpulnya para (calon) penulis, FLP berkeinginan memberikan pencerahan kepada masyarakat luas melalui tulisan.***

Saturday, November 26, 2011

Kontak FLP di Jawa Barat

1. FLP Bandung
Sri Al Hidayati
HP: 089656336446
Email: srial_8@yahoo.co.id

2. FLP Cianjur
Siti Juariah
HP: 085624051593
Jl. Raya Warung Kondang No. 14
RT 02/01, Desa Cikaroya
Kec. Warung Kondang, Kab. Cianjur

3. FLP Cirebon
Imam Miftahul Jannah
Jalan Ki Sura Jayaningrat
Dusun II RT 10/05 Desa Kaliwedi
Kab. Cirebon 45165
HP: 085224687997
imamibnu_raja@yahoo.com

4. FLP Garut
Irwan Munawan
Kampus STAIPI Garut
Jl. Aruji Kartawinata, Ciawitali
Desa Jayagra, Kec. Tarogong Kidul
Garut 44151
HP: 085294340344
irwan.islam@gmail.com

5. FLP Jatinangor
Wianti Aisyah
HP: 081564692008
wianti.aisyah@gmail.com

6. FLP Karawang
Dika Pramana
Jl. Nagasari No. 25 RT 01/02
Gg. Bojong  -  Karawang 41312
HP: 082113023221
toradavinci@rocketmail.com

7. FLP Kuningan
Fuji Astri Endah Lestari
HP: 085797297472
zee.anfield@gmail.com

8. FLP Majalengka
Oom Somara de Uci
Jl. Aryakamuning 19
Rajagaluh 45472
HP: 085224875171
pustakakemucen@yahoo.co.id

9. FLP Purwakarta
Rifki Mochamad Firdaus
Jln. RE Martadinata No. 5
Purwakarta 41115
HP: 087879734975
mr1fq@yahoo.co.id

10. FLP Subang
Iwan Septiantoro Khaeron
Jl. Raya Subang-Bandung KM 12
Ds. Tambangmekar, Jalancagak
Subang 41281
HP: 085723864487
iwanseptiantoro@gmail.com

11. FLP Sukabumi
Ujang Beni Ibrahim
Perum Nirwana Grha
Jl. Dewi Sinta H 41, RT 05/07
Dayeuh Luhur, Warudoyong
Kota Sukabumi
HP: 085722752016
ubiarroyyan@gmail.com

Wednesday, September 07, 2011

Pendaki



Pendaki gunung sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
Memproklamirkan dirimu pencinta alam
Sementara maknanya belum kau miliki

(Bait awal lirik lagu “Kepada Alam dan Pencintanya”
ciptaan Yan Hartland, dipopulerkan Rita Ruby Hartland.)

SAYA mengenal Andy sejak SMA. Kami mendaki Gunung Cikuray di Garut waktu itu. Meski berbeda sekolah, kami menjadi akrab dan hingga sekarang sering bertemu. Orangnya sederhana, apa adanya.

Semenjak kecil, ibunya adalah sekaligus ayahnya. Bapaknya tidak pernah bersama mereka, bahkan Andy belum pernah bertemu dengannya. Mungkin karena hal itulah, maka dia begitu menyayangi ibunya. Dengan kawan-kawan yang sehobi itu, kami pun sering melewatkan waktu bersama di luar aktivitas naik gunung. Kadang makan bareng di luar. Kalau begitu, hampir selalu sebelum pulang, Andy memesan makanan yang dibungkus. Buat Ibu di rumah, katanya.

Andy anak bungsu. Kakaknya dua, laki-laki semua. Keduanya sudah berkeluarga dan tidak tinggal lagi di rumah ibunya. Mereka sebenarnya bukan saudara kandung Andy. Bertanya soal keluarganya yang pelik, saya memang berhati-hati. Tapi Andy orang terbuka dan besar hati. Dia senang bercanda tapi kalem, dan polah remaja yang suka meletup-letup saya kira sudah lewat buatnya. Dia sudah punya anak sekarang. Lucu. Masih kecil. Gadis mungil itu bernama Zahra, persis julukan buat Fathimah puteri Rasululah, yang setelah dewasa menikah dengan Ali bin Abi Thalib.

