Wednesday, June 16, 2010

Pelatihan Jurnalistik & Manajemen Majalah


PELATIHAN JURNALISTIK DAN MANAJEMEN MAJALAH
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jawa Barat

Kegiatan jurnalistik adalah kegiatan terapan yang dapat diaplikasikan pada banyak bidang, tidak terkecuali pada dunia kerajinan. Pengemasan data dan informasi di bidang kerajinan adalah salah satu upaya memajukan dunia kerajinan itu sendiri. Dengan terciptanya pelbagai media informasi berkat berlangsungnya kegiatan jurnalistik yang baik, beragam pihak stakeholder bidang kerajinan dapat mengakses data dan informasi yang dibutuhkan secara proporsional.

Dalam rangka menciptakan media informasi di bidang kerajinan yang didukung oleh kegiatan jurnalistik yang profesional serta dijalankan oleh sumber daya manusia yang kompeten, Dekranasda Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik (Kerajinan) dan Manajemen Majalah.

Bertempat di Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung, program pelatihan ini terbuka untuk umum dan gratis.

Pertemuan 1: Senin, 12 Juli 2010, pukul 14.30-17.30 WIB
Tema: Mengenal Dunia Kerajinan
Narasumber: Farid Muttaqin Juhaeri (Bidang Program dan Organisasi Dekranasda Jabar)
Tema: Filosofi, Kode Etik, dan Bahasa Jurnalistik
Narasumber: Salim Rusli (YPM Salman ITB, Redaksi Salmannews)

Pertemuan 2: Selasa, 13 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Penebitan dan Manajemen Majalah
Narasumber: Mamat Sasmita (Pemimpin Redaksi Majalah Cupumanik, Pendiri Rumah Baca Buku Sunda)

Pertemuan 3: Rabu, 14 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Berita dan Peliputan
Narasumber: Junardi Harahap (Dosen Universitas Padjadjaran)

Pertemuan 4: Kamis, 15 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Tentang Layout
Narasumber: Fathul Amin (Alumnus FSRD ITB, Desainer Media Massa)

Pertemuan 5: Jumat, 16 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Teknik Fotografi
Narasumber: Andrian (Fotografer Lepas)

Peserta dibatasi maksimal 15 orang
Proses seleksi: Rabu, 7 Juli 2010, mulai pukul 10.00 WIB
Tempat: Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung

Ketentuan peserta:
Minimal lulusan SMA
Diutamakan senang membaca dan menulis
Menyukai dunia media massa dan kerajinan

Contact person: Wildan (02292464249)

Pendaftaran:
VIA SMS
KETIK: DAFTAR(spasi)NAMA(spasi)UMUR(spasi)PEKERJAAN
KIRIM KE: 02292464249


Penyelenggara:
Bidang Program dan Organisasi
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jabar
Gedung Jabar Craft Center
Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung. Telepon: (022) 4203914

Pelatihan Manajemen Penerbitan Buku


PELATIHAN MANAJEMEN PENERBITAN BUKU
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jawa Barat

Mendirikan penerbitan pada hakikatnya mengemas ilmu dan informasi untuk disampaikan kepada khalayak yang memerlukan. Berbeda dengan media massa, seperti koran atau majalah, produk utama penerbitan adalah buku. Dibandingkan koran atau majalah, buku memiliki umur yang lebih lama.

Sebagai sebuah usaha yang menggabungkan bisnis dan idealisme, banyak komponen yang harus dihadapi sebuah penerbitan dalam menjalankan kegiatannya, antara lain para penulis/pengarang selaku produsen naskah, distributor dan toko buku selaku penyalur produk, percetakan selaku pemroduksi buku jadi, serta pembaca atau perpustakaan selaku konsumen buku. Dalam hal ini, mendirikan penerbitan ialah menghadapi jejaring industri perbukuan, yang di dalamya terdapat hubungan yang erat antarkomponen penerbitan buku.

Dalam rangka membangun kemampuan sumber daya manusia di bidang usaha penerbitan, Dekranasda Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Penerbitan Buku.

Bertempat di Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung, program pelatihan ini terbuka untuk umum dan gratis.

Pertemuan 1: Senin, 5 Juli 2010, pukul 15.30-17.45 WIB
Tema: Organisasi Penerbitan
Narasumber: Ali Muakhir (Penulis, Praktisi Penerbitan, Owner Line Production)

Pertemuan 2: Selasa, 6 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Wawasan Pernaskahan
Narasumber: Anwar Holid (Penulis, Penyunting, Publisis)

Pertemuan 3: Rabu, 7 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Anatomi dan Produksi Buku
Narasumber: Sugeng Praptono (Editor, Praktisi Penerbitan, Pemilik Pustaka Giratuna)

Pertemuan 4: Kamis, 8 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: “Print on demand”
Narasumber: Tarlen Handayani (Tobucil)

Pertemuan 5: Jumat, 9 Juli 2010, pukul 15.30-17.30 WIB
Tema: Promosi dan Pemasaran
Narasumber: Adrian Ramdani (Praktisi Penerbitan)

Pertemuan 6: Sabtu, 10 Juli 2010
Tema: Kunjungan Penerbitan

Peserta dibatasi maksimal 15 orang
Proses seleksi: Rabu, 30 Juni 2010, mulai pukul 10.00 WIB
Tempat: Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung

Ketentuan peserta:
Minimal lulusan SMA
Diutamakan senang membaca
Menyukai dunia penerbitan dan kerajinan

Contact person: Wildan (0817613420)

Pendaftaran:
VIA SMS
KETIK: DAFTAR(spasi)NAMA(spasi)UMUR(spasi)PEKERJAAN
KIRIM KE: 0817613420


Penyelenggara:
Bidang Program dan Organisasi
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jabar
Gedung Jabar Craft Center
Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung. Telepon: (022) 4203914

Thursday, June 03, 2010

Seperti Permata


Talenta adalah anugerah. Ia indah seperti permata, berkilauan ditimpa cahaya. Talenta bintang penghargaan sejak lahir. Maka semua orang memilikinya. Meski tidak semua orang menyadarinya. Ada yang mengenali, merawat, memanfaatkannya. Sementara tidak sedikit yang malah mengabaikan, menelantarkan, bahkan merusak permata itu.

Mengenali, merawat, memanfaatkan talenta bukan persoalan sederhana. Seperti permata, ia bukan batu yang ada begitu saja. Ia diolah dari bahan mentah yang bahkan tidak mudah ditemukan. Orang harus menggali di bukan sembarang tempat. Orang harus membentuknya diiringi hitungan-hitungan tepat. Setelah jadi, ia pun diletakkan dan dipergunakan secara istimewa.

Dalam sebuah komunitas, semua individu memiliki batu permata itu: talentanya masing-masing. Jika komunitas itu organisasi, kumpulan manusia dengan visi atau tujuan bersama, maka talenta tiap-tiap anggotanya dipergunakan untuk meraih tujuan itu. Dalam proses meraih tujuannya, sebuah organisasi juga tidak lain sedang bergumul dengan talentanya sendiri. Demikian seterusnya bila kita memakinluaskan pemandangan. Ada talenta komunal, ada talenta individual. Selalu ada yang dibangun dan ada yang membangun.

Betapa pun penting, gagasan tersebut tentu saja bersifat abstrak, basis, paradigma atau model idealistik soal talenta. Demi mewujudkannya, mengkonkretkannya, diperlukan turunan-turunan berupa konsep, strategi, dan gerak nyata. Untuk itulah Talenta hadir di tengah sidang pembaca mulai Juni 2010 ini. Kami ingin bersama-sama menghadirkan permata itu: sebuah anugerah dari Sang Pencipta.

Kami mengangkat tema “SDM Saleh, SDM Produktif” di edisi perdana ini. Kami menganggap relasi antara kesalehan dan keproduktifan, dalam konteks SDM, bisa ekuivalen; senilai, sejajar, sepadan, sebanding. Oleh karenanya, di antara dua terma itu terdapat juga hubungan kausalitas dua arah. Yang pertama bisa menjadi indeks yang kedua, begitu pun sebaliknya. Kesalehan adalah indikasi keproduktifan, begitu juga keproduktifan adalah indikasi kesalehan.

Selamat membaca.*

Wildan Nugraha

Tuesday, March 09, 2010

Aura Jeihan



Aura Jeihan
menghimpun 18 tulisan tentang sosok Jeihan dan karya-karyanya. Lahir di Boyolali, 26 September 1938, Jeihan Sukmantoro merupakan salah seorang pelukis papan atas Indonesia. Selain melukis, ia pun menyajak. Tahun 1970-an, bersama sejumlah sastrawan Jeihan memelopori Gerakan Puisi Mbeling di Bandung.

Judul Buku: Aura Jeihan
Editor: Hikmat Gumelar & Atasi Amin
Penulis: Abdul Hamid, Baban Banita, Bulky Rangga Permana, D Zamawi Imron, Dedi Setiawan, Djasepudin, Fadly Rahman, Fega Maria, Harri Pratama Aditya, Hikmat Gumelar, Muhamad Aji, Muhamad Heychael, Siti Munawarah, Teha Sugiyo, Teddi Muhtadin, Topik Mulyana, Trisna Gumilar, Wildan Nugraha
Epilog: Ganjar Kurnia
Penerbit: Jeihan Institute, Bandung
Halaman: 205+xiii
Cetakan: I, Februari 2010