Saya ingat, di sebuah masjid kecil di dekat rumah seorang perempuan yang kemudian menjadi istrinya, wajah Andy begitu cerah dan suaranya terdengar mantap saat dibimbing penghulu mengucapkan ijab kabul pernikahan. Andy dan istrinya masih muda. Kata Andy, target menikah memang usia 25 sampai 28. Tapi kalau usia 23 sudah bisa, mengapa tidak. Istrinya bernama Nia. Perempuan sopan berkerudung rapi. Mereka bertemu di tempat kuliah. Nia karyawati sebuah perusahaan swasta dan Andy belum punya pekerjaan tetap waktu itu. Mereka sama-sama mengambil kelas malam di sebuah sekolah tinggi manajemen dan informatika swasta di Bandung. Setelah Andy lulus dan mendapat gelar sarjana teknik, mereka menikah. Kuliah Nia tidak diteruskan, tetapi belakangan dia kuliah lagi, mengambil PGTK.

Sebelum menikah, sambil kuliah Andy mendapat pekerjaan di Savoy Homann, di bagian Engineering. Statusnya masih pekerja harian. Setelah lulus dan menikah, dan beberapa bulan sebelum Zahra lahir pada April 2007, Andy diangkat sebagai pegawai kontrak di hotel bersejarah itu. Kalau kebetulan Anda menginap di Savoy Homann, komputerisasi di hotel besar itu banyak dikerjakan Andy.

Ya, agaknya dia bukan orang malas dan suka menganggur. Dia selalu bekerja, apa pun itu, yang penting halal. Waktu SMA, Andy berjualan kue. Hampir setiap hari dia membawa kue bikinan ibunya ke sekolah. Keuntungannya lumayan, cukup buat ongkos sekolahnya sehari-hari. Selain berdagang kecil-kecilan itu, mulai kelas dua dia pun menyambi bekerja sebagai operator warnet (warung internet), yang dulu awal 2000-an mulai marak. Sejak itu, dia akrab dengan komputer. 

Selepas SMA, dia tidak langsung kuliah. Berhenti bekerja di warnet, dia pergi ke Tangerang sekitar setahun. Bekerja di perusahaan konsultan yang menangani proyek-proyek PLN di wilayah Tangerang. Saya merindukannya juga waktu itu. Mengobrol dengan Andy memang tidak terlalu hebat dan canggih, tapi dia tipe orang yang dapat dipercaya dan pintar menghibur. Suatu kali saat libur dia datang berkunjung. Waktu itu saya sendirian di rumah dan dia menginap. Keesokan paginya, saya tiba-tiba terserang sakit perut hebat. Andy tertawa-tawa saja sambil membikinkan bubur dan larutan oralit. Saya muntah berkali-kali dan sebentar-sebentar harus pergi ke kamar mandi. Kalau saya berkumpul dengan kawan-kawan, Andy hampir selalu menyulap kisah kecil itu jadi cerita pemancing tawa. Banyak lagi cerita lain yang dia punya. Andy memiliki ingatan detail yang bagus. Kalau sudah bercerita, saya suka heran dengan kekuatan ingatannya.

Kami memang sering saling berkunjung. Mungkin betul persaudaraan bukan perkara ikatan darah saja. Sebelum dia menikah, saya sering menginap di rumahnya. Kalau saya terbangun tengah malam di rumahnya yang kecil itu, saya suka mendapati ibunya Andy. Beliau rajin salat malam. Setelah salat, hampir setiap hari, dia mencuci baju. Pekerjaan itu memang sudah lama dijalaninya: menjadi pengasuh anak-anak mahasiswa yang kos di sebuah rumah kontrakan, tidak begitu jauh dari rumahnya. Selain memasakkan makanan, dia mencuci pakaian. Pekerjaan mencuci pakaian sering dibawa pulang. Malam-malam sebelum tidur, perempuan yang rambutnya sudah banyak memutih itu suka batuk-batuk hebat. Mungkin kecapaian dan sering masuk angin. Sekarang, di rumah Andy sudah ada mesin cuci.

Dulu, Ibu Andy senang mendengarkan ceramah Aa Gym. Setiap pagi selepas subuh, dia sering membunyikan radio kencang-kencang di kamar Andy di atas. Suara menjadi stereo sebab radio di bawah pun mengeluarkan suara yang sama. Andy dan saya yang sedang menginap segera bangun, lalu salat subuh. Kami kesiangan bangun karena terlalu banyak mengobrol malamnya. Pagi-pagi saya siap-siap kuliah, sementara Andy siap-siap bekerja ke Savoy. Sebelum pergi, saya melihat Andy salat lagi. Dia salat duha.

Makin akrab dengan Andy, maka tahulah saya. Di SD dia pernah menjadi ketua murid. Masuk SMP aktif berorganisasi di Pramuka dan OSIS. Kemudian, kelas tiga SMA dia ketua murid yang dijuluki Kepala Suku oleh kawan-kawannya. Waktu tulisan ini dibuat, dia dipercaya menjadi Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya. Saya pura-pura tidak percaya mendengarnya.