Friday, January 01, 2010

Rak Buku Lunuganga



Rak buku unik ini, “Lunuganga”, karya pasangan seniman instalasi asal Eropa Julie Mathias dan Wolfgang Kaeppner. Gagasan di baliknya adalah tentang lingkungan hidup dan gegar budaya yang dialami selama mereka melakukan perjalanan kerja di Lunuganga, Sri Lanka. Rak yang mereka rancang ini adalah upaya untuk menghadirkan nuansa rumah yang tergenang oleh banjir. Juga nuansa lahan hutan yang pelan-pelan rimbun oleh pohon. Di Sri Lanka mereka mengambil gambar pohon yang sebagaian terendam air, lalu menerjemahkannya menjadi rak yang, bagi mereka, memiliki kualitas rasa yang sama dengan sebuah telaga yang bertumbuh mengelilingi, pun dengan keheningan perabotan-perabotan Eropa.***

Wokmedia

Wednesday, November 11, 2009

Melihat Jeihan Melukis



Ayunan pertama melahirkan garis wajah Anne. Dan semua suara seolah surut. Yang bergerak hanya Jeihan mencipta garis-garisnya yang tegas. Detail-detail lalu muncul tak terduga: mata bolong (ciri khas lukisan Jeihan itu), hidung, garis kerudung, pakaian, kemudian bibir mungil berwarna merah. Pulasan warna-warna lalu menyusul. “Siapa namamu?” tanya Jeihan. “Anne,” jawab si model tersenyum. Jeihan, “Dobel ‘n’?” Anne, “Ya.” Dengan cat biru Jeihan merangkai nama itu. Juga, agak di kiri atas, di atas sapuan warna-warna, Jeihan menulis frasa ‘VIVA UNPAD’. Lalu, terakhir Jeihan menorehkan tandatangan dan tanggal hari itu di kanan bawah bidang kanvas.***

Sunday, June 14, 2009

forum kamisan & bengkel menulis flp bandung juni 2009




>>KAMISAN FLP BANDUNG JUNI 2009

4 Juni: Bincang Buku Seeking Truth Finding Islam (karya Anwar Holid) bersama Jaka Arya Pradana
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

11 Juni: Bincang Novel Max Havelaar (karya Multatuli) bersama Sugeng Praptono
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

18 Juni: Bincang Novel Di Bawah Lindungan Kaabah & Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (karya Buya Hamka) bersama Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

25 Juni: Apa Itu Hermeneutika bersama Topik Mulyana
Tempat: Ruang Bidang-bidang, Gedung Dekranasda Jabar (Jabar Craft Center) lantai 3, Jalan Ir H Juanda 19, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

>>BENGKEL MENULIS FLP BANDUNG JUNI 2009

7 Juni: Menulis puisi bersama Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

14 Juni: Menulis esai bersama Sri Al Hidayati
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

28 Juni: Menulis cerpen bersama Elan Suherlan
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 16.00-18.00 WIB

>>Informasi:
Dedi 08982292287
Ade 08996943194
Wildan 02292464249

------------------------------------
klik laman dekranasda jabar
http://www.dekranasjabar.com/

Thursday, May 28, 2009

Seeking Truth Finding Islam di Kamisan FLP Bandung


Diskusi Kamisan FLP Bandung
4 Juni 2009 pukul 16.00-18.00 WIB di selasar timur Masjid Salman ITB

Bincang buku:
SEEKING TRUTH FINDING ISLAM: Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat
Penulis: Anwar Holid
Penerbit: Mizania, 2009
Halaman: 184
Kategori: Biografi

Buku itu nanti coba dibahas sama Jaka Arya Pradana (Mahasiswa ITTelkom)
Buat kawan-kawan yang berminat ditunggu kedatangannya
Informasi: Dedi 08197932103, Wildan 0817613420

Tuesday, May 19, 2009

Negosiasi Sastra dan Industri

BERWAJAH dan berwujud pas-pasan, Minni ialah seorang gadis introver yang gemar membaca dan menulis dalam kesendirian. Ibunya membesarkan Minni seorang diri tanpa suami.

Sementara itu, dengan orang tua yang berkelimpahan materi, Meggy ialah gadis cantik yang cerdas dan kritis. Juga dia senang membaca. Namun, Meggy pandai bergaul dan tidak pernah ketinggalan tren.

Lalu ada Micky. Datang dari keluarga kecil yang harmonis dan cukup religius, dia adalah siswa SMU yang dicap aneh oleh kawan-kawannya. Micky merugi tidak pacaran atau sekadar nongkrong di mal, malah ia kerap menyepi dengan buku di kamarnya di malam Minggu.

Minni, Meggy, dan Micky. Tiga tokoh utama dalam Diary Minni, sebuah novel remaja karya Irfan Hidayatullah (2005), Ketua Umum Forum Lingkar Pena. Lewat novel ini, Irfan seperti ingin menggambarkan kegundahgelisahan remaja perkotaan dalam pencarian identitas. Ya, dalam novel yang tidak terlalu tebal ini, 152 halaman, terangkum beberapa karakter tipikal remaja perkotaan zaman kiwari dengan berbagai fenomenanya.

Misalnya, ada wacana tubuh di situ, tentang cantik atau tidak cantik. Ada budaya pop dengan MTV dan sebangsanya, siapa yang gaul dan tidak gaul. Juga ada fenomena broken home, alienasi, orientasi seks, keperawanan, dan pelbagai fenomena lainnya yang lazim didapati pada masyarakat kota yang disebut modern. Pun, Irfan memasukkan wacana kereligiusan dan spiritualitas dalam novel tipisnya itu.

Nilai-nilai ditemukan Minni dalam bacaannya yang luas, dari Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, hingga Pramoedya, TS Eliot, dan banyak lagi. Banyak konsep dan wacana bertebaran yang dapat diendus dalam Diary Minni, meski cukup terjaga dalam balutan ceritanya. Termasuk soal Islam dalam cernaan para tokohnya yang berusia remaja.

Ya, barangkali Diary Minni dapat diambil sebagai salah satu contoh kecenderungan sastra islami populer ala FLP. Selain Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman E Shirazy, tentu saja, yang dikenal luas di masyarakat. Benang merah yang bisa ditarik dari karya-karya mereka itu, ada kepedulian untuk menyampaikan gagasan lewat tulisan, lewat cerita, atau sebutlah, lewat sastra. Dan yang mereka ambil adalah jalur populer, jalur yang menjanjikan lebih banyak pembaca ketimbang sastra serius.

Gerakan cakrawala
Yang tengah berlaku bagi Minni, Meggy, dan Micky barangkali adalah sebuah bentuk dialektika. Sebuah dialog pencarian yang sebenarnya tidak bisa dibendung, untuk lantas menemukan bentuk-bentuk identitasnya yang tertentu. Sebuah identitas yang disadari. Identitas di dalam belantara kota.

Seperti itulah juga barangkali komunitas pengarang itu. Menuju sebuah identitas yang disadari itu, pengurus FLP menggiatkan Gerakan Cakrawala, gerakan membaca karya dan wawasan kebudayaan lainnya. Sebab, terburu-buru berpuas diri tentu bukan hal yang menguntungkan. Penulis-penulis FLP kini bukan saja mereka yang hanya baru ingin bisa menulis. Mereka adalah para Minni, Meggy, dan Micky yang mencoba melongok keluasan dunia terhampar di luar sana lewat jendela teks, atau lewat, sebutlah, sastra.

Maka, digelar rangkaian diskusi umum di berbagai kota. Salah satunya di Bandung, tempat cabang FLP juga hadir. Cukup menarik, sebab diskusi yang ditajuki Sastra dalam Budaya Massa itu hendak merespons sebuah polemik di sebuah surat kabar mengenai FLP itu sendiri. Tentang keluasan, keberbagaian, dan kemendalaman makna sastra islam yang terkesan tereduksi oleh kehadiran FLP dengan karya-karyanya yang pop.

Diskusi yang diselenggarakan di Auditorium Masjid Salman, ITB, 22 Maret 2008, itu menghadirkan Yasraf Amir Piliang, Safrina Noorman, dan Irfan Hidayatullah. Yasraf, pemikir pada Forum Studi Kebudayaan, FSRD ITB, membawakan makalah Sastra dan E(ste)tika Massa; Safrina Noorman, dosen bahasa Inggris UPI, dengan makalah berjudul Membaca dengan Sikap; dan Irfan Hidayatullah mengajukan Ispolit, Sebuah Negosiasi Budaya.

Yasraf membidik perbedaan sastra tinggi (adiluhung) dan sastra populer (yang lahir dari rahim budaya massa dan dikonotasikan berkelas rendah), yang pemikiran-pemikirannya dapat terjembatani oleh dialog yang kritis dan terbuka.

Dari sisi pendidikan sastra, Safrina antara lain menekankan agar seorang pembelajar memanjakan dirinya justru dengan menekuni keberagaman teks sastra, sebagai salah satu cara untuk meningkatkan sikap kritis.

Sementara itu mengutip Irfan yang mengajukan Ispolit (Islamic Popular Literature), memang bila terjebak pada simulakrum industri, negosiasi budaya yang dimaksud Ispolit menjadi sangat banal dan tidak menyentuh lagi.

Dari Bandung, rangkaian Gerakan Cakrawala pun terus berlanjut ke FLP di kota kota lain. Itu mungkin seperti Minni, Meggy, dan Micky. Mereka terus berdialektika.***

Wildan Nugraha

(Media Indonesia, Minggu, 17 Mei 2009)

Merayakan Literasi

Oleh Wildan Nugraha

FORUM Lingkar Pena lahir dari sebuah kerinduan masyarakat perkotaan akan keberislaman dan pesan-pesan religiusitas yang mudah dicerna.