Bicara politik, dia bilang suka dengan semangat pergerakan kaum muda. Dulu waktu SMA, dia pernah ikut-ikutan demonstrasi dengan para aktivis PRD; diajak oleh seorang mahasiswa ITB yang tinggal di tempat kos yang diurus ibunya. Andy melihat gambar Che Guevara dengan tutup kepalanya yang khas. Sekarang dia bilang, pergerakan mereka memang terlihat seksi. Belakangan, dia dekat juga dengan salah seorang bekas mahasiswa yang pernah diurus ibunya. Tampak Mas Arif, demikian dia disapa, menginspirasi Andy. Dari cerita Andy, Mas Arif memang sesuai dengan namanya, arif. Pernah suatu saat Andy meminta saran buku apa yang enak dibaca. Mas Arif dengan lagak lugu dan santainya menyodorkan Al-Quran.

Pekerjaan Ibu Andy di rumah kos itu, mungkin sedikit banyak punya peran dalam perkenalan saya dengan Andy. Mas Ary, salah seorang mahasiswa di rumah kos itu, suka mendaki gunung. Dia pandai memotret. Salah satu album fotonya mengabadikan pemandangan Gunung Rinjani yang indah itu. Andy kecil yang suka dibawa ibunya ke rumah kos itu, kagum akan keindahan alam dalam gambar. Dunia atas yang hijau dan dekat dengan awan begitu indah meski dalam gambar, katanya. Apalagi aslinya!

Maka di SMA, Andy bergabung dengan perhimpunan pencinta alam. Hal itulah yang mengantarkan perkenalan kami di Gunung Cikuray; dan kemudian banyak gunung lainnya di Pulau Jawa kami daki bersama. Mendaki gunung, kata Andy, akan menampakkan karakter asli seseorang. Aktivitas itu melatih mental dan semangat kebersamaan, bukan sekadar jalan-jalan di saat senggang. Kita pergi bersama-sama dan pulang pun selamat sampai di rumah bersama-sama. Yang egois dan setia kawan, yang penakut dan pemberani, yang sembrono dan punya perhitungan, akan kelihatan. Mendapati karakter asli seseorang, kata Andy, akan memudahkan kita berinteraksi dengannya. Saya jadi ingat kalimat Umar bin Khatab, berpergian itu menguliti apa yang tersembunyi dari kepribadian dan akhlak kita.

Ya, pelajaran besar dari aktivitas mendaki gunung ikut membangun kepribadiannya. Kadang saya iri dengan dirinya yang bersahaja. Seperti keheningan alam terbuka yang dulu sering kami akrabi, dia tidak terlalu banyak berkata-kata. Andy buatku adalah sosok yang lebih banyak berbuat. Seperti soal mencintai ibunya itu, lalu saat dia menikah, dan belakangan soal memprioritaskan waktu buat keluarga dan lantas menjadi ketua RT­­—dia lakoni semua dengan kalem-kalem saja, sederhana, apa adanya.

Dia jarang lagi mendaki gunung meski yang dekat-dekat, tapi lebih banyak dalam kebersamaan dengan anak dan istrinya, dan masih tinggal di rumah ibunya yang kian sepuh. Kalau punya masalah dengan komputer, saya mengirim pesan meminta pertolongannya. Selalu dijawabnya, silakan datang. Sampai di rumahnya meski malam, mukanya cerah. Saya sering merasa malu. Dia telah lebih pendaki.*** 

Wildan Nugraha

Wednesday, June 16, 2010

Pelatihan Jurnalistik & Manajemen Majalah


PELATIHAN JURNALISTIK DAN MANAJEMEN MAJALAH
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jawa Barat

Kegiatan jurnalistik adalah kegiatan terapan yang dapat diaplikasikan pada banyak bidang, tidak terkecuali pada dunia kerajinan. Pengemasan data dan informasi di bidang kerajinan adalah salah satu upaya memajukan dunia kerajinan itu sendiri. Dengan terciptanya pelbagai media informasi berkat berlangsungnya kegiatan jurnalistik yang baik, beragam pihak stakeholder bidang kerajinan dapat mengakses data dan informasi yang dibutuhkan secara proporsional.

Dalam rangka menciptakan media informasi di bidang kerajinan yang didukung oleh kegiatan jurnalistik yang profesional serta dijalankan oleh sumber daya manusia yang kompeten, Dekranasda Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik (Kerajinan) dan Manajemen Majalah.

Bertempat di Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung, program pelatihan ini terbuka untuk umum dan gratis.