Mereka adalah santri, tetapi bukan santri dalam pengertian tradisional dengan tradisi pesantrennya. Mereka rata-rata belajar ilmu-ilmu nonkeagamaan di kampus dan sekolah. Tempat mereka belajar dikepung mal.

Dalam mempelajari Islam, mereka membaca buku-buku yang terbatas, mengikuti kursus-kursus yang singkat, menyimak acara bincang-bincang televisi dan radio, rekaman video, dan belakangan membuka laman-laman internet. Pesantren mereka merupakan pesantren virtual.

Semangat untuk belajar Islam itu bergayut dengan kesenangan manusia untuk bercerita (dalam rangka berkomunikasi), terutama dengan berfiksi. Ya, mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan sastra atau bukan sastra.

Tidak mau ambil pusing dengan istilah sastra populer atau serius. Mereka hanya mengekspresikan pengalaman keseharian dalam menjalani kehidupan di perkotaan dengan segala fenomenanya, berikut paradoks dan kontradiksinya. Misalnya, mengenai gampangnya mereka melahap materimateri keagamaan yang telah dipadatkan, disarikan, diformulasikan itu. Mereka adalah para santri kota.

Helvy Tiana Rosa sadar akan hal itu. Perempuan pemrakarsa komunitas bernama FLP ini telah melihat kerinduan itu, lebih dari sekadar kerinduannya pribadi. Yakni kelak, entah kapan, melihat masyarakat Indonesia sukses menemukan kultur kepustakaannya yang kental dan ajek. Maka sembari hendak turut menyebarkan pemikiran keislaman, menjelang tumbangnya rezim otoriter Orde Baru. Saat itu, mulai banyak komunitas berlahiran sembari merayakan ideologi masing-masing tanpa kekang berarti. Pada 22 Januari 1997, Helvy bersama beberapa rekannya mendirikan FLP di Masjid Ukhuwah Islamiyah, kampus UI Depok.

Mencintai buku
FLP memang menemukan sumber geraknya, yakni aktivisme Islam. Tapi mereka mengarahkan energi itu kepada gerakan yang pesannya universal, mencintai buku, membiasakan diri membaca dan menulis. Tidak lebih. Mencoba menginklusifkan diri, keanggotaan FLP bersifat terbuka tanpa membedakan ras maupun agama.

Mungkin kerinduan tadi pun terakomodasi oleh prinsip Islam rahmat buat semua. Sebab pada perkembangannya, banyak orang yang tertarik dengan sendirinya; berdirilah kemudian FLP wilayah dan cabang di banyak tempat, sampai di mancanegara, tempat di sana banyak mahasiswa dan TKW kita belajar dan bekerja. Konon, kini total anggota FLP mencapai lebih dari 5.000 orang. Puluhan penerbit bermitra dengan mereka.

Dapat dibilang, ribuan orang itu merupakan ceruk pasar yang bagus dari kacamata industri. Maka, fenomena booming fiksi islami di negeri ini (beberapa waktu yang lalu) yang ditandai dengan laku kerasnya Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy, misalnya, mungkin punya keterkaitan erat dengan keberprosesan FLP. Bila benar, wilayah industrilah, ternyata, dengan orientasi kapitalnya, yang lebih pesat berkembangnya pada FLP ini. Sementara itu, wilayah lainnya, seperti ruang pemikiran atau sebutlah kesastraannya, belum terlalu diseriusi, atau lebih tepatnya masih menyisakan ruang yang lebih lengang.

Tetapi hal itu memang tidak terlalu menjadi soal yang rumit buat para penulis FLP. Karena menulis, bagi mereka, adalah bagian dari ibadah, yang tentu saja memendam keluhungan tersendiri. Bila cahayalah yang hendak mereka raih dan tawarkan, cahaya itu adalah cahaya yang sederhana.

Cahaya rahmatan lil alamin dalam wajah kesederhanaannya, sesuatu yang lebih mewah dirindukan masyarakat perkotaan dengan segala kesibukan aktivitas mereka. Wallahualam.***

Wildan Nugraha
Koordinator Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung

(Media Indonesia, Minggu, 17 Mei 2009)

Wednesday, May 06, 2009

Diskusi Kamisan FLP Bandung Mei 2009


Catatan Harian: Sebuah Kebelumsudahan

Sebutlah membaca catatan harian adalah membaca kebelumsudahan. Maka buku-buku yang berisi kumpulan catatan harian agaknya tetap menarik buat dibaca kembali. Ambilah misalnya yang tidak terlalu sulit diingat seperti Catatan Seorang Demonstran. Buku itu pernah terbit dengan sampul Nicholas Saputra ketika Mira Lesmana merampungkan film Gie pada 2005.

Sebuah buku catatan harian lainnya yang terkenal adalah Catatan Harian Anne Frank. Berapa banyak sudah orang membacanya di seluruh dunia dan terinspirasi. Berapa banyak sudah komentar positif atau sebaliknya mengenainya. Maklum, isu seputar kekejaman Nazi memang sepertinya diciptakan sejarah untuk terus diperdebatkan. Ada satu hal tapi. Anak kecil bernama Anne itu berbicara tentang keinginannya menangis sendirian saja tanpa ada yang mengganggu, misalnya, kemudian keluar rumah untuk melihat awan di langit sambil berlari-lari kecil dan tersenyum megah, tapi ternyata perang terus berkobar.

Ambilah juga buku Pergolakan Pemikiran Islam misalnya. Ahmad Wahib menuangkan gagasan-gagasannya. Itu sebuah buku yang menghebohkan pada masanya karena dianggap berbahaya. Sebuah buku yang diklaim oleh sebagian kalangan dapat menyesatkan pemikiran Islam, namun oleh sementara pihak disebut memang menyodorkan kebelumsudahan ide-ide. Ya, barangkali karena itu "hanyalah" sebuah catatan harian.

Ada juga buku Memoar Hasan Al-Banna. Sebenarnya dalam perbedaannya dengan apa yang terhidangkan oleh buku Wahib ada juga titik temunya: Al-Banna mempertanyakan dan ingin mendobrak sesuatu. Yakni kebimbangan dan bahkan kejumudan manusia yang lebih diombang-ambing hitung-hitungan Bumi. Ya, sebab kebelumsudahan bagi Al-Banna adalah kebelumsudahan hitung-hitungan Langit memperindah moral manusia yang kerap dibayangi keraguan. Alhasil, catatan-catatan itu dibaca sebagian kalangan aktivis Islam dengan tekun sebab ada sosok paragon di situ, yang punya kelebihan.

Ya, sebuah catatan harian sebenarnya merekam juga banyak kebelumsudahan sebuah persona atau malah sebuah zaman, generasi, cita-cita, semangat. Menarik sebenarnya membaca mengapa mimpi-mimpi yang dicantelkan setinggi langit ala Al-Banna kadang terkontraskan dengan keragu-raguan seorang Ahmad Wahib tatkala sama-sama menalar dan mengukur ketauhidan diri dan umat dengan pelbagai aktivisme mereka. Mengapa pula kepayahan yang polos seorang Anne yang curhat terus kepada Kitty tampaknya belum sudah juga hingga kini: apa sebenarnya yang terus-terusan diperangi orang-orang di luar itu. Pun mengapa masih gampang saja ditemui apa yang pernah dijumpai Gie di negeri ini, kemelaratan yang menistakan rakyat jelata di seberang kedigdayaan penguasa yang berjas dan berdasi. Ya, barangkali karena sebuah catatan harian adalah sebuah kebelumsudahan.***

Diskusi Kamisan Forum Lingkar Pena Bandung Mei 2009

Kamis, 7 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Catatan Seorang Demonstran (Soe Hok Gie)
Narasumber: Oky Syeiful Rahmadsyah, S.Sos, M.H. (Eksponen Mahasiswa Angkatan ’98, Sekretaris Forum Aktivis Bandung)
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7 Bandung

Kamis, 14 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Catatan Harian Anne Frank
Narasumber: Riki Cahya (Sekretaris FLP Jabar)
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7 Bandung

Kamis, 21 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib
Narasumber: Sugeng Praptono (Pustaka Giratuna)
Tempat: Selasar Timur Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7 Bandung

Kamis, 28 Mei 2009, pukul 16.00-18.00 WIB
Memoar Hassan Al-Banna
Narasumber: Dedi Setiawan (Mahasiswa ITTelkom)
Tempat: Ureshii Book Corner, Jalan Bali 6, Bandung

Acara terbuka untuk umum dan gratis
Informasi: Wildan (0817613420 & 02292464249)

Tuesday, May 05, 2009

Obituari Rinrin Migristine


Innalillahi wa innailaihi rajiun. Ahad, 3 Mei 2009, Rinrin Migristine, anggota Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bandung, meninggal dunia sekitar pukul 04.00 WIB di RS Muhammadiyah dalam usia 29 tahun dikarenakan sakit. Jenazah dikebumikan di TPU Sirnaraga, Kota Bandung. Semoga segala amal ibadahnya diterima Allah SWT. Keluarga besar FLP Bandung mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan dikaruniai ketabahan.