Pertemuan 1: Senin, 12 Juli 2010, pukul 14.30-17.30 WIB
Tema: Mengenal Dunia Kerajinan
Narasumber: Farid Muttaqin Juhaeri (Bidang Program dan Organisasi Dekranasda Jabar)
Tema: Filosofi, Kode Etik, dan Bahasa Jurnalistik
Narasumber: Salim Rusli (YPM Salman ITB, Redaksi Salmannews)

Pertemuan 2: Selasa, 13 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Penebitan dan Manajemen Majalah
Narasumber: Mamat Sasmita (Pemimpin Redaksi Majalah Cupumanik, Pendiri Rumah Baca Buku Sunda)

Pertemuan 3: Rabu, 14 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Berita dan Peliputan
Narasumber: Junardi Harahap (Dosen Universitas Padjadjaran)

Pertemuan 4: Kamis, 15 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Tentang Layout
Narasumber: Fathul Amin (Alumnus FSRD ITB, Desainer Media Massa)

Pertemuan 5: Jumat, 16 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Teknik Fotografi
Narasumber: Andrian (Fotografer Lepas)

Peserta dibatasi maksimal 15 orang
Proses seleksi: Rabu, 7 Juli 2010, mulai pukul 10.00 WIB
Tempat: Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung

Ketentuan peserta:
Minimal lulusan SMA
Diutamakan senang membaca dan menulis
Menyukai dunia media massa dan kerajinan

Contact person: Wildan (02292464249)

Pendaftaran:
VIA SMS
KETIK: DAFTAR(spasi)NAMA(spasi)UMUR(spasi)PEKERJAAN
KIRIM KE: 02292464249


Penyelenggara:
Bidang Program dan Organisasi
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jabar
Gedung Jabar Craft Center
Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung. Telepon: (022) 4203914

Pelatihan Manajemen Penerbitan Buku


PELATIHAN MANAJEMEN PENERBITAN BUKU
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jawa Barat

Mendirikan penerbitan pada hakikatnya mengemas ilmu dan informasi untuk disampaikan kepada khalayak yang memerlukan. Berbeda dengan media massa, seperti koran atau majalah, produk utama penerbitan adalah buku. Dibandingkan koran atau majalah, buku memiliki umur yang lebih lama.

Sebagai sebuah usaha yang menggabungkan bisnis dan idealisme, banyak komponen yang harus dihadapi sebuah penerbitan dalam menjalankan kegiatannya, antara lain para penulis/pengarang selaku produsen naskah, distributor dan toko buku selaku penyalur produk, percetakan selaku pemroduksi buku jadi, serta pembaca atau perpustakaan selaku konsumen buku. Dalam hal ini, mendirikan penerbitan ialah menghadapi jejaring industri perbukuan, yang di dalamya terdapat hubungan yang erat antarkomponen penerbitan buku.

Dalam rangka membangun kemampuan sumber daya manusia di bidang usaha penerbitan, Dekranasda Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Penerbitan Buku.

Bertempat di Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung, program pelatihan ini terbuka untuk umum dan gratis.

Pertemuan 1: Senin, 5 Juli 2010, pukul 15.30-17.45 WIB
Tema: Organisasi Penerbitan
Narasumber: Ali Muakhir (Penulis, Praktisi Penerbitan, Owner Line Production)

Pertemuan 2: Selasa, 6 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Wawasan Pernaskahan
Narasumber: Anwar Holid (Penulis, Penyunting, Publisis)

Pertemuan 3: Rabu, 7 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Anatomi dan Produksi Buku
Narasumber: Sugeng Praptono (Editor, Praktisi Penerbitan, Pemilik Pustaka Giratuna)

Pertemuan 4: Kamis, 8 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: “Print on demand”
Narasumber: Tarlen Handayani (Tobucil)

Pertemuan 5: Jumat, 9 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Promosi dan Pemasaran
Narasumber: Adrian Ramdani (Praktisi Penerbitan)

Pertemuan 6: Sabtu, 10 Juli 2010
Tema: Kunjungan Penerbitan

Peserta dibatasi maksimal 15 orang
Proses seleksi: Rabu, 30 Juni 2010, mulai pukul 10.00 WIB
Tempat: Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung

Ketentuan peserta:
Minimal lulusan SMA
Diutamakan senang membaca
Menyukai dunia penerbitan dan kerajinan

Contact person: Wildan (0817613420)

Pendaftaran:
VIA SMS
KETIK: DAFTAR(spasi)NAMA(spasi)UMUR(spasi)PEKERJAAN
KIRIM KE: 0817613420


Penyelenggara:
Bidang Program dan Organisasi
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jabar
Gedung Jabar Craft Center
Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung. Telepon: (022) 4203914