Selain di FLP, semasa hidupnya Rinrin, alumni FISIP Unpad kelahiran Bandung, 31 Januari 1980 itu, aktif mengelola buletin Bina Ginjal, sebuah media komunikasi bagi, sebagaimana juga dia, para pasien gagal ginjal di kota-kota di Indonesia. Oleh sebab itu Rinrin adalah inspirasi bagi kami. Dia tetap aktif menulis, untuk kemanusiaan. Pada hari wafatnya, 3 Mei 2009, itu sebuah harian, Tribun Jabar, di kota kami memuat sebuah cerpen, "Angin dan Bunga Rumput", yang berbicara tentang kematian dengan dalam dan indah. Pada Ahad itu kami semua, ribuan orang bahkan mungkin, membacanya. Sementara tidak penulisnya sendiri, Rinrin Migristine.

Oleh sebab itu dalam duka yang mendalam, Rinrin adalah sebuah inspirasi. Hingga kapan pun.

FLP Bandung

Thursday, April 09, 2009

Kartini dan Politik Etis


Diskusi Kartini memang menarik sangat. Sri yang kemarin ngisi Kamisan banyak cari info di internet. Dia menemukan sebuah diskusi yang kayaknya sudah usang buat sebagian orang, bahwa sosok Kartini itu tidak bisa lepas dari kepentingan politik etis pemerintahan kolonial Belanda.

Bahkan, ada yang mencurigai bahwa surat-suratnya banyak yang direkayasa (atau minimal disensor dan bahkan ditambah-tambahi) oleh Nyonya Abendanon atas instruksi pemerintahan Belanda. Dan memang, konon ada seorang guru besar dari UI yang memeriksa kelogisan surat-surat Kartini: bila betul beratus-ratus halaman itu semua dikerjakan Kartini dalam empat tahun pada akhir hayatnya, hebat sekali! Tapi, mungkinkah seluar biasa itu?

Ya, dan ini memang sangat menarik. Ada buku terbitan Asy Syaamil tahun 2001 soal Kartini. Judulnya Tragedi Kartini: Sebuah Pertarungan Ideologis, kalau taksalah. Buku kecil dan tipis karya Asma Karimah itu saya rasa bagus dibaca buat melengkapi pengetahuan kita soal Kartini. Terutama tentang kaitannya dengan Islam.

Ya, saya kira memang wajar Belanda punya kepentingan besar kepada Kartini. Dan tentu diskusi akan menarik kalau dirembetkan kepada pejuang perempuan lainnya di Nusantara: Cut Nyak Din, Dewi Sartika, misalnya. Pasti banyak orang yang sudah membahas hal ini.

Wildan
---yang jatuh cinta pada Kartini :)

Sunday, March 29, 2009

Diskusi Kartini di Kamisan FLP Bandung


Kamisan Forum Lingkar Pena Bandung
Diskusi Buku Habis Gelap Terbitlah Terang RA Kartini
Kamis, 2 April 2009, Pkl 16.00-18.00 WIB, Selasar Timur Masjid Salman ITB
Jalan Ganeca 7, Bandung. Pembicara: Sri Al Hidayati (Mahasiswi Teknologi Pendidikan, UPI)

Kartini. Ia lahir di Mayong, Jepara, 21 April 1879. Di hati dan kepalanya tersimpan kegelisahan tentang kehidupan rakyat yang terbelakang dan minimnya pengajaran bagi para perempuan. Habis Gelap Terbitlah Terang merekam sebagian surat-suratnya kepada beberapa sahabatnya. “Panggil aku Kartini saja,” tulis Raden Ajeng Kartini kepada Steila M Zeehandelaar, sahabat pena pertamanya. “Pendidikan mutlak perlu untuk mengangkat derajat perempuan Indonesia,” cetusnya kepada Rosa Manuela Abendanon. Kartini. Hidupnya singkat—meninggal dalam usia 25 pada 17 September 1904—tapi pemikiran-pemikirannya progresif menjangkau masa depan.

Saturday, December 20, 2008

Kamisan FLP Bandung

Assalamu’alaikum, Kawan-kawan
Ini jadwal Kamisan FLP Bandung
Buat Desember dan Januari
Barangkali Kawan mau mampir mengobrol
Sambil menunggu magrib di Kamis sore


Kamisan FLP Bandung Desember 2008

1) Kamis, 4 Desember 2008
Bincang Novel
Robinson Crusoe (Daniel Defoe)
Pemateri: Wildan Nugraha
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

2) Kamis, 11 Desember 2008
Bincang Buku
Hayy bin Yaqzhan (Ibn Thufayl)
Pemateri: Topik Mulyana
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

3) Kamis, 18 Desember 2008
Bincang Puisi
Puisi-puisi Joko Pinurbo
Pemateri: Riki Cahya
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

4) Kamis, 25 Desember 2008
Bincang Cerpen
Senyum Karyamin (Ahmad Tohari)
Pemateri: Wildan Nugraha
Tempat: Ureshii Book Corner


Kamisan FLP Bandung Januari 2009

1) Kamis, 1 Januari 2009
Wawasan Sastra
Perayaan Kekonyolan dalam Sastra Indonesia
(Fenomena Posmodernisme dalam Sastra Indonesia)
Pemateri: Topik Mulyana
Tempat: Ruang Utsman, Gedung Kayu, Masjid Salman ITB

2) Kamis, 8 Januari 2009
Bincang Buku
Atheis & Manifesto Khalifatullah (Achdiat K Mihardja)
Pemateri: Mgs Ahmad Ramadhani
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

3) Kamis, 15 Januari 2009
Sastra Dunia
Cerpen Yasunari Kawabata
Pemateri: Wildan Nugraha
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

4) Kamis, 22 Januari 2009
Sastra Dunia
My Name is Red (Orhan Pamuk)
Pemateri: Sugeng Praptono
Tempat: Selasar Timur Salman ITB

5) Kamis, 29 Januari 2009
Bincang Puisi
Tuhan, Kita Begitu Dekat (Abdul Hadi WM)
Pemateri: Teny Indah Susanti
Tempat: Ureshii Book Corner

---------------------------------------------------------------------------------
Diskusi Kamisan Forum Lingkar Pena Bandung | Setiap Kamis sore pukul 16:00–18:00 WIB
Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung | Ureshii Book Corner, Jalan Bali 6, Bandung

Sunday, November 16, 2008

pelatihan cd-mph

Penulislepas.com, Sekolah Menulis Online, bersama Titikluang Organizer akan menyelenggarakan Pelatihan ''Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat''. Acara akan berlangsung pada Sabtu, 29 November 2008 di GSS E Salman ITB, Jl Ganeca 7, Bandung. Pemateri Jonru (Founder penulislepas.com & belajarmenulis.com, Mentor Sekolah Menulis Online) & Epri Abdurahman (Founder Komunitas Puisi FLP, Penulis Buku Kumpulan Puisi ''Ruang Lengang''). Informasi dan pendaftaran hubungi Wildan (0817613420), Farid (02292925434).

Thursday, October 09, 2008

memindai papandayan




Ke Garut Sabtu siang kita Memindai Papandayan
Bermalam di Cisurupan sebelum Ahad pagi kita
Berjalan sekira lima kilometer. Meniti tanah setapak
Melewati kebun penduduk, menembus rimbunnya hutan

Hiruplah udara penuh penuh, dengarlah juga
Daun daun itu: jalanan memang tidak datar
Menanjak dan menurun. Juga hujan mungkin menunggu
Digelar langit yang berkisah terus dan terus

Memindai Papandayan. Simaklah itu kaldera
Kawah rekah di sela batu dan tanah
Lalu rehatlah sejenak, ada sabana di ketinggian
Ada yang berkisah kepadamu
Tentang pohon yang tegak berdiri
Rumput dan ilalang yang menari
Bertumbuh terus dan terus

Angin menyiapkan banyak hal sedari dulu
Gambar gambar yang kelak kau pindai
Kisah kisah yang kemudian kau semai
Pada saatnya kau susun dan kau sebar terus dan terus

Memindai Papandayan. Guliran rihlah FLP Bandung
Insya Allah, Sabtu hingga Ahad, 18-19 Oktober 2008

Thursday, September 04, 2008

anak muda, film, & dakwah


Forum Lingkar Pena Bandung bersama Salman Films menggelar Talkshow, Workshop, dan Festival Budaya "Anak Muda, Film & Dakwah: Antara Naga Bonar Jadi 2, Ayat-Ayat Cinta & Sang Murabbi" pada Ahad, 21 September 2008 di Auditorium Abu Bakar (GSG Atas) Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung, pukul 08.00 - 15.00 WIB. Acara ini hendak menelaah dengan kritis upaya generasi muda Islam berdakwah melalui media film.

Bertindak sebagai narasumber dan moderator adalah Arief Gustaman (Naga Bonar Jadi 2), Iqbal Rais (Ayat-Ayat Cinta), Muhammad Yulius (Penulis Skenario Sang Murabbi), Yus R Ismail (Pengamat Film, Anggota Forum Film Bandung), Darlis Fajar (Ustadz), Wildan Hanif (Dosen dan Praktisi Film) M Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP), dan iQbal Alfajri (Salman Films). Acara dimeriahkan pembacaan puisi, nasyid, musikalisasi puisi, monolog oleh Iman Soleh, Deddy Koral, Ayi Kurnia, Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana, Semi Ikra Anggara, Gola, Ana Bilqis, Wedang Jahe, Tim Nasyid SMU PGII 2, dll.

Harga tiket masuk Rp 10.000. Gratis untuk 50 pendaftar pertama. Informasi dan pendaftaran di front office Masjid Salman ITB, Jalan Ganeca 7, Bandung. Contact person: Wildan (0817613420, 02292464249) dan Farid (08562250662, 02292925434).



http://am-fd.blogspot.com